Berita

Gatot Nurmantyo/Net

Politik

AHY Tidak Terlalu Mengkilap, Demokrat Bisa Pertimbangkan Gatot Nurmantyo Sebagai Ketua Umum

JUMAT, 21 FEBRUARI 2020 | 10:38 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) akhir-akhir ini rajin melakukan safari politik ke daerah-daerah. Nama putra sulung Ketua Umum Partai Demokrat SBY itu memang disebut-sebut sebagai calon kuat ketua umum partai. Agus, disebut sebagai kandidat pengganti SBY di Demokrat.

Direktur Eksekutif Indonesian Democratic Center for Strategic Studies (IndecenterS), Girindra Sandino, mengatakan, AHY memang dipersiapkan SBY untuk menggantikan perannya di Demokrat.

Langkah AHY maju dalam pemilihan gubernur Jakarta, adalah bagian dari skenario SBY melanggengkan dominasi klan Cikeas di Demokrat. Pun, upaya SBY menyorong AHY sebagai calon wakil presiden pada pemilihan presiden yang lalu, juga bagian dari skenario itu.


"Makanya tidak heran jika kemudian sekarang AHY jadi calon ketua umum. Lihat saja, dengan cepat AHY diberi posisi strategis di Demokrat, mulai jadi Komandan Satuan Tugas Bersama (Kogasma), sekarang wakil ketua umum," kata Girindra, di Jakarta, Jumat (21/2).

Padahal, kata Girindra, Kogasma itu adalah lembaga baru yang terkesan dibentuk mendadak, semata untuk mengakomodir AHY yang gagal jadi gubernur Jakarta dan cawapres. Jadi, sangat kentara sekali skenario SBY menyiapkan AHY sebagai calon pemimpin Demokrat di masa datang.

Terkait seberapa kuat kans AHY jadi nakhoda Demokrat, Girindra menjawab, peluangnya sangat besar. Sebab SBY masih jadi penentu di Demokrat. Pengaruh SBY masih kuat di Demokrat.

"SBY masih menentukan di Demokrat. Karena itu ya kans AHY jadi Ketum Demokrat sangat besar sekali," ujarnya.

Namun, jika kemudian ini dikaitkan dengan konstelasi Pilpres 2024, Demokrat harusnya mulai mempertimbangkan mengelus sosok lain. Tidak terus tergantung pada klan Cikeas.

Walau Pilpres 2024 masih jauh, tapi jika melacak kontestasi politik yang pernah diikuti AHY, nilai jual putra sulung SBY ini tidak terlalu mengkilap. Masih kalah oleh sosok lain seperti Anies Baswedan, atau Ridwan Kamil yang disebut banyak pihak, calon kuat Capres 2024.

"Nilai jual AHY sendiri memang sampai saat ini masih kalah oleh Anies atau Ridwan Kamil. Digadangnya AHY sebagai Ketum Demokrat adalah cara untuk mengkatrol nilai jual AHY," ujarnya.

Girindra sendiri berpendapat, Demokrat mulai dari sekarang sudah memikirkan calon alternatif lain yang lebih punya magnet politik. Dia
menyebut nama Gatot Nurmantyo, eks Panglima TNI yang bisa dipertimbangkan untuk digaet Demokrat. Jenderal Gatot walau namanya sekarang seakan tenggelam, tapi punya magnet politik yang lebih mungkin dikapitalisasi.

Status Gatot sebagai mantan Panglima TNI, jadi nilai jual tersendiri. Pun, statusnya sebagai pensiunan jenderal bintang empat. Sepak terjang Gatot juga dulu sempat memikat publik.

"Saya pikir, Gatot bisa dipertimbangkan untuk digaet Demokrat," ujarnya.

Gatot setidaknya jika dibandingkan dengan sosok berlatar militer lainnya seperti Prabowo Subianto, kata Girindra, kelasnya setara. Berbeda jika kemudian jika AHY berhadapan dengan Prabowo. Ada hambatan psikologis politik mengingat AHY bukanlah jenderal. Meski sama-sama mantan tentara.

"Saya pikir suasana psikologis ini akan terasa di tengah publik, andai nanti misalnya, andai nih, AHY bisa maju ke Pilpres dan lawannya itu adalah Prabowo. Berbeda kalau itu lawannya adalah Gatot," ujarnya.

Namun memang dalam politik segala kemungkinan bisa terjadi. AHY bisa saja jadi kuda hitam, jika dipoles dengan cerdas oleh pendukungnya. Dan, Pilpres masih jauh. Menempatkan AHY di pucuk pimpinan Demokrat, adalah satu-satunya cara untuk menaikan nilai jualnya.

"Hanya cara itu. Tak ada strategi lain," demikian Girindra.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

KPK Amankan "Surat Tekanan" dari Rumah Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo

Kamis, 16 April 2026 | 18:15

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kasus Penyiraman Andrie Yunus Masuk Sidang Terbuka Akhir April

Kamis, 16 April 2026 | 18:09

Emil Dardak Prihatin Tiga Kepala Daerah Jatim Kena OTT KPK

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Pimpinan Ombudsman: Kasus Hery Susanto Terjadi Sebelum Menjabat

Kamis, 16 April 2026 | 18:00

Erick Thohir Bawa Kemenpora Tembus Top 5 Kementerian Kinerja Terbaik

Kamis, 16 April 2026 | 17:40

Puspen TNI Pastikan Sidang Kasus Andrie Yunus Terbuka

Kamis, 16 April 2026 | 17:37

BNPB Catat 23 Bencana dalam Dua Hari

Kamis, 16 April 2026 | 17:28

Fokus pada Inovasi dan Kesejahteraan, Bupati Mimika Raih KWP Award 2026

Kamis, 16 April 2026 | 17:22

Sudewo Ngaku Kangen Warga Pati

Kamis, 16 April 2026 | 17:17

Selengkapnya