Berita

Salah satu bagian di pabrik pengayaan uranium Iran/Net

Dunia

Mundur Dari Perjanjian Nuklir 2015, Iran Perkaya Uranium Di Tingkat Lima Persen

MINGGU, 10 NOVEMBER 2019 | 06:59 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah Iran memastikan bahwa negara tersebut saat ini tengah memperkaya urainum hingga ke angka lima persen.

Langkah itu diambil Iran setelah mundur dari komitmennya di bawah perjanjian nuklir bersejarah tahun 2015 lalu dengan negara-negara kekuatan dunia.
Perjanjian itu  menetapkan batas 3,67 persen untuk pengayaan uranium Iran. Pada mulanya, Iran patuh pada batasan tersebut. Namun kemudian Amerika Serikat, di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, menarik diri dari perjanjian itu secara sepihak dan menerapkan kembali sanksi terhadap Iran.
Karena itulah, Iran mengambil langkah signifikan untuk kembali memperkaya uraniumnya.


"Berdasarkan kebutuhan kami dan apa yang telah kami pesan, kami saat ini memproduksi lima persen," kata jurubicara Organisasi Energi Atom Iran, Behrouz Kamalvandi.

Pada sebuah konferensi pers (Sabtu, 9/11), dia mengatakan bahwa Iran memiliki kapasitas untuk memperkaya uraniumnya.

"(Baik itu) lima persen, 20 persen, 60 persen, atau persentase apa pun," klaimnya seperti dimuat Al Jazeera.

Para pejabat Iran sendiri kerap menegaskan bahwa pengayaan uranium yang dilakukan adalah dengan tujuan untuk positif, yakni menghasilkan bahan bakar bagi pembangkit listrik tenaga nuklir.

Namun Amerika Serikat memandang lain dan menuding bahwa pengayaan uranium akan digunakan Iran untuk bentuk yang sangat luas, seperti membuat inti fisil untuk hulu ledak nuklir.
Padahal tuduhan itu tidak tepat. Pasalnya, meski tingkat lima persen pengayaan uranium yang saat ini dilakukan Iran telah melebihi batas yang ditetapkan oleh perjanjian tahun 2015 itu, tetapi masih rendah atau kurang dari 20 persen yang sebelumnya dioperasikan Iran dan jauh lebih sedikit dari tingkat 90 persen yang diperlukan untuk hulu ledak nuklir.

Iran melanjutkan pengayaan uranium di pabrik Fordow di selatan Teheran pekan lalu. Sebelumnya, Iran sudah memperkaya uranium di pabrik lain di Natanz.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Deteksi Dini, Lapas Cianjur Periksa Kesehatan Warga Binaan dan Pegawai

Jumat, 25 September 2026 | 20:20

Tahu Manuver Pelindo, Kejagung Serahkan Eksekusi Silfester Matutina ke Kejari Jaksel

Jumat, 25 September 2026 | 20:16

Antam Serap 9 Ton Emas Freeport hingga Agustus 2026

Jumat, 25 September 2026 | 19:43

160 Ribu Orang Ikut Rekrutmen BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

Jumat, 25 September 2026 | 19:36

Ratusan Hotel di Bandung Dijual, Pemerintah Jangan Tutup Mata!

Jumat, 25 September 2026 | 19:09

Kata IPW, Ombudsman Melampaui Kewenangan Saat Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 19:08

Xiaomi 18 Fold Smartphone Lipat Canggih Bertenaga Kamera Leica

Jumat, 25 September 2026 | 18:41

Bogasari Dorong UMKM Surabaya Naik Kelas

Jumat, 25 September 2026 | 18:37

KPU Harus Terang Benderang Jelaskan Verifikasi Syarat Pendidikan Gibran

Jumat, 25 September 2026 | 18:28

DPR Segera Panggil Ombudsman dan Ditjenpas soal Sidak Lapas Cibinong

Jumat, 25 September 2026 | 18:18

Selengkapnya