Berita

Dahlan Iskan di Xinjiang, China/Istimewa

Dahlan Iskan

Imaji Xinjiang

MINGGU, 27 OKTOBER 2019 | 05:03 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INI Las Vegas.
 
Bukan.
 
Ini Wyoming.
 

 
Bukan.
 
Ini Idaho.
 
Bukan.
 
Ini Xinjiang.
 
Betul.
 
Ini Xinjiang bagian utara. Mirip sekali dengan Las Vegas, Wyoming, Idaho, Montana, Nevada dijadikan satu.
 
Imajinasi awal saya tentang Xinjiang adalah padang pasir. Terpencil. Kering. Berdebu. Sangat terik di musim panas. Bersalju yang menggigil di musim dingin.
 
Imajinasi saya yang lain: Xinjiang adalah 100 persen suku Uygur. Muslim. Ingin merdeka dari Tiongkok.
 
Imajinasi lainnya adalah: wanita Xinjiang cantik-cantik. Wajah mereka seperti gabungan antara Tionghoa dan Arab.
 
Ternyata Xinjiang tidak identik dengan Urumqi --ibukotanya. Orang sana menyebut nama kota itu Ulumuqi.
 
Kota ini sudah tidak ada bedanya dengan kota besar lainnya di Tiongkok. Penuh gedung pencakar langit. Tidak bisa dihitung. Lebih banyak dari Jakarta sekali pun.
 
Kereta bawah tanahnya baru: sepanjang 20 km.
 
Yang beda: papan namanya. Nama toko, hotel, kantor, resto, nama jalan, dan apa saja didahului huruf Arab.
 
Baru di bawahnya ditulis dalam huruf Mandarin.
 
Sebagai lulusan pesantren saya coba baca semua kalimat dalam huruf Arab itu. Saya bisa membacanya. Tapi tidak tahu artinya. Rupanya itu bukan bahasa Arab.
 
Itu bahasa Uygur.
 
Hanya tulisannya huruf Arab. Seperti orang Riau: menggunakan huruf Arab tapi bunyinya Melayu. Atau seperti kitab-kitab di pondok pesantren: tulisannya Arab, tapi bunyinya bahasa Jawa.
 
Waktu ke salah satu desa di pojok dekat perbatasan Afghanistan saya memperkenalkan diri. Saya tulis nama saya di tanah. Dengan alat tulis batu kerikil. Saya tuliskan nama saya dengan huruf Arab.
 
Mereka tahu nama saya: Dahlan Iskan.
 
Saya pun minta ia menuliskan namanya. Ia menulis dengan huruf Arab: Umar.
 
Di mana-mana tulisan Arab mendahului tulisan Mandarin. Termasuk di toilet-toilet di rest area.
 
Pun di daerah utara. Yang mayoritas bukan muslim. Di Xinjiang utara banyak suku-suku minoritas lainnya. Yang lebih dekat ke suku Monggolia.
 
Tentu dari Beijing saya mendarat dulu di Urumqi. Bermalam di situ.
 
Hari kedua saya naik mobil seperti tanpa ujung. Dari Urumqi. Ke arah utara. Delapan jam. Di atas jalan tol yang sangat mulus.
 
Tidak ada pemandangan lain di kanan-kiri jalan itu. Kecuali tanah kosong gobi. Bukan tanah kosong pasir.
 
Kadang saya berpikir: untuk apa Tiongkok membangun jalan tol di wilayah padang gobi. Yang sangat sepi.
 
Saya jadi ingat ketika mengendarai mobil dari Los Angeles ke Arizona. Bermalam di Las Vegas.
 
Seperti itulah suasananya. Hanya gurun sepanjang mata memandang.
 
Yang membedakan dari Nevada adalah: tidak ada.
 
Ups, ada.
 
Di tempat-tempat tertentu saya melihat sumur angguk. Di tengah padang gobi. Itulah sumur minyak.
 
Sekian jam kemudian saya melihat cerobong asap. Tanpa asap. Banyak sekali.
 
Itulah pembangkit listrik. Menggunakan batu bara.
 
Di beberapa wilayah Xinjiang kaya akan batu bara. PLTU dibangun di atas tambang. Dengan sistem pendingin udara. Bukan air. Tidak banyak air di situ.
 
Listrik dari situ mengalir sampai jauh. Sampai Shanghai --hampir 3000 km jauhnya.
 
Apakah listriknya tidak habis menguap dalam perjalanan di SUTET?
 
Mereka menggunakan transmisi yang belum kita kenal: DC. Kapasitas transmisinya pun belum kita tahu: 1.100 kv.
 
Transmisi terjauh kita: Situbondo-Banten. Kira-kira 600 km. Dengan sistem AC --kapasitas 500 kv.
 
Transmisi DC itulah yang dulu juga kita rencanakan.
 
Kita bangun PLTU besar-besaran di atas tambang batu bara di Sumsel. Listriknya kita ubah menjadi DC. Untuk diseberangkan lewat bawah laut --selat Sunda. Sampai di Banten listrik itu diubah lagi ke AC.
 
Waktu membicarakan itu saya sendiri belum pernah tahu: seperti apa transmisi DC itu. Yang bisa dipaksa kirim listrik jarak jauh. Aman dan hemat.
 
Waktu itu saya hanya mendengar: di Tiongkok sudah dipakai. Sejauh 1.000 km. Kapasitas 800 kv.
 
Kini, di Xinjiang ini, di umur saya yang tidak lagi muda ini, saya baru tahu dengan mata kepala sendiri. Bahkan sudah untuk 3.000 km. Sudah 1.100 kv.
 
Saya menjadi begitu ingin mengajak Gubernur Sumsel ke Xinjiang. Ialah gubernur yang berani melarang truk batu bara lewat jalan umum.
 
Dari tambang batu bara itu saya terus ke utara. Kian ke utara kian dingin. Menjelang musim dingin ini.
 
Kian ke utara ternyata kian bergunung-gunung. Setelah enam jam perjalanan barulah bisa ketemu benda yang saya rindukan: pohon.

Rupanya ada sungai di situ. Mengalir ke arah Rusia. Mulailah ada nuansa hijau. Kekuning-kuningan --menandakan musim gugur segera tiba.
 
Jalan mulai menanjak. Berliku. Ada gunung di kiri. Sungai di kanan. Saya sudah melewati Nevada-nya Tiongkok. Memasuki Arizona versi Xinjiang.
 
Ngeri tapi indah. Indah tapi ngeri.
 
Ini bukan Xinjiang yang hidup di imajinasi saya.
 
Ini seperti di Montana!

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya