Berita

Ilustrasi lockdown/Disway

Nusantara

Mujiyono Demokrat Tawarkan Skema Pembiayaan Selama Jakarta Lockdown

MINGGU, 29 MARET 2020 | 22:54 WIB | LAPORAN: AHMAD ALFIAN

Sebagai wilayah yang  dinyatakan sebagai epicenter penyebaran Coronavirus disease (Covid-19), Jakarta terus di dorong untuk segera melakukan karantina wilayah atau lockdown. Hal tersebut penting dilakukan untuk menekan penularan Covid-19 semakin meluas.

Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi Demokrat, Mujiyono menawarkan alternatif skema biaya penyaluran bantuan jika Jakarta diputuskan lockdown atau karantina wilayah. Usulan tersebut  diharapkan bisa mengcover warga dengan resiko rendah hingga resiko terburuk yang harus ditanggung pemerintah.

"Sebenarnya selama dalam karantina wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab pemerintah pusat. Tapi baiknya, Pak gubernur DKI Jakarta segera bersikap, karena Jakarta butuh lockdown 14 hari saja agar corona tidak meluas," ujar Mujiyono, di Jakarta, Minggu (29/3).


Anggota DPRD DKI Jakarta tiga periode ini pun menawarkan sejumlah skema pembiayaan lockdown yang bisa menutupi kebutuhan masyarakat selama masa karantina.

Mulai dari pemberian bantuan makanan untuk warga penerima subsidi dengan memberdayakan ojek online, pemberian bantuan dengan jalur RT/RW hingga bantuan makanan untuk seluruh penduduk Jakarta.

"Ada tujuh skema yang saya tawarkan. Pertama bantuan untuk warga penerima subsidi. Saya ambil dari data penerima bantuan iuran (PBI) BPJS tahun 2016, saat itu tercatat paling banyak jumlahnya mencapai 3,48 juta. Jika dikalikan Rp 33.000 per hari untuk makan sesuai angka kebutuhan gizi, maka total yang dibutuhkan Rp 1,6 triliun," katanya.

Pada skema satu ini, dirinya menyarankan agar pemerintah menanggung kebutuhan alat pembersih sabun, susu/MPASI Balita, kebutuhan spesifik penyandang disabilitas, kebutuhan air minum dan operasional ojek online untuk mengantarkan paket makanan ke warga terdampak itu. Sehingga, total hitungan pada skema pertama ini dibutuhkan Rp 4,4 triliun untuk biaya lockdown.

Ketua Komisi A DPRD DKI Jakarta ini melanjutkan, yang berikutnya membuat skema pemberian bantuan untuk 40 persen warga dengan pendapatan dari Basis Data Terpadu (BDT) Kementerian Sosial yang mencapai 4,4 juta warga. Dengan skema ini, ia berharap, Pemerintah bisa mendukung warga kalangan bawah sesuai data BDT.

"Kalau 4,4 juta kalangan bawah ditanggung makannya selama 14 hari, maka dibutuhkan Rp 2,044 triliun. Jika ditambah kebutuhan lainnya, seperti alat pembersih sabun, susu/MPASI, makanan tambahan lansia dan lainnya, maka total dibutuhkan Rp 4,9 triliun," imbuhnya.

Selain itu, Mujiyono membuat skema tanpa pemberdayaan ojek online untuk pendistribusian bantuan pokok berupa pangan itu. Dia membuat skema agar bantuan tersebut diberikan dalam bentuk transfer kas atau bantuan langsung tunai (BLT).

Namun, dia menyarankan agar skema BLT ini dihiraukan karena rawan penyelewengan meski total biaya yang dibutuhkan lebih kecil ketimbang pemberdayaan ojek online untuk pengantaran makanan. Bahkan, dia menyarankan agar pemerintah memberdayakan RT/RW untuk pendistribusian pangan warga selama masa karantina itu.

Terakhir, Mujiyono pun membuat skema agar semua kebutuhan untuk seluruh warga Jakarta ditanggung pemerintah. Baik kebutuhan pangan selama karantina, alat pembersih sabun, susu/MPASI, makanan tambahan bagi lansia, kebutuhan spesifik bagi disabilitas, hingga air bersih minum.

"Kalau untuk seluruh penduduk Jakarta sebanyak 11,06 juta jiwa, kebutuhannya ditanggung pemerintah, maka dibutuhkan sekitar Rp 8,4 triliun jika menggunakan jasa ojek online dalam pendistribusiannya," ucapnya.

Dia juga membuat skema penyaluran bantuan dengan jalur RT/RW. Biaya yang dibutuhkan dengan jalur RT/RW ini cukup Rp 5,9 triliun. Namun, jelasnya, untuk Sasaran dan Penerima PBI BPJS dan 40 persen pendapatan terendah bisa dengan skema Bantuan Hibah APBD. Sedangkan untuk bantuan keseluruhan warga, Pemerintah Pusat harus Terlibat.

"Jika tidak, harus ada aturan baru yang khusus agar Pemprov bisa memberikan subsidi kepada mereka. Lockdown dibutuhkan Jakarta untuk mencegah penyebaran Covid-19 terus meluas. Saya kira, Jakarta siap. Apalagi, APBD DKI Jakarta mencapai Rp 87,95 triliun. Uang pajak dari rakyat harus dikembalikan untuk rakyat di saat pandemi Corona seperti ini," pungkasnya.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

UPDATE

Tanpa Laboratorium Kuat, RI Hanya Jadi Pasar Teknologi Asing

Sabtu, 18 April 2026 | 00:13

Megawati-Dubes Jerman Bahas Geopolitik dan Antisipasi Krisis Global

Sabtu, 18 April 2026 | 00:01

Mahasiswa ITB Goyang Erika

Jumat, 17 April 2026 | 23:39

Kereta Api Bakal Hadir di Tanah Papua

Jumat, 17 April 2026 | 23:21

Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Halal Oktober 2026

Jumat, 17 April 2026 | 23:01

Revisi UU Pemilu Rawan jadi Bancakan Parpol

Jumat, 17 April 2026 | 22:36

Pesan Prabowo di Dharma Santi 2026: Jaga Harmoni, Perkuat Persaudaraan

Jumat, 17 April 2026 | 22:14

Menkop: Prabowo Tegaskan Negara Hadir Atur Ekonomi Lewat Kopdes

Jumat, 17 April 2026 | 21:45

Dewas Didesak Gelar Perkara Laporan terhadap Jubir KPK

Jumat, 17 April 2026 | 21:35

YLBHI Diminta Kembali ke Khitah Bela Masyarakat Marginal

Jumat, 17 April 2026 | 21:20

Selengkapnya