Berita

Jokowi/Net

Publika

Corona Dan Ekonomi Dewasa Ini

RABU, 04 MARET 2020 | 13:30 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

WABAH corona ini bukan hanya "peniti" belaka, melainkan juga adalah bagaikan "panah" untuk memecahkan dan meletuskan, gelembung-gelembung perekonomian: makro, daya beli, gagal panen petani, digital, dan korporasi.

Berdasarkan data terakhir, sebelum merebaknya wabah corona, perekonomian kita memang sudah lesu. Secara teknis bila pertumbuhan ekonomi terus menurun dalam beberapa kuartal belakangan, ada kalangan yang berpandangan kita sebenarnya sudah di gerbang resesi.

Sebelum merebaknya corona, PDB Indonesia tahun 2020 diperkirakan akan di bawah 5 persen (pertumbuhan PDB kuartal IV 2019 sudah di bawah 5 persen).


Defisit perdagangan masih besar. Sepanjang tahun 2019, neraca perdagangan Indonesia defisit 3,19 miliar dolar AS karena ekspor migas dan non migas jeblok.

Ditambah lagi Sekitar Desember 2019 hingga Februari 2020: angka penjualan retail anjlok hingga pertumbuhan minus 0,5 persen dengan yang terdalam adalah penjualan cultural (-19,6 persen) & recreational (-12 persen) goods, yang tak kalah anjlok juga informasi (-7 persen) dan komunikasi (-5,2 persen). indeks saham gabungan /JCi minggu lalu turun minus 11 persen (692 poin) bila dibandingkan posisinya awal tahun.

Larinya duit Rp 500-an triliun dari pasar uang di Indonesia adalah meletusnya sebagian gelembung makro ekonomi. Goncangnya pasar finance. BI terpaksa mengguyur pasar uang dengan duit Rp 100-an triliun untuk membeli surat utang Indonesia guna mencegah kurs rupiah/dolar AS tembus Rp 15.000.

Sebanyak Rp 600an triliun cash pergi percuma begitu saja bisa menurunkan pertumbuhan perekonomian kita hingga 0,4 persen.

Di saat yang sama dengan BI mengguyur Rp 100-an triliun, kabarnya pemerintah Korea Selatan akan mensubsidi Rp 300-an triliun untuk menangani wabah Corona di negeri ginseng tersebut dengan lebih efisien. Sebelumnya Perdana Menteri Korea Selatan sudah di-impeach melalui petisi yang tembus satu juta penandatangan.

Jangan sampai pemerintah salah langkah politik di tengah deru badai ekonomi ini.

Sebagai contoh, upaya pemerintah untuk ngotot menggolkan omnibus law malahan akan menjadi bahan bakar bagi krisis politik- yang akan membuat dampak pecah gelembung ekonomi semakin teramplifikasi.

Jadi memang pemerintah harus berhati-hati dalam omnibus law, itu menyakiti kaum buruh karena banyak dari kue ekonomi yang seharusnya mereka dapatkan dipotong negara. Juga meluasnya sistem kontrak dan outsourcing.

Bersamaan juga, rakyat kecil (termasuk buruh) yang jumlahnya mayoritas di  Indonesia ini sudah dirampas sebagian kue ekonomimya di kantongnya yang "sudah kempis" dengan serangkaian kenaikan iuran jaminan kesehatan, tol, kenaikan cukai rokok hingga kopi sachet-nya tak lupa dinaikan harganya oleh Pemerintah.

Semakin siap rasanya, per awal Maret ini dikabarkan harga gula sudah melonjak 15 persen, kebutuhan pokok rakyat kita yang suka perayaan.

Namun, kue ekonomi paling besar selalu dimakan oleh para tycoon, dan kuasa oligarki, dengan omibus law berbagai kemudahan pajak mereka, para taipan peroleh untuk rumah mewah, barang mewah, deviden, bahkan pajak korporat mau diturunkan juga ke 17 persen (dari saat ini 25 persen), juga jalan lupa sebelumnya para taipan sawit telah terima subsidi triliunan dari negara.   

Ketidakadilan semacam inilah, memperkaya orang kaya dan mempermiskin orang miskin yang biasanya menggerakan rakyat di sepanjang jalannya sejarah bangsa bangsa.

Penulis adalah peneliti dari Pergerakan Kedaulatan Rakyat (PKR)


Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Tim Hukum Febrie Curiga Ada Nama Pejabat Kejagung Dicatut terkait Duit Rp40 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 04:16

Merawat Aceh, Memprioritaskan Kepentingan Rakyat

Rabu, 09 September 2026 | 04:04

Polda Banten-Basarnas Maksimalkan Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Selat Sunda

Rabu, 09 September 2026 | 03:32

Bahaya Abu Vulkanik bagi Penerbangan: Ancaman Tak Kasat Mata yang Mematikan

Rabu, 09 September 2026 | 03:22

PDIP Tafsirkan Pidato AHY: Bisa Jadi Pesan untuk Presiden Menuju 2029

Rabu, 09 September 2026 | 03:09

Wow! Hadiah Sayembara Ijazah Gibran Tembus Rp10,25 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 02:52

Sekolah Tatap Muka di Lampung Batal Gegara Anak Krakatau Kembali Erupsi

Rabu, 09 September 2026 | 02:14

Survei Digdaya: Kepuasan Publik terhadap Prabowo Capai 56,3 Persen

Rabu, 09 September 2026 | 02:01

Pencarian 8 Orang Hilang Kontak di Selat Sunda Terkendala Arus Kencang

Rabu, 09 September 2026 | 01:34

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Selengkapnya