Berita

Publika

Punahnya Era Koran Yang Berujung Tragis...

KAMIS, 19 DESEMBER 2019 | 19:11 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

TOETY Azis tokoh pers perempuan yang bergulat dengan berbagai kesulitan tatkala mendirikan koran Surabaya Post, suatu hari memberikan petuah:

“Menerbitkan koran harus dengan tujuan luhur. Kalau cuma mau cari uang jangan terbitkan koran. Masih banyak bisnis lain yang terbuka luas”.

Surabaya Post pelopor koran sore. Raja koran Jawa Timur era 1970 sampai 1980-an. Terkenal dengan Jurnalisme Putih-nya.  Jurnalisme yang tidak menyerang. Tiada gosip. No sensation. Tiada mengusik privasi, tetapi misi dan informasinya mengena sasaran.


Toety Azis and her husband, Abdul Aziz, wartawan Republiken. Ikut gerilya waktu pertempuran meletus di Surabaya. Berpuluh tahun kemudian koran mereka meredup ketika pada pertengahan 1980-an muncul koran antitesis dari misi Surabaya Post, yang mengutamakan sensasi, infotainment, dan menyerobot pasar.

Persuratkabaran nasional lahir dari elan romantik, penuh bumbu cerita patriotik. Sebelum ada perjuangan bersenjata, tokoh pergerakan dulu menggunakan koran sebagai alat perjuangan melalui tulisan. Sukarno menulis, Agus Salim menulis, Tjokro menulis, semuanya menulis.
Wartawannya masuk keluar bui kolonial, hidup melarat  karena lebih mengidentikkan diri sebagai pejuang ketimbang pedagang.

Aspek bisnis tentu saja perlu, tetapi kewartawanan bukan jalan yang pas untuk mencari dan menumpuk kekayaan.
Kewartawanan adalah vocatio (panggilan). Pengabdian yang tiada henti-hentinya karena dituntun oleh naluri...

Di paruh pertama tahun 1950-an pers nasional dicirikan oleh personal journalism dengan tokoh-tokoh seperti Mochtar Lubis (Indonesia Raya), BM Diah (Merdeka), Suardi Tasrif (Abadi), dan Rosihan Anwar (Pedoman). Mereka berteman tetapi juga berantem, dan sanggup bersilat lidah dengan penguasa.  Umumnya pengendali meja redaksi saat itu ialah person of character (insan yang berwatak).

Persuratkabaran nasional yang dulu debutnya patriotik, sekarang berakhir tragis, ditandai oleh bermunculannya koran-koran partisan yang menjadi corong para taipan. Adapun koran-koran lama yang masih mencoba bertahan, bagaikan zombie menjalani hidup dengan menjilat-jilat apa saja yang bersedia dijilat. Mereka tergerus tekhnologi internet yang melahirkan media online. Walaupun sudah mencoba mengatasinya.

Di negara-negara yang infrastruktur telekomunikasinya sudah sangat maju koran-koran sudah tersingkir. Walaupun di Eropa dan Amerika masih banyak koran yang terbit lebih dari 100 tahun yang lalu masih sanggup bertahan. Di Indonesia koran-koran umumnya berumur pendek, tidak ada yang mencapai 100 tahun. Berdasarkan kenyataan ini sangat mungkin kepunahan suratkabar di negeri ini akan terjadi lebih cepat.

Lebih tragis lagi era punahnya koran-koran nasional saat ini diiringi dengan menjamurnya para buzzer yang masuk ke lapangan politik dengan melakukan praktek-praktek tercela di sosial media.  Yang menggerus dialektika pemikiran yang sehat, dan yang pada gilirannya menjadi ancaman yang dapat membinasakan demokrasi.

Penulis adalah wartawan senior Republik Merdeka

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya