Berita

Suasana di salah satu sudut di Turki di masa lockdown akhir pekan/CNN

Dunia

COVID-19

Cara Unik Negara Tangani Pandemi Virus Corona, Dari Lockdown Gender Hingga Kartu Covid

SELASA, 21 APRIL 2020 | 22:10 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pandemi virus corona atau Covid-19 membawa banyak perubahan drastis dalam berbagai aspek di seluruh dunia. Mulai dari ekonomi, sosial dan bahkan budaya.

Setiap negara dan wilayah di dunia memiliki cara dan kebijakan tersendiri untuk menganani pandemi tersebut. Banyak cara-cara serupa atau bahkan sama persis yang diterapkan antara satu negara dengan negara lainnya. Namun tidak sedikit juga negara yang memiliki cara unik atau berbeda dalam menangani penyebaran virus corona tersebut.

Berikut sejumlah negara dengan kebijakan yang tidak biasa dalam menghadapi pandemi virus corona saat ini:


1. Ruang kelas dua meter


Bagi sejumlah negara, sektor pendidikan adalah hal yang diutamakan. Termasuk bagi Denmark.

Negara ini membuka kembali sekolah pekan lalu segera setelah pemerintah mampu mengendalikan penyebaran virus corona di negara itu. Hal itu memberikan dampak besar. Karena dengan demikian, orangtua bisa kembali bekerja dan anak-anak bisa melanjutkan kegiatan belajar mereka.

Meski begitu, bukan berarti pembatasan tidak dilakukan. Pemerintah Denmark hanya mengizinkan siswa yang berusia di bawah 12 tahun untuk kembali masuk ke sekolah.

Selain itu, kegiatan belajar mengajar juga dilakukan dengan cara berbeda, yakni para siswa dibagi menjadi kelas yang lebih kecil, sehingga satu kelas hanya diisi oleh setengah dari total keseluruhan siswa.

Hal itu akan memungkinkan setiap siswa terpaut jarak dua meter saat belajar di kelas. Jarak itu dibuat untuk memberlakukan jarak aman demi menghindari penularan virus corona.  

Selain itu, waktu bermain siswa di luar kelas menjadi lebih lama. Setiap anak pun diwajibkan untuk mencuci tangan sesering mungkin dan setiap permukaan, termasuk wastafel, dudukan toilet, dan gagang pintu didesinfeksi dua kali sehari.

2. Kartu imunitas


Chili punya cara unik untuk menangani pandemi virus corona, Negara di Amerika Latin ini akan mulai mengeluarkan kartu kekebalan digital alias kartu imunitas minggu ini kepada orang-orang yang telah pulih dari virus corona. Kartu itu diberi nama "Kartu Covid".

Mulai pekan ini, kartu itu akan dikeluarkan otoritas kesehatan setempat untuk orang yang dites positif terkena virus dan yang telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, setelah karantina 14 hari.

Dikabarkan CNN awal pekan ini, konsep senada juga digaungkan di Inggris. Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock mengatakan pada awal bulan ini bahwa Inggris sedang mengkaji gagasan soal "sertifikat kekebalan", atau "paspor kekebalan". Tujuannya adalah untuk memungkinkan mereka yang memiliki antibodi baik untuk mendapatkan kemungkinan lebih banyak untuk mengembalikan kehidupan normal.

Sementara itu, direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular di Amerika Serikat Anthony Fauci baru-baru ini juga mengatakan bahwa gagasan untuk memberikan warga Amerika Serikat sebuah sertifikat kekebalan untuk membuktikan bahwa mereka telah dites positif untuk antibodi terhadap virus corona mungkin memiliki manfaat dalam keadaan tertentu.

3. Lockdon hanya di akhir pekan

Turki merupakan negara yang memberlakukan kebijakan lockdown alias penguncian nasional, namun hanya untuk akhir pekan.

Selama sepekan terakhir, pemerintah Turki mendorong agar mereka yang berusia di bawah 20 tahun atau lebih dari 65 tahun untuk berdiam diri di dalam rumah.

Selain mereka di kelompok usia tersebut, semua warga negara Turki sebenarnya secara teori diizinkan untuk keluar, meskipun banyak usaha kecil tutup. Namun banyak keiatan ekonomi masih berjalan, seperti restoran yang buka namun hanya untuk pengiriman atau pengambilan (take away).

Sementara itu, tempat umum seperti taman ditutup dan bank memiliki jam buka yang terbatas.

Serupa dengan Turki, Suku Navajo di Arizona juga memberlakukan lockdown akhir pekan yang ketat di mana para anggota suku tidak dapat meninggalkan rumah mereka.

Sementara di Libya, lockdown dilakukan di jam tertentu. Warga hanya diizinkan untuk berjalan ke luar rumah antara jam 7 pagi dan 12 siang dan toko hanya dibuka selama jam-jam ini.

4. Batasan khusus usia

Turki bukan satu-satunya negara yang telah memutuskan untuk membatasi pergerakan berdasarkan usia. Di Swedia, mereka yang berusia 70 tahun ke atas diminta tinggal di rumah.

Sementara itu,a wal bulan ini, para peneliti dari Warwick University di Inggris mengusulkan bahwa orang dewasa muda berusia 20-30 yang tidak tinggal bersama orang tua harus dibebaskan dari lockdown terlebih dahulu.

5. Lockdown berdasarkan gender

Presiden Peru Martin Vizcarra mengumumkan pada 2 April lalu bahwa pemerintahnya mengadopsi tindakan berbasis gender. Pemerintah Peru melakukan lockdown berdasarkan gender. Alasannya sederhana, karena hal itu dapat lebih mudah dideteksi secara visual soal siapa yang harus dan tidak boleh keluar di jalanan.

Aturannya, pada hari Senin, Rabu, dan Jumat, hanya pria yang diizinkan berada di luar rumah. Sementara pada hari Selasa, Kamis, dan Sabtu, hanya wanita yang diizinkan keluar rumah.

Panama juga melakukan langkah serupa, bahkan lebih dulu, tepatnya sejak 1 April.

Sementara itu, beberapa kota di Kolombia, termasuk ibukota Bogota, juga hanya mengizinkan pria dan wanita meninggalkan rumah pada hari-hari alternatif.

6. Nomor KTP

Beberapa wilayah di Kolombia punya cara unik lainnya dalam menangani pandemi virus corona. Beberapa kota, termasuk Cali dan Medellin hanya mengizinkan warga untuk meninggalkan rumah mereka pada waktu-waktu tertentu tergantung pada nomor KTP mereka.

Namun aturan ini memiliki pengecualian pada mereka yang memiliki pekerjaan penting, seperti tim medis.

7. Kerahkan drone
Beberapa negara telah menggunakan pesawat tanpa awak alias drone untuk memantau warga yang berada di bawah penguncian. Contohnya di Italia. Otoritas Penerbangan Sipil Nasional Italia (ENAC) mengotorisasi penggunaan drone untuk memantau pergerakan warga kembali pada bulan Maret.
Tidak lama setelahya, Inggris mengumumkan langkah-langkah penguncian pada akhir Maret.

Selain itu, perusahaan drone komersial Draganfly bulan ini bermitra dengan Departemen Pertahanan Australia dan Universitas Australia Selatan untuk mengerahkan "drone pandemi" untuk memonitor suhu, jantung dan laju pernapasan, serta mendeteksi orang-orang yang bersin dan batuk dalam kerumunan.

Bukan hanya itu, China dan Kuwait juga telah menggunakan "drone berbicara" untuk memerintahkan orang kembali ke rumah ketika berada di jalanan.

Populer

UPDATE

Selengkapnya