Berita

Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Rombak Kurikulum

SABTU, 02 NOVEMBER 2019 | 05:04 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

REFORMASI besar-besaran. Di bidang kurikulum pendidikan. Itulah instruksi Presiden Joko Widodo. Kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Kemarin.
 
Kata 'reformasi' saja sudah sangat ekstrem. Apalagi ditambah kata 'besar-besaran'. Saking hebatnya perombakan itu nanti sampai saya tidak bisa membayangkan: betapa dahsyatnya.
 
Kurikulum memang menjadi perhatian Pak Jokowi. Sejak menjadi presiden yang pertama. Waktu itu kurikulum 'K-13' baru diterapkan. Baru tiga tahun. Berarti baru kelas satu sampai kelas tiga yang sudah merasakan 'K-13'.
 

 
'K-13' langsung dibatalkan. Pembatalannya pun di tengah tahun ajaran. Tidak menunggu tutup tahun. Itu terjadi di awal masa pemerintahan pertama beliau. Masih bulan Desember. Ketika beliau baru dua bulan berada di istana.
 
Waktu itu Mendikbud-nya Prof. Dr. Anies Baswedan. Tidak sampai terjadi kehebohan. Batal begitu saja. Diterima begitu saja. Dua tahun kemudian Anies Baswedan diganti.
 
Menteri yang baru, Prof. Dr. Muhadjir Effendi membatalkan kurikulum masa Anies. Untuk dikembalikan ke 'K-13'. Dengan sedikit penyesuaian. Juga tidak ada kehebohan. Masyarakat sudah pasrah, kelihatannya.
 
Sejak instruksi Jumat kemarin itu nasib kurikulum apa pun menjadi tidak relevan lagi. Harus direformasi. Besar-besaran.
 
Masih ada tambahan: harus melibatkan teknologi. Harus fleksible. Bisa dengan cepat menyesuaikan dengan perkembangan. Terutama kecepatan perubahan teknologi.
 
Pokoknya, hebatlah. Akankah kali ini juga akan diterima begitu saja?

Kali ini bisa akan ramai. Akan heboh. Atau ya adem-ayem saja. Diterima saja. Apa pun jadinya nanti.
 
Di Indonesia ini begitu banyak ahli kurikulum. Begitu banyak aliran kurikulum. Masing-masing dengan teori pembenarannya. Saya, tentu, tidak ahli kurikulum.
 
Maka saya tidak perlu dilibatkan. Juga tidak perlu berkomentar. Kian banyak yang dilibatkan kian ruwet. Kurikulum adalah sarana untuk mencetak manusia masa depan. Lewat pembelajaran di usia dini seorang manusia.
 
Maka pertanyaan utama adalah: manusia seperti apa yang diinginkan di masa depan? Manusia yang pandai? Atau manusia yang berkarakter? Atau manusia yang berbudi pekerti baik?
 
"Mengapa harus 'atau'?“ ujar Prof. Dr. Ir. Mohamad Nuh, mantan Mendiknas. Mantan Menteri Kominfo. Alumni ITS dan Perancis. Mantan rektor di almamaternya.
 
Dan yang penting, di zaman Pak Nuh-lah kurikulum 'K-13' dirumuskan. Yakni di tahun 2013. "Saya memilih 'dan'. Bukan 'atau'," ujar beliau.

Maka, katanya, yang akan dicetak adalah 'manusia yang pintar dan berkarakter dan berbudi pekerti baik. "Pinter saja tidak cukup," katanya.
 
Tentu Pak Nuh siap berargumentasi. "Teknologi itu berubah terus. Mungkin tiap tahun. Bahkan bisa tiap tiga bulan," katanya.
 
Maka kurikulum yang diperlukan adalah yang bisa membuat kapasitas otak menjadi besar. "Kalau kapasitas otaknya besar manusia bisa menerima perubahan secepat apa pun," katanya.
 
Saya tahu kapasitas otak Nadiem Makarim juga sangat besar. Tapi persoalan kurikulum yang harus direformasi besar-besaran ini bisa membuat otak besarnya itu kian bertambah besar.
 
Agar tidak meledak.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Presiden Prabowo Patok Belanja Negara Rp4.097 Triliun, Defisit Rp671,2 T di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 18:15

Pemerintah Anggarkan Belanja Rp4.097 Triliun untuk Delapan Program Prioritas di 2027

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:59

Titah Prabowo Usut Tambang Ilegal Wajib Dilaksanakan TNI-Polri

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:55

Prabowo Targetkan Efisiensi Rp360 Triliun dari Belanja Pemerintah

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:41

Muktamar NU dalam Pusaran Politik Kepentingan Umat

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:20

Prabowo Usul Beri Kewarganegaraan Ganda bagi Diaspora dengan Talenta Terbaik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:10

Iwan Sumule: Program Prabowo adalah Amanat Konstitusi

Jumat, 14 Agustus 2026 | 17:09

Kepastian RUU Perampasan Aset, Menteri Hukum: Tunggu DPR Gelar Uji Publik

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:53

Prabowo Siapkan Ambulans Udara hingga Tim Dokter Terbang untuk Layani Daerah Terpencil

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:52

Prabowo Buka Opsi Datangkan Dokter dari Luar Negeri untuk Praktik di Indonesia

Jumat, 14 Agustus 2026 | 16:32

Selengkapnya