Berita

Korban tewas dalam kerusuhan di Sacaba, Bolivia/Net

Dunia

Situasi Bolivia Semakin Tidak Menentu, Jumlah Korban Tewas Bertambah, Hubungan Diplomatik Dengan Venezuela Dan Kuba Diputuskan

MINGGU, 17 NOVEMBER 2019 | 06:51 WIB | LAPORAN: YELAS KAPARINO

Jumlah korban tewas pasca pemilihan presiden Bolivia yang digelar 20 Oktober lalu terus meningkat. Kebanyakan korban tewas karena terkena tembakan peluru tajam.

Dalam kerusuhan yang terjadi hari Jumat kemarin (15/11)  di Sacaba setidaknya delapan orang pendukung Evo Morales tewas. Begitu laporan BBC yang mengutip Associated Press.

Hari Sabtu kemarin (16/11), Kepala Komisi HAM PBB, Michelle Bachelet, memperingatkan, kekerasan di Bolivia dapat berkembang seingga tidak dapat dikontrol.


“Aksi represif otoritas dapat merusak jalan dialog yang mungkin dilakukan,” ujarnya.

Kerusuhan pasca pilpres 20 Oktober semakin menjadi ditingkahi oleh kudeta yang dilakukan kelompok militer. Evo Morales memutuskan untuk mengundurkan diri hari Minggu pekan lalu (10/11). Sehari kemudian ia terbang ke Meksiko yang menjamin keselamatan dan menawarkan suaka politik untuknya.

Dalam pernyataan yang disiarkan dari Meksiko terkait kerusuhan di Sacaba, Morales mengatakan kekerasan aparat dalam merespon aksi protes rakyat Bolivia yang menentang kudeta atas dirinya adalah pembantaian (massacre).

Morales juga merespon ancaman Ketua Senat yang mengklaim diri sebagai presiden sementara, Jeanine Áñez, yang akan menghukum dirinya bila kembali ke Bolivia.

Menurut Morales dalam wawancara dengan BBC Mundo, dirinya tidak bisa disalahkan atas tuduhan kekacauan pemilu karena dia sebagai presiden tidak memimpin lembaga penyelenggara pemilu.

Bahkan, Morales menambahkan, beberapa figur penting di tubuh penyelenggara pemilu Bolivia adalah tokoh oposisi.

Sementara Jeanine Áñez juga telah mengambil tindakan tegas lain. Hari Selasa (12/11) ia memutuskan hubungan diplomatik dengan dua negara yang selama ini menjalin hubungan dekat dengan Bolivia, yakni Venezuela dan Kuba. Sebanyak 700 anggota misi kesehatan Kuba telah dipulangkan ke negara mereka.

Pemutusan hubungan diplomatik dengan Venezuela dan Kuba ini adalah isyarat kuat yang diberikan Jeanine Áñez  kepada para pendukung kudeta bahwa pemerintahan sementara yang dipimpinnya tidak memiliki kaitan dengan negara-negara sosialis itu.

Populer

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

Gibran Jadi Kartu Mati Prabowo di Pilpres 2029

Minggu, 22 Februari 2026 | 03:02

Jokowi Sangat Menghindari Pembuktian Ijazah di Pengadilan

Kamis, 19 Februari 2026 | 12:59

UPDATE

Muawiyah Ubah Khilafah Jadi Tahta Warisan Anak

Minggu, 01 Maret 2026 | 02:10

Arab Saudi Kutuk Serangan Iran di Timteng, Ancam Serang Balik

Minggu, 01 Maret 2026 | 02:00

Pramono Siapkan Haul Ulama Betawi di Monas

Minggu, 01 Maret 2026 | 01:40

Konflik Global Bisa Meletus Gegara Serangan AS-Israel ke Iran

Minggu, 01 Maret 2026 | 01:26

WNI di Iran Diminta Tetap Tenang

Minggu, 01 Maret 2026 | 01:09

Meriahnya Perayaan Puncak Imlek

Minggu, 01 Maret 2026 | 01:03

Jemaah Umrah Jangan Panik Imbas Timteng Memanas

Minggu, 01 Maret 2026 | 00:31

Jakarta Ramadan Festival Gerakkan Ekonomi Rakyat

Minggu, 01 Maret 2026 | 00:18

Pramono Imbau Warga Waspadai Intoleransi hingga Hoaks

Minggu, 01 Maret 2026 | 00:03

PT Tigalapan Klarifikasi Tuduhan Penggelapan Proyek

Minggu, 01 Maret 2026 | 00:01

Selengkapnya