Berita

Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi/Reuters

Dunia

Ketua DPR AS: Trump Telah Mengakui Suap

JUMAT, 15 NOVEMBER 2019 | 07:48 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Ketua DPR Amerika Serikat Nancy Pelosi mengatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah mengakui suap dalam skandal Ukraina di tengah penyelidikan yang tengah berlangsung dan dipimpin oleh kubu Demokrat.

"Suap itu untuk memberikan atau menahan bantuan militer sebagai imbalan atas pernyataan publik tentang penyelidikan palsu dalam pemilihan. Itu adalah suap," tegas Pelosi pada Kamis(14/11), sehari setelah audiensi publik pertama dalam penyelidikan pemakzulan yang dia umumkan pada bulan September lalu.

"Apa yang telah diakui oleh presiden dan mengatakan itu sempurna, saya katakan itu sangat salah. Ini suap," kata Pelosi seperti dimuat Reuters.


Diketahui bahwa fokus penyelidikan itu adalah pada panggilan telepon tanggal 25 Juli lalu di mana Trump meminta Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk menyelidiki saingan Demokratya, Joe Biden dan putranya, Hunter Biden yang pernah menjabat sebagai anggota dewan untuk sebuah perusahaan energi Ukraina bernama Burisma.

Pelosi membandingkan tindakan Trump dengan perilaku mantan Presiden Richard Nixon dalam skandal korupsi Watergate yang pada 1974 membuatnya menjadi satu-satunya presiden Amerika Serikat yang mengundurkan diri.

Trump diduga menyalahgunakan kekuasaannya dengan menahan 391 juta dolar AS dalam bentuk bantuan keamanan Amerika Serikat ke Ukraina sebagai pengaruh untuk menekan Ukraina untuk melakukan penyelidikan tersebut, yang menguntungkan Trump secara politis.

Padahal, anggaran itu telah disetujui oleh Kongres untuk membantu sekutu Amerika Serikat memerangi separatis yang didukung Rusia di bagian timur negara itu dan kemudian diberikan ke Ukraina.

Trump sendiri membantah melakukan kesalahan tersebut.

Komentar terbaru Pelosi tersebut dapat menawarkan preview atas pemakzulan yang mungkin diajukan oleh Demokrat. Pada konferensi persnya, dia juga mengatakan pemerintahan Trump telah melakukan penghalang Kongres dengan memblokir kesaksian pejabat yang dipanggil untuk bersaksi dalam penyelidikan.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Oknum Prajurit di Lokasi Penggeledahan di Luar Mandat TNI

Sabtu, 11 Juli 2026 | 03:29

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

KPK Benaran Sakit Jiwa, Gedung Merah Putih Mending untuk Merawat ODGJ

Kamis, 16 Juli 2026 | 19:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

UPDATE

Harga Minyak Dunia Menetap di Level 84 Dolar AS

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:17

Kejaksaan Agung Casablanca Bebaskan A.M. demi Jaga Objektivitas Proses Hukum

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:16

Usulan Nasdem Naikkan Ambang Batas Diduga untuk Jegal PSI

Jumat, 17 Juli 2026 | 10:14

Komisi XII DPR: Kelangkaan BBM di Sumut Bukan Persoalan Biasa

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:58

IHSG Balik Arah ke Zona Merah, Dolar AS Melemah ke Rp17.943

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:45

Pertarungan Bisnis Adidas-Nike dan Pundi Pundi FIFA di Piala Dunia 2026

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:44

Pulau Baai Butuh Solusi Permanen, Bukan Pengerukan Berulang

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:39

Emas Antam Anjlok Rp27.000, Satu Gram Jadi Rp2,6 Juta

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:31

Bobby Adhityo Dicecar KPK soal Pengaturan Temuan Audit BPK

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:26

Terungkap, 307 Ribu QR Code BBM Subsidi Bermasalah Diblokir

Jumat, 17 Juli 2026 | 09:17

Selengkapnya