Berita

Ilham Bintang bersama BJ Habibie/Ist

Publika

Tiada Lagi Habibie, Bapak Kemerdekaan Pers Indonesia

RABU, 11 SEPTEMBER 2019 | 20:53 WIB | OLEH: ILHAM BINTANG

SAYA masih reporter muda, bekerja di Harian Angkatan Bersenjata di tahun 1980-an ketika Pak BJ Habibie menjabat Menteri Riset & Teknologi. Wilayah reportase  saya bidang kebudayaan, namun beberapa kali  di-“BKO”-kan redaksi untuk meliput kegiatan di luar itu, termasuk meliput kegiatan Menristek BJ Habibie.

Itu sekitar 35 tahun lalu. Usia di bawah 30 an dan Pak Habibie belum 50 tahun. Bayangkan Pak Habibie di usia itu. “Keliaran” imajinasinya luar biasa memukau. Bak motivator yang membongkar kesadaran banyak anak muda usia di bawah 30 tahun. Siapa anak muda yang tidak mengaguminya?

7 Kali Besarnya Bumi


Paling suka kalau dia berbicara dan menyinggung tentang kemampuan otak manusia. Itu baru pertama kali saya dengar. Dari beliau langsung. Dan, pengin terus mendengarnya. Saya lupa kapan persisnya dan dalam acara apa dia cerita itu. Yang saya ingat beliau bicara di Sukabumi.

“Otak manusia itu kalau diurai seperti perangkat komputer, maka wadah yang diperlukan sebanyak tujuh kali besarnya  bumi,” kata dia berapi-api.  Sambil menatap wajah audiensnya. Satu persatu.

Saya ingat Sukabumi karena ada story juga di situ. Menjelang masuk gedung tempat acara, saya memergok pemandangan menarik. Sedan Volvo mobil dinas Menristek Habibie kehabisan bensin. Petugas sedang mengisi tangkinya dengan bensin dari jerigen. Waduh! Ini mobil menteri, menristek pula. Foto pemandangan itu menjadi foto utama Harian Angkatan Bersenjata yang terbit keesokan harinya.

Di kantor, sekretaris redaksi menyampaikan Pak Habibie marah. Tadi staf kementerian menelpon. Saya tidak percaya itu. Pak Habibie seorang demokrat. Mana mau urusin soal itu. Pikir saya mestinya beliau senang, warga masyarakat ikut mengawasi hal apapun menyangkut dia. Saya menghubungi balik staf kementerian itu.

“Anda bisa jelaskan nggak secara tehnis rusaknya seperti apa kalau mobil diisi dengan bensin dari jerigen,” tanyanya gusar. Saya diam tetapi tertawa dalam hati. Marah seperti itu bukan kebiasaan Pak Habibie.

“Saya tidak tahu Pak. Saya juga tidak menuliskan mobil bisa rusak jika diisi dengan bensin jerigen. Saya malah berharap sekali penjelasan  tehnis dari Bapak jika kebalikannya yang terjadi,” sahut saya tenang. Tapi cerita itu tidak berlanjut. Seperti kalau kejadian seperti itu menyangkut  menteri lain.

Pak Habibie mengecap pendidikan Barat sejak muda. Dijamin demokratis. Kelak itu  terbukti. Di era reformasi. Ketika menjadi Presiden RI menggantikan Pak Harto tahun 1998, apa yang dia dikerjakan pertama kali? Mencabut semua aturan yang mengkrangkeng pers. Kran perizinan penerbitan media dibuka selebar-lebarnya. Menteri Penerangan Junus Yosfiah dia perintahkan mencabut semua regulasi yang membelenggu kemerdekaan pers. Termasuk mencabut SK Menpen yang menjadikan  PWI satu-satunya organisasi wartawan di Indonesia. Itu saya catat legacy Pak Habibie.

Legacy penting lainnya adalah sikap kenegarawan yang ditunjukkan pada saat laporan pertanggungjawabannya sebagai Presiden ditolak MPR-RI. Dia bahkan tidak bersedia maju mencalonkan diri dalam pemilihan presiden berikutnya.

Padahal, peluang itu terbuka, penolakan pertanggungjawabannya tidak menghalagi untuk mencalonkan diri. Itulah moralitasnya. Dia seperti ingin mengatakan, buat apa memaksakan diri maju jika rakyar tak percaya. Seandainya di masa itu pemilihan presiden secara langsung, ceritanya mungkin lain. Berkaca pada  prestasi dan kenegarawanannya, bukan mustahil dialah yang terpilih.

Habibie lahir di Pare-Pare Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936. Saya sependapat dengan banyak kawan wartawan Pak Habibie salah satu Presiden terbaik Indonesia, karena kepemimpinan, keikhlasan, keahlian, prestasi, dan keteladanannya. Karya-karya untuk umat manusia mungkin kalau diurai juga tak cukup wadah tujuh kali bumi untuk menampungnya.

Pak Habibie memang tidak lama menjabat  Presiden RI. Ia menggantikan Presiden Soeharto, yang minta berhenti pada  21 Mei 1998. Pak Habibie yang sebelumnya Wakil Presiden, menjabat Presiden RI selama 512 hari, sejak 21 Mei 1998 sampai 20 Oktober 1999.

Pada masa reformasi itu saya menangkap ada kesamaan sikap Pak Habibie dengan Pak Harto. Presiden RI yang berkuasa 32 tahun itu memilih berhenti Mei 1998. Padahak, secara real konstutusi  masih berhak atas jabatan itu sampai tahun 2003.

Kubah gedung kura-kura yang dikuasai ribuan mahasiswa rupanya menggedor kenegarawanannya.

Itu simbol rakyat yang tak lagi menghendaki dia.

Pak Harto bisa saja menggunakan seluruh kekuatan bersenjata  untuk menghalau mahasiswa. Tapi itu tidak dilakukan. Pak Harto pasti sudah memperhitungkan resiko pertumpahan darah bakal terjadi. Dan, darah itu darah rakyatnya sendiri.

Saya tidak mendengar komentar Pak Habibie soal sambutan gempita sebagian masyarakat menyambut peluncuran mobil Esemka yang diklaim buatan rakyat Indonesia baru-baru ini. Dia seakan memilih diam. Sambil membayangkan, mungkin, bagaimana ketika meluncurkan CN235 pesawat produksi anak-anak Indonesia. Yang dihadapinya resistensi dari sebagian politisi. Itu 30 tahun lalu.

Pak Habibie telah tiada. Ia telah menghadap Ilahi Rabbi, pada Rabu (11/9) petang pukul 18.05 WIB di RSPAD, tempat dia dirawat sejak 1 September lalu.

Rasanya masih terbayang senyumnya, senyum penuh keikhlasan. Seperti itulah senyumnya menghias waktu terakhir ketemu beliau tahun lalu dalam sebuah acara perusahaan film MD. Senyum melekat sepanjang pertemuan itu. Senyum khasnya. Selamat jalan Pak. Semoga Husnul Khotimah.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Perdana sebagai Anggota Penuh, Prabowo Hadiri KTT BRICS di India

Sabtu, 12 September 2026 | 12:20

Serda Ahmad Muzammil Tewas, POMAU Periksa 4 Personel

Sabtu, 12 September 2026 | 12:06

Menteri Imipas Penuhi Janji, 82 WNI Dipulangkan dari Malaysia

Sabtu, 12 September 2026 | 11:52

Kemendikdasmen Prioritaskan Revitalisasi Ribuan Sekolah, Ini Kategorinya

Sabtu, 12 September 2026 | 11:37

Pertamina Patra Niaga Tingkatkan Pasokan BBM ke SPBU Sulsel

Sabtu, 12 September 2026 | 11:28

Soal Life Jacket yang Ditemukan, Pemilik Kapal Buka Suara

Sabtu, 12 September 2026 | 11:10

Hari Pelanggan, Manfaat Perlindungan Kesehatan Tembus Rp1,1 Triliun

Sabtu, 12 September 2026 | 11:01

LRT Jabodebek Beroperasi Normal Usai Gempa M5,9 Guncang Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 10:50

Emas Antam Naik di Akhir Pekan, Satu Gram Jadi Segini

Sabtu, 12 September 2026 | 10:45

DPR Desak Usut Tuntas Penembakan Tiga Pegawai Pertanian Jayawijaya

Sabtu, 12 September 2026 | 10:28

Selengkapnya