Berita

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri/Net

Politik

Sindiran Ke Jokowi Bagus, Tapi Sekaligus Akan Jadi Ujian Konsistensi Megawati

JUMAT, 21 FEBRUARI 2020 | 13:13 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri soal "jangan paksakan anak" boleh jadi sinyal kepada Presiden Joko Widodo agar tidak memaksakan putranya Gibran Rakabuming Raka maju di Pilkada Kota Solo kalau tidak punya kapasitas.

"Ini nilai dan tradisi baru yang disampaikan Bu Megawati, kita apresiasi, dan sikap blak-blakan beliau menjadi semangat baru soal meritokrasi, jangan sampai partai berkembang dan menguat DNA dinasti politiknya, tapi kalau kader punya kapasitas, kridibilitas dan integritas serta jam terbang yang bagus," kata pengamat politik, Pangi Syarwi Chaniago kepada redaksi, Jumat (21/2).

Menurut Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting ini, menarik untuk ditunggu apakah Megawati konsisten dengan ucapannya. Konsekuensinya, presiden kelima itu juga tidak boleh memaksakan anaknya Puan Maharani dan Prananda Prabowo menjadi ketua umum partai. Namun soalnya, apakah PDIP bisa tetap kuat dan besar tanpa trah Soekarno.


"Yang dipegang publik adalah sikap bukan perkataannya. Ini bisa menjadi buah simalakama bagi Megawati juga. Namun ini bisa menjadi haluan tradisi baru mengingatkan partai agar tidak memaksa maksakan dinasti dan keluarga untuk melanjutkan trahnya di partai politik," terang Pangi Syarwi yang akrab disapa Ipang.

Jelas Ipang, ini yang tunggu-tunggu dari tokoh dan politisi, apalagi sekelas Megawati yang nerupakan ketua umum partai terbesar, berani menyampaikan sikapnya.

"Jelas pesan dari Bu Megawati tak akan ada nepotisme. Ini sebuah pencerahan politik yang bagus dan bisa menjadi role model bagi partai lain. Karena statment yang seperti ini yang kita butuhkan dan tunggu tunggu selama ini," ujarnya.

Memang fenomena oligarkis dan feodalisme hampir menyangkiti semua partai politik belakangan ini, partai politik belakangan trend makin tidak demokratis alias makin oligarki, kekuasaan yang bertumpu atau berpusat pada satu atau beberapa orang saja yang mengendalikan dan mengatur parpol

"Ini yang menjadi penyebab belakangan demokrasi kita mundur, bagaimana mungkin negara akan demokratis apabila di tubuh internal partai sangat tidak demokratis, apabila partainya baik maka negara juga baik, apabila partai makin demokratis maka negara otomaticly makin demokratis," tutur Ipang.

Ditambahkannya, persoalan yang sama merasuki hampir semua partai politik, semakin oligarki dan feodalisme. Ini yang menyebabkan salah satu faktor demokrasi Indonesia kian hari trendnya menurun, misalnya hampir tidak terjadi pertukaran elite secara reguler di tubuh partai, sekarang makin candu berkuasa lama-lama"

"Anehnya lagi makin banyak yang mengikuti DNA PDIP, yaitu ketua umum terlama, sekarang hampir semua ketua umum partai tidak ada yang mau satu periode kepenggurusan, dengan segala cara mereka berupaya mempertahankan kekuasaan supaya tetap langgeng, padahal syarat mutlak partai demokratis adalah terjadi pertukaran elite sentral secara teratur dan reguler," tutup Ipang.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Kematian Penjaga Rumah Febrie Harus Diusut Tuntas

Senin, 27 Juli 2026 | 19:53

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Jubir IKN Troy Pantouw Sempat Telepon Keluarga Sehari Sebelum Ditemukan Meninggal

Minggu, 26 Juli 2026 | 20:58

15 Jeriken Bensin yang Menenggelamkan Jabatan Ayah

Senin, 27 Juli 2026 | 01:03

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

UPDATE

Momen Haru, Teddy Kenang Perjalanan Gubernur Pramono di Kantor Setkab

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:16

Fondasi Membangun Ekosistem Informasi yang Sehat di Era Digital

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:14

Jangan Sampai Pengunduran Diri Gubernur BI Picu Gejolak Pasar

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:11

PDIP Soroti Kasus Febrie: Penegakan Hukum Tidak Boleh Tebang Pilih

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:07

Kuasa Hukum Nadiem Laporkan Dugaan Pelanggaran Etik dan Intimidasi Saksi ke KY

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:04

Dana Nasabah Rp2,58 Miliar Raib, BCA Digugat ke PN Jakpus

Selasa, 28 Juli 2026 | 16:02

KDKMP Diklaim Bisa Tambah Pendapatan Petani hingga Rp263 Triliun

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:59

Transformasi Digital BRI Pacu Pertumbuhan Bisnis Merchant dan Transaksi QRIS

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:51

Chad Ikuti Jejak Burkina Faso, Mali, dan Niger Keluar dari ICC

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:49

Hasto Ogah Tanggapi Kaesang Maju Nyaleg di Jateng

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:36

Selengkapnya