Berita

Fuad Bawazier/Net

Publika

Perlunya Keterbukaan APBN-APBD Dan Kontrol Publik

RABU, 06 NOVEMBER 2019 | 08:51 WIB | OLEH: FUAD BAWAZIER

RICUH Rancangan APBD DKI semakin bergerak liar dan ada yang memanfaatkannya secara politik untuk memukul Anies Baswedan.

Tapi bisa jadi akhirnya yang terpukul gubernur-gubernur sebelumnya, bahkan pemerintah pada umumnya, baik pemerintah pusat maupun pemda, yang umumnya anggarannya belum transparan. Ricuh ini diharapkan bisa membuka mata publik bahwa uang rakyat dalam bentuk APBN/APBD selama ini memang masih bermasalah.

Seharusnya semua Anggaran baik APBN maupun APBD setelah resmi disahkan oleh DPR dan DPRD dibuka ke publik. Sehingga bila ditemukan kejanggalan dapat diperbaiki atau dicegah pelaksanaannya dan atau diubah dalam/melalui anggaran perubahan. Artinya, semua orang seharusnya punya akses membukanya atau membaca anggaran sampai yang terinci yaitu satuan yang terakhir, kalau di APBN adalah satuan enam.


Itulah salah satu gunanya e-budgeting, dan e-procurement yaitu agar semua orang tahu dan bisa ikut mengawasinya. Kalau memang benar dan jujur, kenapa takut anggarannya diketahui rakyatnya?

Pengecualian barangkali dapat di berikan kepada anggaran persenjataan tertentu dan kegiatan intelijen tertentu karena sifatnya yang rahasia.

Karena itu pemerintah khususnya  Menteri Keuangan  jangan “menggunakan tangan Mahkamah Konstitusi (MK)” untuk melarangnya seperti dalam hal APBN, di mana DPR-RI sebagai perwakilan rakyat tidak bisa mengakses rincian APBN. Padahal dirincian itulah kelihatan bodong dan boros tidaknya suatu anggaran.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa APBN kita tidak transparan karena detil nya tidak diketahui publik, padahal nilainya ribuan triliun rupiah. Dan sudah lama menjadi dugaan (keyakinan) publik bahwa kebocoran dalam APBN dan APBD sekitar 30 persen bahkan bisa lebih. Pemeriksaan keuangan oleh BPK sama sekali tidak menjamin “kebersihan” pelaksanaan anggaran.

Laporan BPK yang sifatnya sampling sekalipun sering menunjukkan temuan temuan atau indikasi adanya penyimpangan atau pelanggaran yang merugikan keuangan negara.

Karena itu, semoga ribut-ribut RAPBD DKI menjadi pembuka jalan untuk publik bisa mendapatkan akses membuka APBN secara penuh/detil. Sejujurnya publik sebenarnya masih gelap dengan isi anggaran. Publik hanya tahu angka angka besarannya saja yang hanya berguna untuk analisa para ekonom.

Bila kemudian publik mendapatkan akses terhadap rincian anggaran, saya yakin pengawasan yang sebenarnya akan terwujud, yakni menuju anggaran yang efisien dan efektif. Tidak diragukan lagi bahwa pada awal awalnya rakyat akan terkaget kaget  dan pejabat akan kebingungan dan ketakutan setengah mati. Akan ketahuan bahwa anggarannya ceroboh dan nakal. Tapi saya kira  setelah 2 hingga 3 tahun berjalan akan menjadi  terbiasa dan kebiasaan buruk dalam merencanakan dan melaksanakan anggaran akan mengecil dan berkurang drastis.

Permainan mungkin akan bergeser pada penurunan kualitas atau kuantitas, tapi  saya yakin inipun akan hilang bila yang mengawasi atau memeranginya publik.

Karena itu siap siap saja jika full transparansi atau prosedur baru dalam penganggaran ini bisa terwujud atau terjadi. Mengapa? Sebab semua gubernur sampai menteri dan Istana akan kebakaran jenggot karena anggaran markup, gombal dan fiktif serta tidak perlu alias mengada-ada akan terungkap.

Transparansi ini amat bagus dan di perlukan sebab anggaran akan bersih, pemerintah dan DPR/DPRD tidak lagi sembarangan dalam menyusun anggaran, karena masyarakat ikut ngontrol.

Jadi ribut ribut RAPBD DKI ini sebetulnya peluang emas untuk melakukan reformasi anggaran, semua anggaran, dan utamanya APBN. Lebih lebih setelah kini KPK  tidak bergigi seperti sebelum revisi UU KPK, maka pengawasan anggaran hanya bisa mengandalkan dan efektif bila di lakukan langsung oleh masyarakat.

Apakah refeormasi anggaran ini akan terwujud, tentulah tergantung pada political will Presiden Jokowi. Sebab para koruptor anggaran bukan saja akan melawannya tetapi  juga akan mencari akal baru untuk “mengatasinya” agar kemesraan tidak cepat berlalu.

Penulis adalah Menteri Keuangan pada Kabinet Pembangunan VII

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

Harga Daging Sapi Tembus Rp153 Ribu/Kg, Zulhas Buka Opsi Subsidi APBN-APBD

Selasa, 25 Agustus 2026 | 14:18

LPSK Beri Perlindungan kepada Ferry Hongkiriwang, Saksi Kasus Febrie Adriansyah

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:54

Urusan Gula Konsumsi Aman, Kementan Kini Bidik Target Gula Industri di 2028

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:45

Ahmed al-Sharaa Sambut Keputusan AS Hapus Suriah dari Daftar Sponsor Teror

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Geng Haiti Bantai 40 Pengungsi yang Berlindung di Gereja

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:42

Wajah Baru Jakarta, Wagub Rano Resmikan Jaksinema Pasar Rumput

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:29

BMKG Maksimalkan OMC di Kaltim Sepekan Ini untuk Tangani Karhutla

Selasa, 25 Agustus 2026 | 13:19

Dugaan Setoran Importasi Blueray, KPK Cecar Dua PNS Bea Cukai

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:50

Kasus OTT Unsoed Bisa Saja Terjadi di Kampus Lain

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Perketat Imigrasi, Trump Bersiap Cabut 200 Ribu Visa WNA

Selasa, 25 Agustus 2026 | 12:46

Selengkapnya