Berita

Ilustrasi/Net

Pertahanan

Papua Jangan Berlarut-larut, Waspadai Guam dan Darwin

MINGGU, 25 AGUSTUS 2019 | 20:52 WIB | LAPORAN: A KARYANTO KARSONO

Meluasnya efek konflik di Papua perlu diwaspadai. Jika tidak cepat diredam dan diselesaikan, bisa berpotensi memancing pihak asing untuk ikut mencampuri masalah dalam negeri Indonesia. Waspada, beragam alasan akan dijadikan pembenaran.

Seperti biasa, dalih “efek keamanan regional” atau alasan apapun yang bisa dicari-cari, berpotensi menyeret pihak asing untuk masuk ke Papua. Sekadar catatan, berdekatan dengan wilayah NKRI tersebut sudah ada dua fasilitas militer asing yang bisa dipakai sebagai pangkalan aju (forward base) untuk “melompat” masuk Papua.

Forward base itu adalah pangkalan udara Andersen di Guam (Pasifik barat) dan pangkalan udara AU Australia di Darwin, Australia bagian utara.


Kedua pangkalan aju ini, mampu menampung pesawat-pesawat militer berukuran besar dan dalam jumlah yang banyak. Bahkan di Guam memiliki pelabuhan untuk pengisian bahan bakar kapal-kapal perang berukuran besar.

Kedua fasilitas tersebut memang tidak memiliki armada tempur yang dipangkalkan tetap di sana. Namun kedua pangkalan itu beberapa kali, setiap tahun digunakan untuk rotasi kekuatan militer secara regional. Baik untuk latihan maupun lokasi singgah penggelaran lintas regional.

Guam merupakan wilayah teritorial Amerika Serikat setingkat “sub divisi”. Memang bukan termasuk dari 50 negara bagian AS. Namun secara legal formal penduduknya merupakan warga negara AS, kendati tidak memiliki hak pilih dalam pemilu presiden AS.

Sementara landasan pacu di Lanud Andersen memiliki panjang lebih dari 3.000 meter. Area parkir pesawat (apron) yang luas yang mampu menampung puluhan pesawat pembom (bomber) sekelas B-52 Stratofortress atau B-1B Lancer. Atau puluhan pesawat angkut berat C-17 Globemaster III dan C-130 Hercules.

Untuk pangkalan udara AU Australia di Darwin (RAAF Base Darwin) memang tidak memiliki apron seluas Lanud Andersen. Namun kapasitasnya tidak bisa dibilang kecil. Panjang landas pacunya pun hamper sama. Sehingga kemampuan penggelaran kekuatan militer jarak jauh lewat udara bisa dilayani Lanud Darwin. Apalagi depo bahan bakar berkapasitas besar tersedia.

Selain itu, juga patut dicermati, doktrin militer AS salah satunya menganut paham “preemptive”. Di mana mereka merasa berhak dan perlu untuk terjun ke sebuah wilayah berkonflik jika dipandang berpotensi mengganggu keamanan AS secara regional. Dan tak bisa dipungkiri, tak jarang pandangan “perlu” tersebut bersifat subyektif.

Intinya, menyelesaikan masalah di Papua bukan hanya perkara pemulihan keamanan dan ketertiban belaka. Namun juga mewaspadai upaya agar pihak lain tidak “terpancing” untuk ikut campur sampai dalam. Dua lokasi pangkalan militer skala besar tersebut dalam kondisi siap pakai dan berdekatan dengan Papua.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Koreksi Tata-Kelola MBG: Ekspektasi Publik dan Komitmen Presiden

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:56

Bank Dunia Soroti Penyusutan Jumlah Pekerja Kelas Menengah RI

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:30

Literasi Perpajakan Diharapkan jadi Jantung Kepercayaan Masyarakat

Minggu, 14 Juni 2026 | 01:04

Menkomdigi: Aksi Damai dan Ruang Digital Sehat Harus Dijaga

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:40

Pesan Arief Budiman di Balik #SellIndonesia Lawan #SellSingapura

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:20

MUI Dorong Fatwa Perlindungan Al-Quds dari Upaya Yahudinisasi Israel

Minggu, 14 Juni 2026 | 00:05

Pembelaan Terakhir John Field Cs: Kami Tidak Lari dan Hilangkan Bukti

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:41

Legislator PDIP Sebut Kenaikan BBM Ancam Daya Beli Kelas Menengah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 23:14

Golkar: Mahasiswa Punya Hak untuk Menyampaikan Pendapat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:52

Gagalkan Peredaran Ribuan Pil Terlarang, Satu Pengedar Ditangkap di Blora

Sabtu, 13 Juni 2026 | 22:27

Selengkapnya