Berita

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri/Net

Politik

Membaca Arah Mega Yang Berterus Terang

JUMAT, 09 AGUSTUS 2019 | 10:34 WIB | OLEH: ALDI GULTOM

Sebetulnya ada harapan agar ajang Kongres V PDI Perjuangan di Bali menjadi momentum bagi Megawati dan Surya Paloh membantah asumsi publik tentang ketidakharmonisan di antara mereka.

Tapi yang terjadi sebaliknya. Surya Paloh dan rekan-rekan Koalisi Indonesia Kerja yang memenangkan Pilpres 2019 tidak mendapat tempat istimewa lagi di hati Mbak Mega, kecuali jatah tempat duduk di deretan paling depan.

Pidato Megawati Soekarnoputri di pembukaan Kongres malah jadi penegasan bahwa tidak ada ruang kompromi lebih lanjut. Mega melakukan apa yang diperlukan bagi partainya. Tanpa jaim alias jaga image.


Sebagai pemimpin tertinggi dari partai pemenang Pemilu 2014 dan 2019, Mega terang-terangan meminta jatah kursi menteri lebih dari yang sudah diduduki selama lima tahun terakhir (di atas 4 kursi).

Walau sudah diduga sebelumnya, namun tuntutan Mega kemarin menegaskan lagi bahwa jatah kabinet merupakan akar perang urat saraf yang selama ini terjadi antara Poros Gondangdia dan Poros Teuku Umar.

Sah saja Mega menuntut jatah terbesar. Presiden terpilihnya adalah orang yang dibesarkan PDIP. Jokowi berutang politik besar kepada PDIP sejak dirinya dicalonkan menjadi Walikota Solo sampai terpilih dua kali menjadi presiden.

Pembayaran utang politik Jokowi kepada partainya sendiri selama ini terhalang elemen lain yang merasa lebih berjasa dalam kemenangan Jokowi di 2014. Dalam hal ini Partai Nasdem yang dipimpin Surya Paloh.

Memang Paloh sepenuh daya menggerakkan modal finansial, mesin partai dan gerbong media massa yang dimilikinya. Tapi ada faktor yang tidak dimiliki Nasdem berkaitan Jokowi. Nasdem tidak memiliki sejarah emosional maupun ideologis yang sama dengan PDIP jika menyangkut figur asal Solo itu.

Lagipula, konstelasi kekuatan politik di Koalisi Indonesia Kerja sangat berbeda dengan konstelasi kekuatan politik di Koalisi Indonesia Hebat (Pilpres 2014). Lima tahun lampau laga Pilpres cukup berimbang dengan kehadiran dua taipan media massa di masing-masing kubu. Paloh mengerek Media Group membantu Jokowi-Jusuf Kalla. Sedangkan di kubu Prabowo Subianto-Hatta Rajasa mendapat dukungan Hary Tanoesudibjo yang membawahi raksasa media MNC Group.

Megawati memandang inilah saat yang paling tepat baginya untuk blak-blakan. Mega menunjukkan power-nya atas kepempinan nasional lima tahun mendatang. Tidak ada kemunafikan dalam pidato Mega kemarin. Berterus terang bahwa sudah saatnya Jokowi melakukan sesuatu lebih besar bagi partai yang membesarkannya.

Perubahan konstelasi kekuatan di internal koalisi pendukung Jokowi dengan hadirnya Hary Tanoe membuat Paloh kehilangan alasan kuat untuk menuntut lebih. Nasdem mesti rela kehilangan tiga "pos basah" yang didudukinya selama pemerintahan Jokowi jilid pertama.

Sedangkan bagi Megawati, sekarang atau tidak sama sekali. PDIP harus menerima banyak, lebih banyak dari sekarang dan terbanyak.

Mega sengaja memanfaatkan panggung kongres, yang dipercepat untuk mendahului penetapan kabinet, demi menggaungkan sikap pribadi dan partai. Daya ledaknya tentu lebih dahsyat. Suasana kebatinannya lebih pas.

Untuk mengawal tuntutan itu sampai terpenuhi, Mega "terpaksa" tetap menduduki jabatan ketua umum. Inilah tahapan transisi menuju regenerasi kepemimpinan PDIP. Jika waktunya tepat, yaitu ketika semua tuntutan politik itu terpenuhi dan persiapan regenerasi sudah matang untuk dijalankan, Mega tinggal memerintahkan "Kongres Luar Biasa".

KLB bisa berlangung memakai argumentasi usia dan fisik Megawati yang sepuh. Kepemimpinan jatuh ke tangan trah Soekarno, Puan Maharani atau Prananda Prabowo, tergantung penilaian sang ibu setelah keduanya cukup lama digodok di kabinet, parlemen dan partai.

Inilah jalan berliku yang dipilih Mega untuk menyiapkan anak-anaknya memegang kendali penuh mesin partal. Setelah sasaran antara itu sukses diraih, pijakan mencapai sasaran utama sudah mantap dan kuat. Trah Soekarno untuk 2024.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya