Berita

Nancy Polesi/Net

Dunia

Pernah Sobek Kertas Pidato Trump, Pelosi Kini Kecam Pencantuman Nama Presiden AS Pada Cek Bantuan Wabah Covid-19

KAMIS, 16 APRIL 2020 | 13:05 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

. Ketua Dewan Perwakilan Amerika Serikat, Nancy Pelosi, mengecam keputusan Presiden Donald Trump yang meminta agar namanya dicetak pada cek stimulus yang akan disalurkan kepada masing-masing orang Amerika sebagai bantuan di tengah wabah virus corona.

Pencetakan nama tersebut menjadi sebuah proses yang dapat memperlambat penyaluran dalam beberapa hari.

"Menunda penyaluran bantuan kepada orang yang membutuhkan hanya karena proses pencetakkan nama pada cek, sungguh contoh memalukan pemerintahan Trump dalam menangani krisis dengan urgensi yang dituntutnya," kata Pelosi dalam sebuah pernyataan, melansir The Washington Post, Kamis (16/4).


Pelosi dipandang sebagai orang yang kerap menkritik Trump. Ia juga pernah merobek-robek kertas pidato Trump di depan publik.

Sebelumnya, pada Selasa malam pejabat senior Internal Revenue Service (IRS) sebuah lembaga pemerintah federal Amerika Serikat yang mengumpulkan pajak,  mengatakan proses menambahkan nama Trump ke cek dapat memperlambat pengiriman mereka dalam beberapa hari.

Tetapi Departemen Keuangan membantah bahwa mencetak nama Trump pada cek menyebabkan penundaan.

Kebijakan seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Artinya ketika penerima membuka kertas cek senilai USD 1.200 itu, nama 'Presiden Donald J. Trump' akan muncul di sisi kiri. Ini akan menjadi pertama kalinya nama presiden muncul pada pencairan dana bantuan IRS.

Cek masih akan memiliki tanda tangan seorang pejabat Biro Layanan Fiskal. Nama Trump akan berada di baris memo di bawah garis yang mengidentifikasi cek sebagai "pembayaran dampak ekonomi."

Sebelumnya, IRS akan mengirimkan bantuan kepada orang-orang yang terdampak virus corona.

Cek dijadwalkan akan diterbitkan 5 juta setiap pekan sampai September, dimulai dengan pembayar pajak berpenghasilan terendah.

Sekitar 150 juta orang Amerika dan lainnya diperkirakan menerima bantuan.

Dana bantuan untuk warga AS juga meningkat dari awalnya sekitar US$100 per keluarga atau sekitar Rp16 juta menjadi USD 3 ribu atau sekitar Rp50 juta.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

UPDATE

Perang di Meja Runding

Kamis, 09 April 2026 | 06:16

Kecanggihan Alat Perang AS-Israel Bisa Dikalahkan

Kamis, 09 April 2026 | 06:04

Polisi di Jateng Dilaporkan Usai Rekam Polwan Mandi

Kamis, 09 April 2026 | 05:36

Tatanan Baru Dunia di Bawah Naungan Syariah Islam dan Khilafah

Kamis, 09 April 2026 | 05:26

Pemuda di Solo Tanam Ganja di Rumah

Kamis, 09 April 2026 | 05:10

Polda Sumsel Pamerkan 1.715 Unit Motor Hasil Curian

Kamis, 09 April 2026 | 04:20

Bandung Masuk 5 Besar Destinasi Wisata Terpopuler di Asia

Kamis, 09 April 2026 | 04:16

Pemprov Jateng Gratiskan Bea Balik Nama Kendaraan Bekas

Kamis, 09 April 2026 | 04:01

Mental Baja di Ujung Kiamat, Iran Tetap Berkata ‘Tidak’

Kamis, 09 April 2026 | 03:30

Jusuf Kalla Tersinggung Berat Omongan Rismon

Kamis, 09 April 2026 | 03:28

Selengkapnya