Berita

Pakai t-shirt Disway/Net

Dahlan Iskan

Untukmu Bahasaku

SABTU, 31 AGUSTUS 2019 | 05:05 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

BEGITU banyak yang usul: agar saya mengangkat editor bahasa. Agar naskah yang saya tulis diperiksa dulu oleh editor bahasa.
 
Tujuannya jelas: Agar ketika terbit di DI's Way tidak ada lagi kesalahan: khususnya dalam penggunaan bahasa Indonesia.
 
Saya menolak usulan itu. Bukan saya merasa tidak pernah salah.
 

 
Saya memilih ini: biarlah naskah saya mengandung kesalahan. Lalu ada pembaca yang mengoreksinya. Koreksi itu dimuat di kolom komentar. Di hari yang sama.
 
Saya tidak malu naskah saya dikoreksi secara terbuka. Kita bisa “ngaji” bersama. Bisa berkaca dari kesalahan itu, saya dan pembaca Disway. Sama-sama belajar dari kesalahan.
 
Kalau naskah saya dilewatkan editor bahasa DI's Way terlalu sempurna. Pembaca tidak tahu kata mana yang sebenarnya mengandung kesalahan. (Bolehkah kata “mengandung kesalahan” itu diganti “menghamil” kesalahan).
 
Contoh yang kita sama-sama tahu adalah kata “utang”. Saya masih sering menuliskan kata “hutang”. Itu salah. Yang benar adalah “utang”.
 
Saya pun sebenarnya tahu itu. Lalu menyesal. Eh, di kemudian hari saya masih menulis lagi kata “hutang”. Lalu dikoreksi lagi.
 
Setelah dua kali pembaca memberikan teguran rasanya saya tidak akan lagi menulis kata “hutang”. Meski tidak berani bersumpah.
 
Memang, saat menulis, konsentrasi saya tertuju pada kelancaran bahasa. Tidak kepada kebenaran bahasa. Saya terlalu konsentrasi pada kualitas isi. Di kelincahannya kalimatnya. Di diksinya.
 
Soal kata “hutang” sudah lama saya tahu bahwa itu salah. Tapi kebiasaan belum bisa berubah.
 
Demikian juga ketika menulis “membawahi”. Saya sebenarnya tahu bahwa yang benar adalah 'membawahkan'. Tapi, ya itu tadi, kebiasaan kadang mengalahkan kebenaran.
 
Saya menyadari itu. Harus ada yang terus memberikan teguran. Sampai yang benar itu menjadi kebiasaan. Lalu biasa benar.
 
Please, jangan bosan menegur. Memang kesannya saya ini tidak mau belajar dari kesalahan. Lihatlah komentar di DI's Way ini. Yang ditulis bung Rofiq tanggal 21 Agustus ini.
 
“Ndableg. Soal risiko yang sudah diingatkan almarhum Khusnun. Sudah dikoreksi juga oleh Yusuf Ridlo," tulis Bung Rifiq.
 
Ampuuuuuun. Inilah resiko, ups, risiko (risiko, risiko, risiko, risiko, risiko) kebiasaan. Saya jadi ingat Zainal Muttaqin. Yang kini jadi Dirut banyak perusahaan. Yang dulu reporter olahraga.
 
Zainal pernah dihukum redakturnya. Nama redaktur itu Johny Kwee.
 
Zainal dihukum untuk menulis 100 kali kata yang sama. Di satu kertas putih. Hanya karena pernah salah menulis kata. Dan kesalahan itu berulang-ulang.
 
Saya pun bersedia: kalau sekarang harus dihukum menulis kata “risiko” sampai 1.000 kali. Agar melupakan kebiasaan salah menulis “resiko”.
 
Ada juga kesalahan yang saya memang belum tahu. Misalnya saat saya menulis kata “was-was”. Ternyata itu salah. Kata dasarnya bukan “was”. Yang benar adalah waswas (tidak pakai penanda sambung).
 
Setelah mas Khusnun Juraid meninggal saya ingin mengirim WA. Bukan ke kuburan beliau. Tapi ke mas Yusuf Ridlo. Yang anda hafal namanya itu. Yang sering melakukan koreksi bahasa di DI's Way itu.
 
Saya minta dicarikan nomor HP beliau.
 
Ternyata saya kenal mas Yusuf Ridlo itu. Mantan anak buah sendiri.
 
Secara khusus saya minta tolong pada beliau: untuk terus melakukan koreksi atas artikel saya di DisWay. Dan kesalahan saya itu harus diumumkan di kolom komentar disway.
 
Bahkan saya minta agar mas Yusuf Ridlo mengoleksi seluruh koreksiannya itu. Kapan-kapan ingin saya terbitan dalam bentuk buku. Judulnya: Kesalahan-kesalahan DI's Way.
 
Ada juga kesalahan yang semata-mata salah ketik. Kadang begitu buru-buru. Saya tidak sempat membaca apa yang saya tulis.
 
Kadang saya terlalu percaya pada HP. Saya merasa sudah benar ketika memencet kata “ketika”. Tahunya yang muncul di tulisan kata “ketiak”. Kadang saya merasa sudah benar saat menulis kata “uang”. Tapi yang tertulis kata “yang”. Dan banyak lagi kesalahan seperti itu.
 
Saya begitu terhibur membaca komentar di DI's Way. Yang soal bahasa maupun yang lain. Apalagi ada komentar Aminullah. Yang ketularan Trump, menggunakan kata tremendous.
 
Ada juga yang menulis komentar begini.
 
"Tidak mau komentar. Tidak mau menulis. Tidak mau membaca. Bahkan sejak tahun lalu".
 
Untuk menyindir tulisan saya yang nadanya mirip itu.
 
Bulan depan adalah Oktober. Kalau jadi. Saya ingin menjadikan bulan Oktober sebagai bulan bahasa di DI's Way.
 
Barang siapa bisa menemukan kesalahan bahasa di DI's Way edisi 1 sampai 15 Oktober akan mendapat hadiah. Berupa t-shirt DI's Way. Seperti yang dipakai wanita yang berdiri di tengah itu (lihat foto). Entah dari mana dia mendapatkan t-shirt itu. Ada 50 t-shirt yang tersedia. Bagi 50 temuan terbaik.
 
Selama 15 hari itu juga akan ada “Bulan Bahasa DI's Way”. Bentuknya rubrik baru: Untukmu Bahasaku.
 
Tiap hari akan dimuat satu naskah pendek dari pembaca DI's Way. Isinya: bahasan bahasa sosmed sosialita.
 
Ikutilah Instagram atau Facebook para artis. Cuplik salah satu postingan mereka. Lalu bahaslah dari aspek penggunaan bahasa Indonesianya. Panjang satu page. Kirimkan ke redaksi@disway.id.
 
Akan kita lihat seberapa hebat kemampuan bahasa para artis kita. Atau seberapa kacaunya.
 
Naskah-naskah itu juga akan kita jadikan buku. Untuk pelajaran bahasa Indonesia para siswa.
 
Setiap tulisan yang dimuat di DI's Way juga akan mendapat t-shirt yang sama.
 
Bulan Oktober: Untukmu Bahasaku.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya