Berita

Arwana/Net

Dahlan Iskan

Arwana 6 T

KAMIS, 23 JANUARI 2020 | 05:07 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

ORANG pun mencibir: beli ikan arwana kok sampai Rp 6 triliun.

Saya tidak akan menyalahkan arwana. Juga tidak akan menyalahkan yang mencibir.

Yang lucu adalah: Tukul, ups, bukan. Inilah yang aneh: mengapa baru tahun itu Jiwasraya membeli saham perusahaan arwana. Yang nilai transaksinya sampai Rp 6 T itu.


Terlihat sekali bahwa pembeli saham itu tidak memelihara arwana di rumahnya. Jangan-jangan juga belum pernah melihat wujud arwana itu seperti apa.

Padahal sudah sepuluh tahun lamanya demam arwana menurun. Seolah ikut menandai kematian arwana di akuarium besar di lobi kantor saya.

Kejayaan arwana sendiri terjadi antara tahun 1980 sampai 2005. Pada era itulah Heru Hidayat mulai menjadikan arwana sebagai bisnis.

Di zaman itulah HaHa membeli kolam-kolam pembiakan ikan arwana. Di Kalimantan Barat. Di pinggir sungai Kapuas. Lokasi kolam-kolam itu di sekitar kota Pontianak.

Di situ HaHa memiliki 17 kolam. Di empat lokasi yang agak berjauhan. Total luasnya sekitar 50 hektare.

Saya juga punya teman yang memiliki usaha pembiakan arwana. Di Pontianak. Bahkan seorang redaktur saya merangkap menjadi pembiak arwana di rumahnya.

"Hasilnya lumayan. Lebih besar dari gaji wartawan," katanya kala itu.

Saya pernah sekali ke rumahnya --untuk melihat arwana di kotak-kotak plastik yang dijejer di emperan rumahnya.

Itu dulu.

Sudah lama sekali.

Setelah itu orang mulai bosan dengan arwana. Mungkin orang menjadi lebih suka membeli.... polis asuransi saja.

Saat ini arwana umur 3 bulan tidak lagi bisa laku Rp 1 juta. Padahal, di zaman jayanya dulu bisa mencapai Rp 3 juta.

Maka sebenarnya tidak salah ada pengusaha yang membuat perusahaan arwana. Lokasinya pun sudah benar: di Kalbar.

Hanya di situlah arwana hidup. Yakni jenis arwana termahal di dunia: arwana merah.

Pun yang warna perak banyak juga terdapat di Kapuas. Dengan harga setengahnya.

Kalbar hanya bersaing dengan Vietnam dan Kamboja.

Yang saya pelihara di akuarium lobi kantor itu adalah yang warna perak. Sejak umur 3 bulan juga. Sampai umur enam tahun. Saya suka terhibur melihat geraknya yang kalem tapi penuh wibawa. Sampai ada wartawan saya yang berseloroh: wartawan yang tulisannya jelek akan dijadikan makanan arwana.

Redaktur saya yang di Pontianak itu juga sudah tidak membiakkan arwana lagi. Ia sudah meninggal dunia.

Tidak mudah membiakkan arwana --mungkin karena itu HaHa memilih lebih bersemangat membiakkan sahamnya.

Sesukses-sukses jualan anak arwana tidak akan bisa laku Rp 6 triliun. Jualan saham arwana hanya perlu sedetik untuk klik. Langsung bisa laku Rp 6 triliun.

Padahal untuk membiakkan arwana perlu menunggu indukannya bertelur. Lalu sang induk menaruh telur itu di mulutnyi. Sampai menetas di situ.

Arwana yang sudah menetas  tidak langsung dilepas ke air bebas. Tetap disimpan dulu di mulut sang ibu. Menunggu dulu sampai si janin mampu berenang gesit. Tujuannya: agar begitu keluar dari mulut sang ibu bisa langsung lari kencang --menjauhi pemangsa. Bayi ikan arwana memang sasaran yang empuk untuk dimakan ikan lainnya.

Di mulut sang ibu itu bisa hidup 30 sampai 90 janin arwana. Kalau tidak percaya tanyalah Tukul bin Arwana. Pasti ia juga tidak tahu.

Maka orang seperti HaHa harus tahu: kapan sang induk sudah waktunya membuka mulut. Lalu memindahkan sang induk ke kolam khusus --agar membuka mulut di situ.

Kadang sang induk tidak mau membuka mulut --untuk melindungi janin anak-anaknyi. Maka petugas kolamlah yang akan mengocok-ngocok mulut induk arwana itu.

Di bursa saham tidak perlu berurusan dengan mulut arwana. Hanya mata yang harus jeli: kapan pengawasan OJK lagi lemah. Kapan pula pengawasan publik lagi minim.

Orang seperti HaHa jeli: saat menjelang Pilpres adalah waktu yang paling tepat.

Pada waktu seperti itu perhatian publik lagi ke Pilpres. Perhatian DPR juga lagi ke RUU mana yang harus dikejar untuk disahkan.

Masak sih hanya Carlos Ghosn yang tahu kapan saat yang tepat untuk berbuat sesuatu. Agar bisa lari dari tahanan di Jepang dengan dramatik.

HaHa --demikian juga Benny (Bentjok) Tjokrosaputra-- pasti tidak kalah cerdik dari mantan CEO Nissan-Renault-Mitsubishi itu.

Coba pikir, mana yang langkahnya lebih dramatik? Ghosn atau Bentjok dan HaHa?

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Ibunda Meninggal Dunia, Ferdy Sambo Tak Hadiri Pemakaman

Senin, 28 September 2026 | 15:41

UPDATE

Tiga Tantangan Utama Ekonomi Global Menurut IMF: Energi, Utang, dan Teknologi AI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 08:10

Tiga Indeks Wall Street Melemah, Dow Jones Turun 0,66 Persen

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:46

Harga Logam Mulia Redup Disengat Dolar AS dan Kenaikan Imbal Hasil

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:34

Mantan Ibu Negara Sri Lanka Ditangkap, Terseret Dugaan Penyalahgunaan Dana Donasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:16

Bursa Eropa Berguguran Disengat Lonjakan Minyak dan Obligasi

Kamis, 08 Oktober 2026 | 07:02

Baznas Perkuat Ekosistem Digital Fundraising

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:51

PDIP Didorong Galang Kekuatan Politik di DPR terkait Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:25

Pilpres 2029 Lampu Kuning untuk Gibran

Kamis, 08 Oktober 2026 | 06:01

Pakpok Putusan MK

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:33

Pramono Larang PMI Pungut Iuran ke ASN DKI

Kamis, 08 Oktober 2026 | 05:21

Selengkapnya