Berita

Foto:Net

Dahlan Iskan

Tidak Welcome

SELASA, 22 OKTOBER 2019 | 05:06 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

INI berita duka untuk mobil listrik: Dyson tiba-tiba membatalkan proyeknya. Yang di Singapura itu.
 
Padahal James Dyson sudah menyiapkan dana Rp 50 triliun. Sudah membeli lokasi di daerah Jurong. Sudah merekrut tenaga ahli sebanyak 600 orang.
 
Sejak tahun lalu.
 

 
Langkahnya sudah agak jauh.
 
Keputusan itu datang minggu lalu. Tanpa alasan yang rinci. Kecuali satu kalimat ini: tidak akan bisa mencapai nilai komersial.
 
James Dyson adalah orang terkaya di Inggris. Salah satunya. Umurnya sudah 72 tahun. Salah satu sponsor Brexit. Di awal-awalnya.
 
Dunia tahu siapa ia.
 
Terutama para wanita.
 
Dyson-lah yang mencipta teknologi baru pengering rambut. Hair dryer. Menggunakan namanya sebagai merk: Dyson. Itulah dryer yang paling sedikit blade di dalamnya.
 
Itulah juga dryer yang paling mahal harganya.
 
Made in England. Pabriknya di Malaysia.
 
Sebelum itu Dyson juga mencipta teknologi baru vacuum cleaner. Dengan menggunakan sistem cyclone. Itulah vacuum cleaner yang paling mahal saat ini.
 
Pun sebelum itu. Dyson menciptakan sesuatu yang sangat sederhana --tapi manfaatnya dirasakan seluruh kuli bangunan: gerobak satu roda. Yang rodanya di depan. Untuk angkut semen, bata, dan kadang angkut istri mereka.
 
Perusahaan Dyson pun terus bikin prestasi. Tahun lalu labanya mencapai rekor: Rp 15 triliun.
 
Dyson dikenal bukan hanya sebagai pebisnis. Tapi lebih sebagai 'penemu teknologi'.
 
Sampai tua pun otaknya terus gatal. Terus mencari sesuatu. Dan terus menemukannya. Termasuk menemukan teknologi motor. Yang lebih efisien.
 
Prinsip temuannya itu sudah dipakai untuk menggerakkan alat di dalam vacuum cleaner. Dan di dalam hair dryer.
 
Dyson terus memikirkan: alangkah efisiennya kalau ide motornya itu diterapkan untuk mobil listrik.
 
Terasa sekali Dyson tidak terlalu memikirkan bisnisnya. Ia lebih ingin mewujudkan ambisinya sebagai penemu teknologi.
 
Ia tahu: sudah keduluan Tesla. Atau Toyota. Atau mobil-mobil dari Tiongkok. Justru ia ingin mengalahkan semua itu. Lewat keunggulan mobil listrik Dyson ciptaannya.
 
Semula saya pun menganggap Dyson sebagai calon 'membunuh' janin mobil listrik Indonesia. Janin yang masih berbentuk sperma. Sperma yang masih berupa nafsu.
 
Saya pikir Dyson tahu bahwa Indonesia adalah pasar yang sangat besar. Yang bisa diincar dari Singapura. Lewat perdagangan bebas Asia Tenggara.
 
Dengan memilih Singapura, Dyson seperti memproduksi di depan mata.
 
Tidak saya sangka tiba-tiba Dyson mengirim berita duka.
 
Ternyata Dyson tetap seorang pebisnis sejati. Yang hitungan untung-ruginya tetap nomor satu.
 
Jarang penemu yang tidak emosional seperti Dyson. Yang tetap mempertanyakan: berapa besar laba yang didapat dari investasi Rp 50 triliun itu.
 
Tapi mengapa baru sekarang akal sehat bisnisnya itu muncul? Mengapa tidak sejak awal? Sebelum membeli lahan di Singapura? Dan sebelum punya 600 tenaga ahli?
 
Di sinilah alasan 'tidak menguntungkan' tadi harus dipertanyakan.
 
Saya lebih melihat pada kerumitan teknis. Atau birokrasi.
 
Industri mobil memerlukan supply chain yang panjang.
 
Membuat mobil memerlukan sekitar 20.000 onderdil.
 
Beda dengan membuat vacuum cleaner. Atau hair dryer. Yang hanya perlu 2.000 onderdil.
 
Singapura sangat miskin supply chain. Beda dengan Indonesia. Apalagi Tiongkok.
 
Mestinya Dyson mendirikan pabrik mobil listriknya di Indonesia.
 
Dyson sudah terlalu tua untuk berani mengambil risiko besar. Mula-mula seperti berani. Tapi ternyata sudah tua juga.
 
Dari segi bisnis putusan Dyson itu sangat benar. Di usianya itu. Memulai bisnis di bidang yang baru perlu waktu yang panjang. Juga perkelahian yang melelahkan.
 
Tapi saya tidak tahu persis alasan yang sebenarnya. Hanya saja saya ingat ini: Elon Musk pernah bicara blak-blakan tentang Singapura. Tahun lalu.
 
Penggagas Tesla itu mengatakan "Singapura tidak welcome pada mobil listrik".

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Perjalanan Karier Nanik S Deyang dari Jurnalis hingga Pimpin Dewan Pengawas BGN

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:23

Deklarasi Gus Kikin Maju Ketum PBNU Tuai Protes Sejumlah PCNU Jatim

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:13

Pesan Menag di FABC: Sinodalitas Gereja Cermin Musyawarah dan Gotong Royong

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:08

Prabowo Restui Pengunduran Diri Nanik dari BGN, Siapkan Dewan Pengawas Baru

Rabu, 22 Juli 2026 | 10:06

Emas Antam Mulai Naik, Harga Buyback Tembus Rp2,38 Juta per Gram

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Prabowo Puji Keterlibatan Perwira TNI-Polri dalam Penanganan Bencana Sumatera

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:51

Saat Jakarta jadi Jembatan Persaudaraan Asia

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:45

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.913 per Dolar AS Jelang Rilis Suku Bunga BI

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:34

KPK Bongkar Dugaan Penyamaran Aset Bupati Lombok Barat, Pasal TPPU Disiapkan

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:29

Ancaman Houthi Guncang Pasar, Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi

Rabu, 22 Juli 2026 | 09:24

Selengkapnya