Berita

Ekonom senior, Dr. Rizal Ramli/RMOL

Bisnis

Rizal Ramli: Baru Mulai Sadar, Ternyata Utang Jorjoran Pengaruhi Daya Beli Dan Bisnis

SABTU, 22 FEBRUARI 2020 | 14:35 WIB | LAPORAN: AHMAD SATRYO

Rasio utang negara per Januari 2020 kembali membengkak. Nilainya mencapai Rp 4.817,55 triliun, atau setara dengan 30,12 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Perolehan ini ditanggapi Menteri Koordinator Bidang Ekonomi era Presiden Gus Dur, Dr. Rizal Ramli.

"Banyak yang berkata,' terserah deh pemerintah dan BUMN mau ngutang jorjoran. Toh ndak ada hubungan dengan saya'. Pernyataan itu benar selama utang itu dalam batas wajar," kata dia kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (22/2).


Namun demikian, ekonom senior ini menyatakan bahwa kebijakan utang pemerintah tidak wajar. Sebab, hal ini berdampak kepada stabilitas perekonoimian masyarakat dan industri.

"Tetapi kalau berlebihan seperti saat ini, ada 'crowding-out effect'," tegas pria yang biasa disapa RR ini.

Lebih lanjut, pendiri Komite Bangkit Indonesia ini memberikan contoh riil dari kebijakan utang pemerintah yang berlebihan.

Di mana, pertumbuhan kredit di Indonesia pada akhir tahun 2019 seret, karena hanya mencapai 6,08 persen. Jika dibandingkan tahun 2018 angkanya jauh ketinggalan, yakni 11,7 persen secara tahunan.

"Kalau ekonomi normal kredit tumbuh 15-18 persen per tahun," ujar Rizal Ramli.

Hal ini, lanjut doktor ekonom Universitas Boston Amerika Serikat ini, bakal dirasakan dampaknya oleh masyarakat dan industri domestik.

Karena, setiap kali pemerintah menjual Surat Utang Negara (SUN), ada 30 persen dana pihak ketiga di lembaga keuangan yang akan tersedot keluar.

"Karena bunganya (yang harus dibayarkan pemerintah) 2 persen lebih mahal dari deposito. Dan itu dijamin 100 persen," ungkap RR.

Oleh karena itu, dia menegaskan, kondisi perekonomian RI masih terus stagnan, atau bahkan cendrung menurun ke depannya.

"Itulah mengapa uang susah, daya beli anjlok, bisnis susah. Baru mulai sadar deh, ternyata utang jorjoran pemerintah ada penguruhnya terhadap daya beli dan bisnis," katanya.

"Ini gara-gara kelola ekonomi makro amatiran," pungkas Rizal Ramli menambahkan.

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Wacana Penyeragaman Kemasan Bikin Pusing Industri Hasil Tembakau

Selasa, 07 Juli 2026 | 00:08

Komisi IV DPR Siapkan Tim Investigasi Tailing Freeport di Timika

Senin, 06 Juli 2026 | 23:58

MSBI-Apkasi Kolaborasi Kembalikan Kejayaan Sepak Bola RI

Senin, 06 Juli 2026 | 23:36

Korupsi Batu Bara Biang Kerok Blackout di Sejumlah Wilayah Indonesia

Senin, 06 Juli 2026 | 23:30

75 Persen Kredit Pensiunan Kini Bidik Kegiatan Usaha

Senin, 06 Juli 2026 | 23:07

RUU HAM Masih Lemah Melindungi Hak Perempuan

Senin, 06 Juli 2026 | 22:56

Tukar Pikiran Bola Nasional

Senin, 06 Juli 2026 | 22:45

Survei Terbuka IndexMundi, Burhanuddin Muhtadi Beberkan Cacat Metodologi Riset Online

Senin, 06 Juli 2026 | 22:39

Polri Minta Bandar Narkoba Penyerang Anggota Polres Katingan Serahkan Diri

Senin, 06 Juli 2026 | 22:21

Menaker Pastikan Isu PHK TikTok-Tokopedia Tuntas

Senin, 06 Juli 2026 | 22:20

Selengkapnya