Berita

Aksi demonstrasi di depan gedung KPK/RMOL

Politik

KPD: Kalau Tidak Setuju Silakan Ke Mahkamah Konstitusi, Bukan Bikin Aksi Jalanan

SABTU, 28 SEPTEMBER 2019 | 23:51 WIB | LAPORAN: AGUS DWI

Munculnya sejumlah aksi penolakan UU KPK yang dilakukan di jalanan dinilai sebagai sesuatu yang tidak normal. Karena, setiap penolakan RUU yang sudah disahkan menjadi UU hanya bisa dilakukan melalui uji materi di Mahkamah Konstitusi. Bukan melalui aksi di jalanan.

"Revisi UU KPK sudah disahkan DPR, jadi kalau tidak setuju maka sebaiknya dilakukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi bukan di jalan. Begitu juga RUU KUHP tidak jadi disahkan. Kok, masih ada aksi penolakan. Ini kan tidak pada tempatnya lagi. Ini sesuatu yang ganjil," ujar Koordinator Kaukus Peduli Demokrasi (KPD), Fanji Ahmad Daulay, melalui keterangan tertulisnya. (28/9).

Fanji menegaskan, gelombang aksi unjuk rasa tersebut terindikasi hasil dari skenario yang sangat terstruktur, sistematis, dan masif. Mulai dari manuver pengerahan mandat ke Presiden Jokowi oleh komisioner KPK, penggalangan opini kontra Revisi UU KPK.


Bahkan ada pembekalan rencana aksi di Gedung KPK kepada BEM, hingga muncul lah gelombang massa mahasiswa dan pelajar yang masif di berbagai daerah.

"Sebelum meletusnya aksi di jalanan telah beredar video di media sosial pembekalan rencana aksi oleh terlihat Bachtiar Firdaus yang merupakan politisi PKS. Dalam video tersebut terlihat juga Febri Diansyah, juru bicara KPK. Menjadi pertanyaan, dalam rangka apa KPK memfasilitasi politisi PKS untuk memberikan pembekalan rencana aksi kepada para ketua BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) di Gedung KPK?" tanya Fanji.

Di sisi lain, Fanji menyayangkan lemahnya Badan Intelijen Negara dalam mengantisipasi gelombang aksi tersebut.

"Gelombang aksi tersebut tak seharusnya  terjadi. Terlebih isunya tidak lagi pada tempatnya. Tak seharusnya BIN kecolongan mengantisipasi gelombang aksi-aksi tersebut," imbuhnya.

"Terlebih ada keterkaitan satu peristiwa dengan peristiwa lain. Jangan sampai lambannya antisipasi terus berlanjut bisa mengakibatkan rumor adanya rencana pembatalan pelantikan presiden terjadi," tutup Fanji.

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

UPDATE

Rudi Margono Isi Kursi Jampidsus Menggantikan Febrie Adriansyah

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:24

Pembiayaan Tembus Rp10 T, Laba Bank Mega Syariah Naik 17,56 Persen di Semester I-2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:24

Profil Etik Suryani Bupati Sukoharjo yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:20

Ini Alasan KPK Batal Ikut Konferensi Pers Polda soal Perkara yang Menyeret Jampidsus

Sabtu, 11 Juli 2026 | 14:04

Jakarta Jadi Kota Termahal ke-21 di Dunia pada 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:42

Inggris Siapkan Bonus Fantastis Jika Juara Piala Dunia 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:37

Saham SK Hynix Melonjak 13 Persen Saat Debut di Nasdaq

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:31

Komisi III DPR Soroti Kasus Korupsi Batu Bara dan Isu Mundurnya Jampidsus

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:16

Biarkan Kortas Polri Usut Dugaan TPPU Jampidsus Tanpa Intervensi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 13:00

Jumlah Investor BBTN Kembali Melonjak per Juni 2026, Akhiri Tren Penurunan Dua Bulan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 12:51

Selengkapnya