Berita

Mantan Menkeu Fuad Bawazier/Net

Bisnis

Pinjaman 300 Juta Dolar AS Dari Bank Dunia Memalukan Dan Berbau Akal-akalan

KAMIS, 26 MARET 2020 | 18:15 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia pada hari Jumat pekan lalu (20/3) menyetujui pinjaman sebesar 300 juta dolar AS untuk mendukung apa yang disebut sebagai reformasi sektor keuangan Indonesia.

Disebutkan, pinjaman ini untuk menambah ukuran, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat ketahanan sektor keuangan.

Juga disebutkan pinjaman dari Bank Dunia untuk reformasi sektor keuangan di Indonesia merupakan komponen penting dari Kerangka Kerja Kemitraan Negara Kelompok Bank Dunia untuk Indonesia yang terfokus kepada prioritas pemerintah.


Keputusan Bank Dunia tersebut disampaikan dalam rilis hari Senin lalu (23/3).

Mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier, pinjaman dari Bank Dunia di saat Indonesia sedang menghadapi guncangan akibat serangan virus corona atau Covid-19 dari Wuhan, China, adalah sebuah penghinaan.

Menurutnya, dalam kondisi seperti ini tidak perlu mengambil pinjaman untuk hal-hal di luar bidang kesehatan.

“Masa untuk “reformasi” sektor keuangan harus pinjam uang ke World Bank. Penghinaan. Untuk reformasi keuangan atau studi akal-akalan begitu kita mampu melaksanakannya sendiri,” ujarnya dalam perbincangan dengan redaksi beberapa saat lalu, Kamis (26/3).

Nomenklatur “reformasi sektor keuangan” yang digunakan juga sangat mencurigakan dan bukan tidak mungkin adalah pengelabuan atau akal-akalan licik.

“Disebutkan untuk reformasi sektor keuangan, tapi jaminannya adalah recovery bond. Ini harus ditolak,” sambung Fuad Bawazier lagi.

Menurut hematnya, kalau memang diperlukan untuk kepentingan nasional, alihkan saja pinjaman dari Bank Dunia itu stimulus menghadapi Covid-19.

“Tapi saya kira Bank Dunia tidak setuju sebab biasanya atau kebiasaannya untuk proyek-proyek yang dirinya dan teman temannya bisa menikmati uang itu,” katanya lagi.

Pinjaman seperti ini, masih dijelaskan Fuad Bawazier, sebenarnya untuk kepentingan Bank Dunia sendiri. Ini adalah gaya lama yang terus berlangsung.

“Kalau tidak mau, Menkeu dijelek-jelekin. Jadi semacam ongkos menjaga Menkeu agar tetap dipuja-puji dengan kerugian yang dibebankan kepada negara. Praktek mafia yang menjengkelkan. Presiden Jokowi harus tahu praktek yang beginian dan harus menghentikannya,” demikian Fuad Bawazier.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

UPDATE

Pendemo Atribut Serba Hitam Desak Teror Ketua BEM UGM Diusut

Jumat, 27 Februari 2026 | 20:14

BNI Siapkan Uang Tunai Rp23,97 Triliun Sambut Lebaran 2026

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:39

Polwan Berkalung Serban Putih Kawal Demo Mahasiswa

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:31

KPK: Mobil Operasional Pejabat Bea Cukai jadi Brankas Berjalan Uang Suap

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:18

Muncul Aksi Tandingan BEM UI di Mabes Polri

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:13

Jangan Hanya Kecam Israel, OKI Harus Berani Putuskan Sikap Kolektif

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:09

Angka Prima Palindromik

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:06

Seskab Bantah MBG Kurangi Anggaran Pendidikan

Jumat, 27 Februari 2026 | 19:05

Pengaturan Ambang Batas Fraksi Lebih Tepat Ketimbang Naikkan PT

Jumat, 27 Februari 2026 | 18:42

Sentil Tim Ekonomi Prabowo, Pakar: Mereka bukan Negosiator

Jumat, 27 Februari 2026 | 18:23

Selengkapnya