Berita

Suparji Ahmad/Net

Hukum

Suparji Ahmad: Bukan Ranah KPK, Kasus Direktur PT MIT Murni Soal Perdata

RABU, 11 MARET 2020 | 17:34 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Penyematan status tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kepada Direktur Multicon Indrajaya Terminal (MIT) Hiendra Soenjoto tidak ubahnya sebuah perbuatan dzalim.

Pakar Hukum Pidana Suparji Ahmad menilai, dalam pengurusan kerjasama Bisnis Pembangkit Listrik Tenaga Minihadro (PLTMH) dengan Rezky Herbiyono, selaku menantu eks Sekertaris Mahkamah Agung Nurhadi adalah murni masalah keperdataan.

"Posisi Hiendra itu kan relatif dapat diposisikan sebagai orang yang terzalimi. Karena dia pebisnis yang kemudian karena rekayasa Rezky Herbiyono kepada Iwan Liman, terus kemudian di seret-seret perkaranya, ya ini kan sesuatu yang sebetulnya ironi," kata Suparji kepada wartawan, Rabu (11/3).


Terpisah, Hengky Soenjoto selaku kakak dari Hiendra Soenjoto menyatakan adiknya pada 2015 lalu pernah mengajak kerjasama bisnis Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTMH) bersama Rezky Herbiyono.

Bahkan, kata Hengky, pada suatu waktu di Bandara Juanda, Surabaya, dia pernah didatangi oleh seseorang bernama Nana yang diduga merupakan orang suruhan Iwan Liman.

Iwan Liman kemudian menyampaikan kepada Hengky untuk dapat bertemu dan meminta maaf kepada Hiendra Soenjoto karena telah dengan sengaja memalsukan isi dan stampel serta mencairkan cek miliknya yang sebenarnya dijaminkan kepada Rezky Herbiyono sebagai jaminan pembelian saham dan pembangunan PLTMH.

"Iwan pernah dipenjara atas kasus pemalsuan dan pengelapan mobil milik Rezky dan saat ini masih berurusan dengan pihak Kepolisian dan bersembunyi di KPK sebagai saksi," beber Hengky.

Tidak hanya itu, kesaksian Iwan Liman pun diragukan oleh mantan kuasa hukumnya, Yosef. Dia menyebut, Iwan Liman bukan saksi yang benar, karena sama sekali tidak mengetahui apapun terkait masalah dan bisnis kliennya.

Bahkan, bukti-bukti yang digunakan ke KPK adalah hasil rekayasa Rezky Herbiyono kepada Iwan Liman untuk menarik dana yang di gelapkan Iwan Liman yang sama sekali tidak diketahui dan tidak ada kaitannya dengan mantan kliennya .

"Rekayasa tersebut bermula mantan klien saya pernah mengajukan Permohonan PK melawan PT. (Persero) Kawasan Berikat Nusantara dan telah diputus kalah atau ditolak pada tanggal 18 Juni 2015," kata Yosef.

"Karena Rezky Herbiyono telah terlibat permasalahan hutang piutang dengan Iwan Liman maka dengan sengaja merekayasa Permohonan PK mantan klien saya yang kalah/ditolak tersebut seolah-olah menang dan menyampaikan melalui whatsapp kepada Iwan Liman pada tanggal 16 Oktober 2015," jelasnya.

Lanjutnya, bukti pesan melalui Whatsapp Rezky Herbiyono kepada Iwan Liman mengenai PK yang sudah diputus ditolak itu diduga digunakan Iwan Liman melaporkan kepada KPK karena dendam dengan Rezky Herbiyono.

“Ini murni masalah Pidana Umum antara Rezky Herbiyono dan Iwan Liman tetapi saksi pelapor Iwan Liman bersembunyi di KPK sebagai pelapor untuk meminta perlindungan ke KPK agar tidak ditangkap pihak Kepolisian karena beberapa laporan masyarakat,” tandas Yosef.

Bagi Suparji, jika memang terdapat kekeliruan terlebih unsur pemalsuan hal ini dapat digunakan sebagai faktor yang akan meringankan Hiendra.

"Kalau memang ada unsur-unsur pemalsuan, buat saya itu sesuatu yang bisa menimbulkan masalah hukum baru dan itu akan meringankan dari seorang Hiendra," tegas akademisi Universitas Al Azhar ini.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Trump Singkirkan Opsi Senjata Nuklir di Perang Iran

Jumat, 24 April 2026 | 16:14

Pengamat Bongkar Motif Ekonomi di Balik Serangan Trump ke Iran

Jumat, 24 April 2026 | 15:44

BPKH Pastikan Nilai Manfaat Dana Haji Kembali ke Jemaah

Jumat, 24 April 2026 | 15:38

40 Kloter Berangkat di Hari Keempat Operasional Haji, Satu Jemaah Wafat

Jumat, 24 April 2026 | 15:31

AHY Pastikan Sekolah Rakyat hingga Tol Jogja-Solo Berjalan Optimal

Jumat, 24 April 2026 | 15:24

Bahlil Harusnya Malu, Tugas Menteri ESDM Dikerjakan Presiden

Jumat, 24 April 2026 | 15:13

Iran Bebaskan Tarif Hormuz untuk Rusia dan Sejumlah Negara

Jumat, 24 April 2026 | 14:46

KPK Periksa Saksi Terkait Rp8,4 Miliar yang Disebut Khalid Basalamah

Jumat, 24 April 2026 | 14:43

Anak Buah Zulhas Sangkal KPK: Jabatan Ketum Tak Bisa Diintervensi

Jumat, 24 April 2026 | 14:17

Dorong Kartini Melek Digital, bank bjb Genjot UMKM Naik Kelas

Jumat, 24 April 2026 | 14:16

Selengkapnya