Berita

Arteria Dahlan/Net

Publika

Arteria Dahlan Menghidupkan Diskursus

MINGGU, 13 OKTOBER 2019 | 13:15 WIB

ARTERIA Dahlan, seorang anggota DPR dari Fraksi PDIP tiba-tiba saja menjadi perbincangan publik khususnya warganet gara-gara penampilannya yang offensif dalam sebuah acara TV dan dianggap tak beradab oleh banyak kalangan.

Persepsi sebagian masyarakat yang menganggap Arteria Dahlan tidak bersikap sopan karena menyebut Prof. Emil Salim sesat dan memotong pembicaraan narasumber lain berulang kali. Barangkali memang benar bahwa Arteria di mata sebagian besar masyarakat tidak memiliki etiket yang bagus selama berdebat dalam acara televisi tersebut.

Terlepas dari kekurangannya saat menyampaikan pendapat di muka umum, ada yang menarik dari sosok Arteria sebagai seorang Anggota DPR. Khusus dalam bidangnya di Komisi III, Arteria menjadi orang yang sangat kritis, berbicara lugas, tegas dengan argumentasi yang relatif bagus. Dia menjadi sosok yang rajin hadir mengisi berbagai acara televisi mewakili Komisi III.


Salah satu isu yang sering diperbincangkan Arteria adalah tentang KPK. Mulai hak Angket KPK, revisi UU KPK sampai RKUHP yang sedikit banyak berhubungan dengan kewenangan KPK selalu ia hadiri untuk memberikan penjelasan, pernyataan dan sikap.

Anggota DPR seperti Arteria menjadi model baru seorang Anggota DPR setelah Fahri Hamzah yang berani tampil di hadapan Publik dengan gaya yang khas, berani melawan arus dan berbicara asertif dan frontal.

Karakter anggota DPR yang berani menyampaikan pendapat secara kontroversial seperti ini memang menjadi anomali karena kebanyakan seorang Anggota DPR memilih banyak diam dalam berbagai isu. Selogan yang kita kenal tentang Anggota DPR adalah “dateng, duduk, diam dan duit (4D).

Kehadiran Anggota DPR yang vokal dan berani tampil seperti Arteria jika dipandang dari aspek demokratisasi menjadi sangat bagus karena menghidupkan wacana, gagasan dan literasi yang bisa menjadi alat membangun public awareness melalui isu-isu yang ia kemukakan. Tak cuma bagus, boleh jadi keberadaan anggota DPR seperti dia sangat diperlukan.

Di luar penampilannya yang tampak seperti miskin akhlak, orang yang tak pernah mengenalnya secara langsung menganggap perilaku seperti itu sebagai karakter meskipun tak menutup kemungkinan ia hanya membangun persona untuk kebutuhan dan motif yang tak bisa kita ketahui.

Membandingkan anggota DPR yang berani tampil dengan perilaku anggota DPR yang cenderung diam, tiba pada sebuah penelaahan sederhana bahwa hampir seluruh anggota DPR yang tersandung perkara korupsi adalah mereka yang sehari-hari diam atau sesekali muncul ke hadapan publik dengan statement-statement yang normatif.  

Kredibilitas atau kemampuan memahami isu dan persoalan pada bidang kerja di DPR memang menjadi faktor seorang anggota DPR menjadi vokal atau diam.

Parlemen yang secara etimologi Bahasa Perancis berasal dari kata Parler yang artinya berbicara, sudah seharusnya DPR menjadi tempat yang gaduh dengan narasi, perdebatan serta argumen karena berbicara memang menjadi tugas pokok mereka sebagai anggota Parlemen.

Arteria dengan kelebihan kemampuan berbicaranya, sebaiknya memang bisa menempatkan diri dalam bertutur kata saat menyampaikan penjelasan. Dia harus membedakan sikap dan tutur katanya ketika ia berhadapan dengan masyarakat sebagai pihak paling penting dalam kedudukannya sebagai wakil rakyat.

Cara berbicara dan merespon perbedaan pendapat harus diperbaiki menjadi lebih ramah terutama ketika yang ia hadapi adalah rakyat yang telah menempatkannya di ruang Capitol.

Bagaimanapun argumen harus disampaikan dengan cara yang baik agar bisa diterima oleh pendengar secara substansial karena cara menentukan makna seperti Hukum Acara yang diatur tertata supaya tujuan  tercapai dengan baik.

Sekarang semua orang tidak ada yang mendengar substansi pembicaraannya karena kita lebih suka merespon cara bicara dan perilaku yang dipandang buruk oleh khalayak.

Jika Arteria benar-benar bermaksud membangun diskursus mengenai sebuah gagasan, maka mengubah gaya bicara menjadi lebih layak didengar adalah suatu keniscayaan kecuali tujuan dia hanya ingin menjadikannya kontroversi yang berisi percakapan publik tentang baik-buruk dirinya sebagai kasta terendah sebuah perdebatan.

Mau mengedukasi atau sekedar cari sensasi?

Oleh Enggal Pamukti


Penulis adalah Pemerhati media sosial.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya