Berita

Iip Miftahul Choiry (kiri)/Net

Politik

PPP: Menteri Agama Tidak Mungkin Sembarangan Tunjuk Pejabat Muslim Jabat Plt Dirjen Bimas Katolik

KAMIS, 13 FEBRUARI 2020 | 18:25 WIB | LAPORAN: AHMAD KIFLAN WAKIK

Menteri Agama Fachrul Razi jangan ambil pusing adanya tekanan dalam pengisian jabatan di lingkungan Kementerian Agama. Setiap pejabat yang ditempatkan, harus melalui mekanisme dan sesuai aturan.

Begitu dikatakan anggota Komisi VIII DPR, Iip Miftahul Choiry meganggapi polemik penunjukan jabatan Plt Dirjen Bimas Katolik di Kementerian Agama. Posisi jabatan itu diisi sementara oleh Sekretaris Jenderal Kemenag, Nur Kholis Setiawan, yang notabene bukan beragama Katolik.

“Setiap penempatan pejabat, pedomannya adalah aturan. Ada mekanismenya. Termasuk memilih pejabat yang memenuhi kelayakan dan kepatutan. Itu tidak bisa hanya dilihat dari golongan mana, dari suku apa dan agamanya apa,” kata Iip Miftahul di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (13/2).


Dia meyakini Fachrul Razi tidak sembarangan dalam menentukan orang untuk mengisi jabatan di Kementerian Agama.

“Pada dasarnya kita memaklumi. Saya rasa Menag butuh waktu dalam memilih orang untuk mengisi kekosongan jabatan, dan juga tidak bisa sembarang, harus melalui open bidding,” jelasnya.

Politisi PPP ini meminta kepada masyarakat untuk tidak terlalu berpolemik dengan penunjukan Nur Kholis tersebut.

"Sudan lah, Kementerian Agama jangan dibuat gaduh terus. Beri kesempatan Menteri Agama dan jajarannya untuk bekerja. Beri waktu Pak Fachrul Razi membenahi Kementerian Agama supaya lebih baik lagi. Jangan dibikin gaduh terus, nanti urusan umat malah terganggu,” urainya.

Dia memberikan jaminan bahwa Komisi VIII akan terus mengawasi kinerja Kementerian Agama supaya target kinerja dapat tercapai dengan sempurna.

“Kami di Komisi VIII juga sudah diingatkan dan akan terus diingatkan. Kami juga pasti ‘pelototi’. Kalau ada yang kurang, pasti kami evaluasi lagi, kami ingatkan dan kami arahkan lagi,” pungkasnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Camat hingga Dirut PDAM Kota Madiun Digarap KPK

Kamis, 16 April 2026 | 13:50

UPDATE

Wacana Pileg 2029 Seperti Liga Sepak Bola Mencuat, Partai Baru Tarkam Dulu

Sabtu, 25 April 2026 | 01:54

Bahlil Bungkam soal Isu CPO dan Kenaikan Harga Minyakita

Sabtu, 25 April 2026 | 01:31

Yuddy Chrisnandi Ajak FDI Bangun Dapur MBG di Daerah Tertinggal

Sabtu, 25 April 2026 | 01:08

Optimalisasi Selat Malaka Harus Lewat Infrastruktur Maritim, Bukan Pungut Pajak

Sabtu, 25 April 2026 | 00:51

Kejari Jakbar Fasilitasi Isbat Nikah Massal bagi 26 Pasutri

Sabtu, 25 April 2026 | 00:30

Kemampuan Diplomasi Energi Bahlil Sering Diolok-olok Netizen

Sabtu, 25 April 2026 | 00:09

Kinerja Bareskrim Dinilai Makin Tajam Usai Bongkar Kasus Strategis

Jumat, 24 April 2026 | 23:58

Ketegasan dalam Peradilan Militer Menyangkut Keamanan Negara

Jumat, 24 April 2026 | 23:33

Kebijakan Bahlil Dicap Auto Pilot dan Sering Bahayakan Rakyat

Jumat, 24 April 2026 | 23:09

KPK Diminta Sita Aset Kalla Group Jika Gagal Bayar Proyek PLTA Poso

Jumat, 24 April 2026 | 22:48

Selengkapnya