Berita

Komplek Aramco yang terbakar karena diserang drone/Net

Dahlan Iskan

Heboh Sendiri

SABTU, 21 SEPTEMBER 2019 | 06:02 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

Ada yang gatal tangan. Ingin sekali agar Iran diserang. Tapi ia sendiri tidak mau melakukan.
 
Inginnya: Amerika-lah yang menyerang Iran. Atau Israel. Atau siapa saja. Asal jangan negaranya. Itulah Arab Saudi.
 
Tangan Saudi kian gatal. Minggu lalu. Ketika instalasi minyaknya diserang drone. Dengan sangat masifnya. Padahal itu instalasi terbesarnya, milik Aramco. Perusahaan Amerika yang sudah dibeli sepenuhnya oleh Saudi.
 

 
Minyak Aramco adalah juga sumber utama bahan baku kilang kita yang di Cilacap. Yang desainnya memang dicocokkan untuk produk Aramco.
 
Serangan drone itu sendiri bukan yang pertama. Tapi yang terbesar. Yang menyerang juga sudah mengaku: pejuang Houti. Dari Yaman yang anti Saudi. Terutama sejak Saudi menyerang Yaman. Lima tahun lalu.
 
Houti dianggap memberontak Pemerintah Yaman yang didukung Saudi.
 
Tapi Houti berhasil menahan serangan militer Saudi. Bahkan ibukota Yaman, San'a, sepenuhnya bisa direbut Houti. Sampai sekarang.
 
Perang Yaman ini tercatat sebagai gebrakan penguasa baru Arab Saudi: Pangeran MbS --Mohamad bin Salman. Yang saat itu usianya baru 28 tahun.
 
Gebrakan lain adalah menangkap keluarganya sendiri. Para sepupunya. Menahan mereka. Dengan tuduhan korupsi.
 
Lalu, yang itu. Terbunuhnya wartawan Jamal Khashoggi. Yang dibunuh di konsulat Saudi di Istanbul, Turki --saat Jamal diantar calon istrinya ke konsulat itu untuk mendapat surat-surat persyaratan menikah.
 
Mayatnya pun sampai dihilangkan. Dan gedung konsulat itu sekarang juga akan dihilangkan, ditawarkan untuk dijual.
 
Menurut Arab Saudi, Iran-lah yang mendukung pejuang Houti di Yaman. Mana mungkin bisa sekuat itu. Yaman itu kecil. Miskin.
 
Saudi itu besar. Kaya raya. Tapi Houti yang menang. Setidaknya belum kalah. Bahkan justru menyerang ke jantung kehidupan Saudi.
 
Iran selalu menolak tuduhan di balik Houti. Tapi Iran juga siap untuk perang --kalau Amerika sampai menyerang.
 
Sebenarnya Amerika sudah getem-getem. Ingin sekali segera menyerang Iran. Sejak drone Amerika dijatuhkan Iran.
 
Tidak jadi. Juga sejak kapal tangker minyak Inggris ditahan Iran.Tidak jadi.

Lalu ada serangan drone yang masif ke instalasi minyak Aramco itu. Juga tidak jadi. Ups, jadi. Ups, tidak jadi. Ups, entahlah.
 
Sebenarnya banyak juga tokoh di sekitar Presiden Donald Trump yang juga gatal tangan. Misalnya John Bolton. Penasihat keamanan nasionalnya.
 
Keinginan Bolton perang terus. Kumisnya yang kaku dan panjang itu seperti kian mirip paku saja --dan kian memutih. Tapi Trump justru memecatnya. Minggu lalu.
 
Arab Saudi sendirilah yang mestinya sangat marah. Tapi sama sekali tidak ada minat menyerang Iran. Mungkin juga tidak ada keberanian.
 
Internal Saudi memang tidak kuat-kuat amat. Media Barat meramal MbS -kalau pun akan dilantik jadi raja- bisa jadi raja terakhir.
 
Houti sendiri mengaku serangan dronenya itu sukses karena ada bantuan dari dalam Saudi sendiri. Begitu besar orang asli Yaman yang menjadi penduduk Saudi.
 
Memang sebaiknya Saudi jangan perang. Selesaikanlah dulu Yaman. Mundurlah dari sana. Akibat serangan Saudi itu penderitaan di Yaman luar biasa. Dulu Yaman hanya miskin. Kini miskin dan penuh derita.
 
Vladimir Putin pun bilang begitu. Saat presiden Rusia itu bertemu Recep Tayyip ErdoÄŸan tiga hari lalu. Di Turki.
 
Sampai-sampai Putin mengutip ayat suci Alquran. Surah Ali Imran, ayat 103: "Berpeganglah kalian pada Quran bila...".
 
Secara tidak langsung justru Putin mengingatkan Raja Arab Saudi untuk berpegang pada Alquran. Erdogan setuju itu. Erdogan memang lebih pro-Iran. Lebih anti-Saudi.
 
Untung ada perang dagang Amerika-Tiongkok. Untung pula ada heboh Brexit. Pun untung ada demo sepanjang sepur di Hongkong.
 
Untung ada semua itu. Kalau tidak, dunia Islamlah yang kelihatan masih terus heboh sendiri di antara mereka.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya