Korban tewas dalam kerusuhan di Sacaba, Bolivia/Net
Jumlah korban tewas pasca pemilihan presiden Bolivia yang digelar 20 Oktober lalu terus meningkat. Kebanyakan korban tewas karena terkena tembakan peluru tajam.
Dalam kerusuhan yang terjadi hari Jumat kemarin (15/11) di Sacaba setidaknya delapan orang pendukung Evo Morales tewas. Begitu laporan BBC yang mengutip Associated Press.
Hari Sabtu kemarin (16/11), Kepala Komisi HAM PBB, Michelle Bachelet, memperingatkan, kekerasan di Bolivia dapat berkembang seingga tidak dapat dikontrol.
“Aksi represif otoritas dapat merusak jalan dialog yang mungkin dilakukan,†ujarnya.
Kerusuhan pasca pilpres 20 Oktober semakin menjadi ditingkahi oleh kudeta yang dilakukan kelompok militer. Evo Morales memutuskan untuk mengundurkan diri hari Minggu pekan lalu (10/11). Sehari kemudian ia terbang ke Meksiko yang menjamin keselamatan dan menawarkan suaka politik untuknya.
Dalam pernyataan yang disiarkan dari Meksiko terkait kerusuhan di Sacaba, Morales mengatakan kekerasan aparat dalam merespon aksi protes rakyat Bolivia yang menentang kudeta atas dirinya adalah pembantaian (
massacre).
Morales juga merespon ancaman Ketua Senat yang mengklaim diri sebagai presiden sementara, Jeanine Ãñez, yang akan menghukum dirinya bila kembali ke Bolivia.
Menurut Morales dalam wawancara dengan
BBC Mundo, dirinya tidak bisa disalahkan atas tuduhan kekacauan pemilu karena dia sebagai presiden tidak memimpin lembaga penyelenggara pemilu.
Bahkan, Morales menambahkan, beberapa figur penting di tubuh penyelenggara pemilu Bolivia adalah tokoh oposisi.
Sementara Jeanine Ãñez juga telah mengambil tindakan tegas lain. Hari Selasa (12/11) ia memutuskan hubungan diplomatik dengan dua negara yang selama ini menjalin hubungan dekat dengan Bolivia, yakni Venezuela dan Kuba. Sebanyak 700 anggota misi kesehatan Kuba telah dipulangkan ke negara mereka.
Pemutusan hubungan diplomatik dengan Venezuela dan Kuba ini adalah isyarat kuat yang diberikan Jeanine Ãñez kepada para pendukung kudeta bahwa pemerintahan sementara yang dipimpinnya tidak memiliki kaitan dengan negara-negara sosialis itu.