Berita

Salah satu gaya Sri Mulyani/Net

Publika

Kisah Kekuasaan Otoriter & Sakit Perut Sri Mulyani

MINGGU, 02 FEBRUARI 2020 | 17:12 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

DALAM kosmologi Jawa seorang penguasa memusatkan kekuasaan pada dirinya dengan cara semedi, mengumpulkan benda keramat atau peliharaan yang dianggap mengandung kekuasaan.

Di India seorang penguasa seperti raja adalah representasi dewa.

Waktu Amangkurat I berkuasa ia mencukur rambut satu kali dalam setahun. Tetapi kalau ia memotong rambut, seluruh rakyat harus mencukur rambut gondrong.


Para algojo akan berpatroli. Kalau ternyata ada lelaki yang masih berambut panjang, ia akan divonis sebagai pembangkang. Para algojo Amangkurat akan memasang helm besi panas di kepala lelaki tersebut sebagai hukuman.

Esensinya, semua kekuasaan otoriter yang anti demokrasi pada dasarnya hanya dapat berfungsi atas dasar ketakutan rakyat dan dengan melakukan teror kepada rakyatnya sendiri.

Di dalam kekuasaan yang feodal kekayaan kerajaan juga dianggap sebagai milik pribadi penguasa.

Itulah misalnya menteri dengan mental neoliberal-kolonial-feodal seperti Sri Mulyani seenaknya mau jual aset bangsa untuk biaya pindah ibu kota.

Dalam prakteknya nanti, gedung-gedung pemerintah, seperti kantor-kantor kementerian di sekitar Monas bisa dijual Sri Mulyani kepada para taipan dengan harga murah.

Sri Mulyani yang mengaku sakit perut saat harus merealisasikan janji-janji kampanye Presiden Jokowi adalah contoh menteri tidak kreatif, yang kemampuannya hanya mengutang secara ugal-ugalan dengan bunga tinggi dan menjual aset negara secara merugi, seperti penjualan aset-aset BLBI.

Di tangan menteri keuangan yang disebut Anwar Nasution sebagai “menteri dengan modal batok kelapa” ini, utang pemerintah sekarang tumbuh rata-rata 20 persen per tahun, sedangkan pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) hanya 5 persen setiap tahun. Ini berarti utang pemerintah tumbuh 4 kali lebih cepat dari pertumbuhan PDB.

Anggaran pembayaran bunga utang tahun 2020 mencapai Rp 295 triliun. Sedangkan pembayaran pokok utang Rp 351 triliun. Total pokok dan bunga utang Indonesia kini mencapai Rp 646 triliun.

Di jurusan lain rakyat umumnya juga mengeluh sekarang cari uang susah.
Ini karena sebagian besar uang disedot oleh Sri Mulyani untuk membeli Surat Utang Negara (SUN). Tahun lalu kredit hanya tumbuh sekitar 7 persen. Biasanya kalau ekonomi normal tumbuh sekitar 15-18 persen. Inilah pengetatan yang membuat ekonomi semakin susah dan daya beli merosot.

Dengan mengaku kerap sakit perut saat harus merealisasikan janji kampanye Pilpres Jokowi, bermakna bahwa Sri Mulyani duduk di kabinet hanya untuk sekedar privilege.

Banyak hal yang sebenarnya tidak mampu dia lakukan, dan untuk mempertahankan kedudukan (sebagaimana dilakukan oleh para menteri di kabinet Jokowi saat ini), ia pun membangun berbagai macam pencitraan. Mulai dari klaim sesat seperti mendisain gelar “menteri terbaik” dan sebagainya.

Sri Mulyani menjadi bagian dari masalah, bagaikan banjir bandang yang akan menyeret pemerintahan Jokowi ke dalam prahara kehancuran.

Penulis adalah wartawan senior



Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya