Berita

Jaya Suprana

Jaya Suprana

Bencimologi

SENIN, 11 NOVEMBER 2019 | 06:29 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KELIRUMOLOGI bukan ilmu membuat kekeliruan namun upaya mempelajari kekeliruan. Humorologi mempelajari humor. Malumologi mempelajari malu. Alasanologi mempelajari alasan. Maka bencimologi bukan ilmu membuat benci namun upaya mempelajari apa yang disebut sebagai kebencian.

Emosi

Benci adalah suatu bentuk perasaan lebih bersifat subyektif ketimbang obyektif. Benci yang saya atau anda rasakan tidak sama dengan benci yang dia apalagi mereka rasakan. Bahkan benci terkait dimensi waktu maka benci kemarin bisa berubah menjadi kasih-sayang sekarang dan sebaliknya. Benci adalah suatu bentuk perasaan yang dapat berubah maka pada hakikatnya dapat dipertahankan, dikembangkan, dikurangi atau bahkan dilenyapkan. Tergantung kehendak yang merasa benci.


Alkitab

Di dalam Alkitab Nasrani tersurat cukup banyak kisah tentang kebencian. Diawali oleh Kain yang benci terhadap Habil sampai tega membunuh adik-kandungnya sendiri. Yusuf yang dibenci oleh sebelas saudara-daranya. Saul sangat benci Daud. Kemudian dengan penuh kebencian Raja Herodes memerintahkan pemenggalan kepala Johanes serta membantai semua bayi lelaki yang baru dilahirkan di Bethlehem. Namun puncak kebencian terjadi pada saat masyarakat Jerusalem berkomplot dengan rezim kolonialis Romawi memfitnah, menangkap, menganiaya kemudian menyalib Jesus Kristus di bukit Golgotha.

Sejarah

Lembaran sejarah dunia berlumuran darah perang akibat kebencian. Perang terdahsyat yang membinasakan puluhan juta manusia adalah Perang Dunia II yang disulut oleh Adolf Hitler di Eropa dan Hirohito di Asia-Pasifik. Setelah Perang Dunia II menyusul Perang Korea, Perang Kemerdekaan China, Perang Kemerdekaan Indonesia, Perang Vietnam, Perang Teluk, Perang Afghanistan , Perang Suriah, dan berbagai terorisme di segenap pelosok dunia membinasakan ratusan juta manusia.

Pilpres 2019 menyulut kebencian antara kampret versus cebong yang memuncak pada tragedi berdarah 22-23 Mei 2019 membinasakan delapan orang serta melukai puluhan orang. Wajah Novel Baswedan disiram air keras alih-alih dikasihani malah dibenci oleh pihak tertentu sampai tega melaporkan Novel ke polisi atas dugaan penipuan.

Terkesan kebencian merupakan bagian melekat pada peradaban umat manusia. Namun lebih memprihatinkan bahwa kaum teroris bahkan siap tanpa  kebencian membunuh sesama manusia yang dibunuh. Teroris tanpa membenci siap membunuh sesama manusia atas nama agama. Alasan membunuh tidak perlu kebencian sebab dapat dilakukan tanpa alasan kecuali alasan memang ingin membunuh saja. Mereka yang membunuh sesama manusia pada tragedi 22-23 Mei 2019 tidak membenci sebab yang membunuh dan yang dibunuh sama sekali tidak saling mengenal.

Teori

Berbagai teori berupaya menjelaskan alasan manusia membenci sesama manusia antara lain teori ketakutan atas hal-hal yang berbeda, teori out-group in-group,  teori partisipasi dalam kelompok,  teori mengalihkan diri dari perasaan seperti ketidakberdayaan, teori lingkungan budaya dan politik bahkan teori solidaritas.  Saya pribadi lebih berupaya bukan menganalisa namun menanggulangi rasa benci pada diri saya sendiri. Saya berupaya mewarisi falsafah Ojo Dumeh dari orang tua saya serta Jihad Al Nafs dari Gus Dur. Maka saya berupaya menaklukkan hawa nafsu angkara murka kebencian bukan pada orang lain namun pada diri saya sendiri. Setiap kali rasa benci menyelinap ke lubuk sanubari, langsung saya berupaya Ojo Dumeh demi Jihad Al Nafs menaklukkan angkara murka kebencian pada diri saya sendiri. 

Kebencian

Maka ketika para pendukung kebijakan penggusuran dengan penuh kebencian menghujat saya akibat dianggap menghalangi niat para penggusur menggusur rakyat atas nama pembangunan, saya langsung berupaya meredam bara kebencian yang membakar lubuk sanubari saya sendiri. Alih-alih membalas hujatan mereka, saya mengendalikan batin diri saya sendiri agar senantiasa sadar bahwa diri saya sendiri tidak sempurna maka tidak berhak membenci mereka yang membenci saya.

Saya berjuang menunaikan Jihad Al Nafs, menaklukkan diri saya sendiri sambil  mencoba mengerti alasan para penghujat menghujat saya. Saya yakin para penggusur sebenarnya tidak membenci saya atau rakyat yang digusur namun sekedar melaksanakan tugas untuk menggusur rakyat atas nama pembangunan. Memang melenyapkan rasa benci tidak mudah namun sebenarnya tidak mustahil sebab pasti mampu apabila mau.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya