Berita

Menko Perekonomian Airlangga beserta rombongan di acara ASEAN Summit/Ist

Dunia

Menko Airlangga Dorong Penyelesaian Program Prioritas MEA

SABTU, 02 NOVEMBER 2019 | 05:12 WIB | LAPORAN: ANGGA ULUNG TRANGGANA

Indonesia menyambut baik rencana pelaksanaan Mid Term Review (MTR) terhadap Cetak Biru ASEAN 2025. MTR dipandang sangat penting untuk melihat output, outcome maupun dampak nyata dari integrasi ekonomi menuju ASEAN Vision 2025.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian selaku Ketua Dewan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), Airlangga Hartarto dalam pertemuan ASEAN Economic Community (AEC) Council, Kamis (31/10), mengharapkan, MTR dapat menghasilkan rekomendasi solusi untuk menyelesaikan isu carry-over yang belum sempat terimplementasi pada tahun-tahun sebelumnya ke tahun implementasi selanjutnya.

“Indonesia mengharapkan agar update informasi secara periodik tentang implementasi prioritas pada tahun berjalan dapat disediakan, dalam rangka mendorong tingkat implementasi prioritas-prioritas tahunan, baik di tingkat negara maupun ASEAN,” tutur Airlangga dalam keterangan tertulis, Jumat (1/11).


Pasalnya, dalam beberapa tahun terakhir tingkat penyelesaian prioritas tahunan AEC Blueprint 2025 hanya berada pada kisaran 60%, kecuali untuk tahun ini yang tingkat implementasinya diperkirakan dapat mencapai sekitar 91 persen.

Dalam pertemuan tersebut, Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia juga mendorong dilakukannya kajian tentang development gap antar ASEAN Member States (AMS).

Kajian tersebut, kata Airlangga dilakukan untuk menyusun prioritas pada tahun-tahun selanjutnya yang diharapkan dapat mempersempit kesenjangan antar negara anggota ASEAN.

“Indonesia mendorong ASEAN untuk memperhatikan perbedaan tingkat pembangunan diantara AMS dan memprioritaskan inisiatif-inisiatif berdasarkan tingkat practicality serta nilai tambahnya,” ujar dia.

Selain itu, pemerintah juga berharap agar implementasi atas instruksi AEC Council kepada seluruh badan sektoral yang berada di bawah koordinasinya tersebut dapat membuat proses kerja di ASEAN menjadi lebih efisien dan efektif.

Termasuk untuk mengatasi tumpang tindih tugas dan fungsi diantara badan-badan sektoral.   

Indonesia mengusulkan agar isu Fourth Industrial Revolution (4IR) yang sangat luas dan bersifat lintas sektor dapat ditangani oleh lembaga sektoral yang menangani bidang industri dibawah AEC Council.

“Dalam hal ini perlu dibahas lebih lanjut mekanismenya, termasuk kebutuhan perubahan ASEAN Charter untuk mengakomodir usulan tersebut,” Airlangga menambahkan.

Adapun, Airlangga mengapresiasi tingkat implementasi kolektif dari 171 prioritas tahunan ASEAN 2019, yang hingga saat ini telah mencapai 93 prioritas atau 54,4 persen.

Indonesia sendiri, menurutnya, telah menyelesaikan 103 prioritas atau 61 persen. Secara kolektif, diperkirakan ASEAN dapat menyelesaikan sekitar 91.2 persen prioritas di tahun 2019.

Sebagai informasi, berlakunya AEC pada tahun 2015 merupakan langkah besar bagi integrasi ekonomi ASEAN, karena menawarkan peluang yang besar dengan potensi pasar mencapai 3 triliun dolar AS dan 649 juta penduduk.

Sejak diberlakukannya AEC Blueprint 2025, upaya integrasi dilakukan secara bertahap melalui target Annual Priorities yang harus dipenuhi oleh negara anggota pada setiap tahunnya.

AEC Council di negara anggota bertanggung jawab memantau perkembangan implementasi setiap prioritas dan melaporkannya pada pertemuan AEC Council Meeting di ASEAN Summit, termasuk pada kesempatan ASEAN Summit ke-35 kali ini.

Tahun 2018 total perdagangan ASEAN mencapai 2,8 triliun dolar AS dengan perdagangan intra-ASEAN memiliki porsi terbesar yaitu 23 persen.

Berdasarkan data ASEAN Secretariat, nilai ekspor Indonesia ke ASEAN dalam kurun waktu 2015-2018 mengalami peningkatan sebesar 25 persen dari 33 juta dolar AS menjadi 42 juta Dolar AS pada 2018.

Sementara itu sebesar 39 persen aliran investasi asing langsung (FDI) yang masuk ke Indonesia pada tahun 2018 berasal dari ASEAN.

Pada periode 2015-2018, nilai FDI yang masuk dari ASEAN ke Indonesia naik 24 persen, semula 9,1 miliar dolar AS menjadi 11,3 miliar DOlar AS pada tahun 2018.


Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya