Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Percaya Omnibus Law

SENIN, 02 MARET 2020 | 15:24 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

MUNGKIN akibat dianggap tidak terlalu penting atau sebab saya memang kurang cermat atau entah karena apa, saya gagal menemukan ulasan tentang omnibus law di embah Google.

Yang berhasil saya temukan cuma ulasan Wikipedia tentang omnibus bill. Agar tidak keliru menerjemahkannya, lebih aman saya muat aslinya dalam bahasa Inggris sebagai berikut:

Omnibus Bill


An omnibus bill is a proposed law that covers a number of diverse or unrelated topics. Omnibus is derived from Latin and means "for everything".

An omnibus bill is a single document that is accepted in a single vote by a legislature but packages together several measures into one or combines diverse subjects.Because of their large size and scope, omnibus bills limit opportunities for debate and scrutiny.

Historically, omnibus bills have sometimes been used to pass controversial amendments. For this reason, some consider omnibus bills to be anti-democratic.


Anti Democratic


Apabila Wikipedia di mbah Google tidak sedang iseng bikin hoax, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan dari penjelasan Wikipedia tentang makna omnibus bill. Kesimpulan pertama: akibat menyadari bahwa omnibus bill kerap dianggap kontroversial bahkan anti demokrasi maka para pembisik Presiden Jokowi menggantinya dengan istilah omnibus law agar lebih leluasa digarap tanpa dituduh kontroversial apalagi anti-demokrasi yang tentu sangat aib bagi orde reformasi yang menjunjung tinggi demokrasi.

Sebenarnya omnibus bill lebih tepat sebab lebih layak dimanfaatkan oleh rezim Orde Baru demi melestarikan kekuasaan otoriter di alam yang memang tidak demokratis.

Kesimpulan kedua: mungkin ada alasan lebih meluas, meninggi dan mendalam ketimbang hanya demi kepentingan investasi sehingga ada pihak yang ingin memaksakan omnibus law harus tidak-boleh-tidak diejawantahkan sesegera mungkin.

Kesimpulan ke dua mustahil terbuktikan selama tidak ada yang mengakui alasan yang sebenarnya, sementara juga  mustahil ada yang mengakui alasan yang sebenarnya akibat tidak ada yang sudi dituduh anti-demokrasi.

Kesimpulan ketiga: siapa yang mau berdebat silakan berdebat sampai akhir zaman namun tampaknya pihak pemerintah sudah sepakat bahwa hasrat Presiden Jokowi tentang omnibus law hukumnya wajib harus sesegera mungkin rawe-rawe-rantas-malang-malang-putung diwujudkan demi membuktikan loyalitas tanpa batas terhadap presiden. Right Or Wrong, My President!  Kendati sebenarnya  presiden tidak ingin memaksakan kehendaknya.

Percaya


Sebagai rakyat Indonesia yang awam hukum apalagi hukum ketata-negaraan, saya wajib lebih tahu-diri dalam menyikapi apa yang disebut sebagai omnibus law atau omnibus bill atau omnibus sapu jagad atau omnibus apapun.

Ketimbang gegabah sok ikut berdebat yang jelas jauh di luar jangkauan kemampuan saya, maka saya memilih untuk percaya selama percaya belum dilarang secara konstitusial di Tanah Air Udara tercinta ini.

Maka dengan penuh kerendahan hati, saya  memberanikan diri untuk percaya bahwa pihak yang berwenang atas pembuatan mau pun perubahan hukum berkenan cermat, seksama dan bijak dalam merancang Omnibus Law.

Saya percaya bahwa yang berwenang akan cermat, seksama dan bijak menyempurnakan hukum yang dianggap perlu disempurnakan dengan senantiasa berpedoman Pancasila terutama sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dan Keadilan Sosial Untuk Seluruh Rakyat Indonesia.

InsyaAllah, jangan sampai omnibus law alih-alih mengubah hukum malah merubah sila ke dua Pancasila menjadi Kemanusiaan Yang Tidak Adil dan Tidak Beradab, serta sila ke lima Pancasila menjadi Keadilan Sosial Untuk Sebagian Kecil Rakyat Indonesia.

Dikuatirkan dua perubahan sila itu rawan merusak sendi-sendi sila ke tiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia!

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan yang percaya omnibus law berpihak ke kepentingan rakyat kecil

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

OKI Kecam Serangan Houthi ke Makkah dan Madinah

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:17

Jakarta Running Festival Jadi Role Model Ajang Lari Nasional

Minggu, 25 Oktober 2026 | 10:01

Carbon Capture di Petrokimia Gresik Berpeluang Kurangi Impor Soda Ash

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:47

KPK Bantah Kembali Sita Uang Rp40 Juta dari Salah Satu PCNU Terkait Muktamar NU

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:27

Mantan Panglima TNI Pertama dari Angkatan Laut Widodo AS Wafat

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:12

Aksi Iklim Lintas Iman Desak Siklus Karhutla Tahunan Segera Diputus

Minggu, 25 Oktober 2026 | 09:02

Akuisisi Saham BYAN Haji Isam Sejalan dengan UU Minerba

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:44

Bill Gates: AI Bisa Picu Gejolak Ekonomi dan Sosial Selama 20 Tahun

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:43

Kehadiran Kopdes Bawa Harapan untuk Ekonomi Desa

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:19

Pesantren Didorong Ikut Terlibat dalam Pencegahan Karhutla

Minggu, 25 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya