Berita

Zainal Bintang/Net

Publika

Maut Hitam Dan Runtuhnya Peradaban?

KAMIS, 16 APRIL 2020 | 13:41 WIB | OLEH: ZAINAL BINTANG

PENYEBARAN wabah virus corona baru atau Covid 19 (Corona Virus Disease 19) sejak Desember 2019 sampai saat ini terus meluas. Diberitakan hampir 200 negara telah terjangkiti wabah yang misterius itu. Penyebaranya yang masif dan menakutkan itu telah mencekam dan mencengkeram seluruh sendi kehidupan manusia di dunia.

Pakar kesehatan menyebut agresifitas wabah corona yang unpredictable (tak terduga) itu sejenis maut hitam atau black death. Tiap menit menelan korban yang positif terjangkit maupun yang meninggal dunia.

Maut hitam, disebut juga wabah hitam atau black death, adalah suatu pandemi hebat yang pertama kali melanda Eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 (1347-1351) dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi Eropa.


Pada saat yang hampir bersamaan, terjadi pula epidemi pada sebagian besar Asia dan Timur Tengah, yang menunjukkan bahwa peristiwa di Eropa sebenarnya merupakan bagian dari pandemi multiregional. Jika termasuk Timur Tengah, India, dan Tiongkok.

Maut hitam telah merenggut sedikitnya 75 juta nyawa. Penyakit yang sama diduga kembali melanda Eropa pada setiap generasi dengan perbedaan intensitas dan tingkat fatalitas yang berbeda hingga dasawarsa 1700-an.

Maut Hitam menimbulkan akibat drastis terhadap populasi Eropa, serta mengubah struktur sosial Eropa. Wabah ini mengakibatkan perburuan dan pembunuhan terhadap kaum minoritas seperti Yahudi, pendatang, pengemis, serta penderita lepra.

Ketidakpastian untuk tetap bertahan hidup menciptakan suatu kecenderungan yang tak sehat pada masyarakat untuk hidup hanya untuk hari ini, seperti digambarkan oleh Giovanni Boccaccio pada The Decameron (1353). (Wikipedia)

Media mainstream Indonesia bersamaan memberitakan, "memburuknya wabah virus corona mengharuskan pemerintah Indonesia mengambil sikap".

Presiden Joko Widodo, menyarankan setiap individu untuk menerapkan social distancing (jarak sosial) guna menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia. 'Social distancing' merupakan upaya membatasi gerak gerik setiap orang. Terutama berkunjung ke tempat ramai dan kontak langsung dengan orang lain.

Di Indonesia dikenal dengan istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Meskipun peraturan itu ditopang dengan tiga keputusan pemerintah yang ditandatangani Presdien pada 31 Maret 2020, faktanya tetap saja membingungkan masyarakat karena realisasi di lapangan yang ditangani menteri penanggung jawab sektor "tidak seindah warna aslinya".

Lebarnya jarak antara dimulainya penanganan WNI di Wuhan (01 Februari), dan diumumkannya dua wanita positif corona (02 Maret) serta dengan pengumuman ketiga peraturan soal PSBB (31 Maret), sempat membuka ruang kecaman dan keluhan yang menganggap pemerintah dalam hal Presiden dinilai lelet, lambat dan bertele-tele. Suatu situasi dan kondisi yang menyulitkan posisi Presiden di mata rakyat yang terjepit antara batang besi penyakit (kesehatan) dan tembok besar kelaparan (ekonomi).

Hampir tiap hari Jokowi tampil proaktif di layar televisi mengendalikan keadaan. Menyampaikan kebijakan demi kebijakan, namun hal itu nyaris tidak memberi arti apa-apa di lapangan, karena terganggu polusi narasi pembantunya yang sering simpang siur lalu saling menggergaji satu sama lain.

Meskipun dalam laman resminya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memakai istilah physical distancing yang diartikan menjaga jarak fisik atau jarak badan antar manusia, sehingga yang dihindari bukan kerumunan saja. WHO menganjurkan penggantian penggunaan frasa social distancing (jarak social) menjadi physical distancing (jarak badan).

WHO berdalih penggunaan frasa ini untuk mengklarifikasi perintah untuk berdiam diri di rumah demi mencegah virus corona. Bukan berarti kita memutus kontak dengan teman atau keluarga secara sosial. Dengan penggunaan frasa physical distancing, diharapkan imbauan yang dikeluarkan WHO lebih jelas. Yakni menjaga jarak fisik atau jarak badan untuk memastikan penyakit tidak menyebar.

Demikian masifnya pergerakan sang corona, saat ini di seluruh dunia telah terjadi "kekerasan" kepada peradaban. Termasuk di Indonesia. Sejumlah tata karma pergaulan dan etika berkomunikasi sesama umat manusia, yang pernah dilegalisasi oleh peradaban dengan dukungan kebudayaan dan keagamaan, - mau tidak mau -, atas nama "kekerasan" wabah virus corona, peradaban tertunduk terpaksa mengalami semacam restrukturisasi total.

Kewelas asihan dari kebudayaan dan kebajikan dari nilai agama, yang selama ini yang mengharuskan manusia di dunia hendaknya satu sama lain, saling memperdulikan, saling berkomunikasi, saling berbelas kasih dan saling berkasih - kasihan serta total compassion, pada akhirnya ambyar! Apakah dapat dikatakan "kekerasan" wabah virus corona telah meruntuhkan peradaban?!

Masyarakat diharuskan tetap di rumah, menerapkan pola hidup sehat, menjaga jarak badan dengan tidak melakukan kontak fisik dengan sesama. Semua upaya ini harus dilakukan untuk kemenangan dalam perang melawan Covid-19 yang kini terus meneror dunia. Saat ini, jangankan di jalanan, di dalam rumah kita pribadi pun; bersama keluarga sendiripun, masyarakat dianjurkan saling berjauhan, memelihara jarak badan (psychal distancing).

Kalau ditulis akan terbaca begini: penjarakan badan. Agak aneh tapi nyata: ketika awalan (pe) digabung dengan kata jarak ditambahkan akhiran (an) menjadi penjarakan, sebuah konotasi yang mengerikan lantaran benarnya: seketika manusia manusia menjadi narapidana tanpa berbuat kejahatan dan tanpa melalui pengadilan apapun namanya.  Manusia secara sukarela memenjarakan dirinya dan memenjarakan peradaban! Maka disinilah peradaban lama tidak berkutik. Terkapar disapu "relawan" maut hitam itu yang bernama corona.

Wartawan senior Kompas, Trias Kuncahyono dalam salah satu artikelnya menulis: Apakah pandemi Covid-19 ini akan mampu mengubah sifat orang yang senang menari di atas penderitaan orang lain dan memunculkan sikap beyond terhadap kepentingan diri dan seluruh kelompoknya? Apakah pandemi  Covid-19, akan mampu mengubah orang di negeri ini, yang dalam bahasanya Syafii Maarif-larut dalam pragmatisme politik yang tunamoral dan tunavisi-menjadi bermoral dan bervisi?

Tapi saya malah memilih untuk menanyakan ini, sesudah pandemik Cofid 19 ini benar-benar berakhir: Masihkah masyarakat bangsa ini kelak mampu tersenyum lebih indah lagi, sekalipun senyum itu hanya sekedar menunda tangis?

Penulis adalah wartawan senior, dan pemerhati masalah sosial budaya.

Populer

Panglima TNI Bantah Seskab Teddy Diperiksa Polisi Militer

Sabtu, 07 November 2026 | 09:32

Kapolri Suyudi Berpeluang dapat Serangan Balik

Jumat, 06 November 2026 | 04:27

Upaya Makar Geng Solo

Sabtu, 07 November 2026 | 05:07

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

UPDATE

Helikopter Pemadam Karhutla BNPB Jatuh di Sungai Barito

Minggu, 08 November 2026 | 14:30

Putin Pastikan Rusia-AS-Ukraina Kembali Berunding Pekan Depan di Abu Dhabi

Minggu, 08 November 2026 | 14:26

Plt Bupati Klaten Dicecar KPK soal Penerimaan Uang Hamenang dan Era Sebelumnya

Minggu, 08 November 2026 | 14:19

Al Aqsha Travel Gelar Akademi Marketing Haji untuk Perkuat Kompetensi Mitra

Minggu, 08 November 2026 | 14:02

Bahlil Ancam Tempuh Jalur Hukum Gegara Namanya Dikaitkan dengan Isu Penyadapan Prabowo

Minggu, 08 November 2026 | 13:47

Gempa 5,7 Magnitudo Guncang Jepang, 20 Orang Terluka

Minggu, 08 November 2026 | 13:42

Penyadapan Presiden Prabowo Biang Kerok Ekonomi Tidak Stabil

Minggu, 08 November 2026 | 13:28

Green Wakaf, Memperluas Manfaat Wakaf untuk Menjaga Kelestarian Alam

Minggu, 08 November 2026 | 13:08

Pengamat: Peran Seskab Teddy Strategis dalam Komunikasi Politik Pemerintah

Minggu, 08 November 2026 | 13:02

AS Siapkan Rp362 Miliar untuk Pembocor Informasi Nuklir Iran

Minggu, 08 November 2026 | 12:40

Selengkapnya