Berita

Luhut B. Panjaitan/Net

Publika

Apapun Masalahnya, China Solusinya?

SENIN, 02 SEPTEMBER 2019 | 11:48 WIB

PING An, salah satu perusahaan asuransi asal China, menawarkan bantuan untuk menyelesaikan defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan, menyatakan bahwa Ping An menawarkan untuk melakukan evaluasi sistem IT BPJS Kesehatan. Karena Presiden meminta lembaga ini melakukan perbaikan sistem.

Ping An Insurance adalah perusahaan asuransi terbesar di Cina. Berdiri sejak tahun 1988, perusahaan ini berkantor pusat di Shenzhen, Guangdong, China. Luhut bertemu dengan salah satu pimpinan Ping An saat lawatannya ke China bulan lalu.


Bukan Solusi

BPJS Kesehatan saat ini memang mengalami defisit yang besar. Dengan jumlah peserta lebih dari 222 juta jiwa, defisit BPJS kesehatan mencapai Rp 28,4 triliun.

Pokok permasalahan BPJS bukanlah faktor teknis sistem IT sebagaimana yang sudah diklaim pemerintah. Permasalahan utamanya adalah posisi BPJS sebagai perusahaan asuransi yang diharuskan untuk meraih untung.

Ketika BPJS defisit, dianggap gagal. Ini terjadi karena pemerintah bersikap lepas tangan dalam pemenuhan kesehatan masyarakat. Negara menyerahkannya pada BPJS.

Padahal kesehatan adalah kebutuhan pokok rakyat yang pemenuhannya bersifat kolektif oleh negara. Maka negara harus mendayagunakan kekayaan alam milik umum (rakyat) untuk membiayai pemenuhan hak kesehatan mereka.

Sehingga tujuannya adalah pelayanan terhadap rakyat, bukan mengejar keuntungan.

Tak masalah jika sektor kesehatan tidak menghasilkan uang, karena diselenggarakan secara gratis misalnya, asalkan semua rakyat terjaga kesehatannya.

Kesehatan rakyat adalah social capital yang penting bagi kemajuan negara. Rakyat yang sehat akan bisa melakukan aktivitas ekonomi secara optimal sehingga mampu mencukupi kebutuhan dasar individualnya yakni sandang, pangan dan papan.

Defisit BPJS bukan menjadi pembenar untuk mengundang campur tangan asing dalam pelayanan kesehatan. Apalagi jika yang ditangani asing adalah aspek IT, tentu rawan terjadinya kebocoran dan penyalahgunaan data. Data tersebut bisa dimanfaatkan asing untuk kepentingan bisnis mereka.

Kita harus selalu ingat adagium "tidak ada makan siang gratis" dalam politik. Bantuan China untuk BPJS pasti memiliki tendensi yang akan menguntungkan mereka. Tawaran China tidak menjadi solusi bagi Indonesia, bahkan justru membahayakan bagi keamanan data BPJS. Lantas bagaimana nasib kedaulatan Indonesia?

Akibat Kapitalisme Liberal

Jika BPJS jadi menggunakan jasa Ping An, cengkeraman China terhadap Indonesia akan makin erat. Sebelum kasus BPJS, China sudah banyak merangsek ke berbagai sektor di Indonesia.

Tengok saja, pada tahun 2018, Indonesia mengimpor baja sebesar 2,83 juta ton dari China. Sementara Krakatau Steel sebagai produsen baja lokal berada dalam kebangkrutan.

Serbuan semen China bermerek Conch, Hippo dan lainnya juga mengancam semen lokal karena harga jualnya lebih murah sekitar Rp7.000 per-sak. Belum lagi sayuran, cabai, bawang, buah, cangkul, dan lain-lain, semuanya impor dari China.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), lebih dari seperempat (28,49 persen) produk nonmigas impor yang datang ke Indonesia di tahun 2018 berasal dari China. Ditambah dengan serbuan tenaga kerja asing asal China, membuktikan bahwa Indonesia tak lagi berdaulat atas dirinya. Segala sektor dikuasai oleh China.

Pada Januari 2019 defisit neraca dagang RI dengan China mencapai 2,43 miliar dolar AS. Gurubesar ilmu ekonomi sekaligus peneliti senior INDEF Didik J. Rachbini menilai, serbuan barang dari China melalui e-commerce ke depannya akan semakin besar.

Unicorn yang dibanggakan pemerintah ternyata tak lain adalah media pemasaran produk China secara masif. Keberadaannya bisa menggusur UMKM karena harga yang lebih kompetitif.

Pemerintah seharusnya mengambil langkah antisipasi. Apalagi saat ini ada ASEAN-China Free Trade Area yang membebaskan pajak barang yang masuk. Indonesia menjadi salah satu anggotanya. Produk China makin mudah masuk Indonesia.

Indonesia harus bersikap tegas menghadapi bahaya produk China. Apa yang dilakukan China adalah penjajahan ekonomi. Agar mampu menghadapinya, Indonesia harus memiliki sistem ekonomi yang berdaulat, bukan sistem ekonomi yang disetir pengusaha importir. Pengusaha hanya akan berpikir keuntungan bisnisnya, tanpa peduli nasib rakyat kecil.

Negara yang seharusnya terdepan dalam melindungi produsen lokal. Negara juga harus berani menolak free trade area dalam berbagai sekupnya. Karena telah menjadi alat negara besar untuk menguasai pasar negara berkembang yang notabene berpenduduk besar. Namun ekonomi yang berdaulat ini adalah hasil penerapan ideologi yang benar.

Indonesia secara formil menyatakan berideologi Pancasila dan menerapkan sistem ekonomi kerakyatan yang wujud nyatanya adalah koperasi. Namun nyatanya kini Indonesia justru menjadi negara kapitalis liberal sebagaimana yang dinyatakan oleh Surya Paloh.

Buktinya adalah penguasaan ekonomi oleh segelintir korporasi asing dan aseng. Sementara usaha rakyat yakni UMKM harus terseok bertarung melawan raksasa korporasi multi nasional. Jika hal ini dibiarkan, Indonesia akan menjadi budak di negeri sendiri. Sungguh miris.

Ragil Rahayu, SE
Komunitas Revowriter di Sidoarjo.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Steve Hanke Ungkit Lagi Keputusan IMF 1998, Klaim Rupiah Bisa Setara Dolar AS

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:12

Gibran Ingin Generasi Muda Jadi Perekat Persatuan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2026 | 08:06

Komut Pertamina Mochamad Iriawan Pastikan Kesiapan SAF dan Operasional B50 di Jawa Timur

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:57

Wall Street Berpesta! Dow Cetak Rekor

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:53

Nasib Nadiem Ditentukan di Sidang Vonis Hari Ini

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:42

Kekayaan AHY Naik Hampir Enam Kali Lipat, Kini Tembus Rp118,65 Miliar

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:29

STOXX 600 Menguat Tipis, Saham Teknologi dan Energi Topang Bursa Eropa

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:24

Jerman Tumbang, Paraguay Melaju ke Perempat Final Piala Dunia 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:14

Pimpin BEI 2026-2030, Jeffrey Hendrik Targetkan Pasar Modal Indonesia Tembus 10 Besar Dunia

Selasa, 30 Juni 2026 | 07:02

Dana GCA Diklaim Bisa Stabilkan Nilai Tukar Rupiah

Selasa, 30 Juni 2026 | 06:48

Selengkapnya