Berita

Suasana Bandara Hong Kong yang mengalami pembatalan 200 jadwal penerbangan/Net

Dunia

Dihantam Gelombang Unjuk Rasa, Lebih Dari 200 Penerbangan Di Hong Kong Terpaksa Dibatalkan

SENIN, 05 AGUSTUS 2019 | 11:44 WIB | LAPORAN: SARAH MEILIANA GUNAWAN

Gelombang unjuk rasa dan pemogokan di Hong Kong pada Senin (5/8) mengganggu berbagai layanan transportasi. Di antaranya membatalkan lebih dari 200 penerbangan.

Seperti dilansir Channel News Asia, otoritas Bandara Hong Kong, yang merupakan bandara tersibuk di dunia, sebelumnya memang telah memperingatkan calon penumpang tentang kemungkinan adanya 'gangguan'.

Selain itu, pihak bandara juga menyarankan penumpang untuk selalu memeriksa situs dan jadwal penerbangan agar mendapatkan informasi terbaru mengenai penerbangan. Namun, tidak ada keterangan soal status pesawat yang mendarat di Hong Kong dari pihak otoritas bandara.


Gangguan penerbangan ini terjadi setelah adanya gelombang unjuk rasa yang diikuti dengan aksi pemogokan terencana di seluruh kota. Unjuk rasa kali ini bertujuan untuk meningkatkan 'tekanan' kepada pemerintah Hong Kong yang dinilai pro-Beijing.   

Ada beberapa maskapai yang terkena dampak dari unjuk rasa. Di antaranya Hong Kong Airlines dan Cathay Pacific, yang para pramugarinya dikabarkan ikut terlibat dalam pemogokan hari ini.

Menurut akun MTR Service Update di Twitter, selain bandara, layanan kereta Airport Express juga ikut mengalami penundaan.

"Selama 50 hari terakhir, pemerintah telah mengabaikan tuntutan rakyat. Malah menggunakan polisi untuk menekan suara yang menyebabkan banyak warga Hong Kong putus asa," tulis serikat pekerja Hong Kong dalam halaman Facebook-nya.

Selama dua bulan terakhir, Hong Kong memang mengalami krisis politik akut. Terutama sejak aksi unjuk rasa terhadap RUU Ekstradisi dibalas dengan kekesaran oleh aparat keamanan.

Gelombang unjuk rasa ini pun telah melibatkan jutaan orang turun ke jalan dan cukup menimbulkan banyak korban serta kerugian. Karena telah menutup kantor pemeritah, memblokir jalan, hingga mengganggu aktivitas bisnis.
Gelombang unjuk rasa ini pada akhirnya menjadi sebuah tantangan terbesar bagi Pemerintah Hong Kong setelah berpisah dari Inggris pada 1997. Juga tantangan bagi pemerintah China yang dipimpin Xi Jinping sejak 2012.

Akibat adanya gelombang unjuk rasa ini, jumlah wisatawan Hong Kong langsung menurun drastis. Sehingga unjuk rasa ini tidak hanya menimbulkan tekanan politik, namun juga tekanan ekonomi bagi Pemerintah Hong Kong.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Pledoi Petrus Fatlolon Kritik Logika Hitungan Kerugian Negara

Kamis, 23 April 2026 | 00:02

Tim Emergency Response ANTAM Wakili Indonesia di Ajang Dunia IMRC 2026 di Zambia

Kamis, 23 April 2026 | 00:00

Diungkap Irvian Bobby: Noel Gunakan Kode 3 Meter untuk Minta Rp3 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 23:32

Cipayung Plus Tekankan Etika dan Verifikasi Pemberitaan Media Massa

Rabu, 22 April 2026 | 23:29

Survei TBRC: 84,6 Persen Publik Puas dengan Kinerja Prabowo

Rabu, 22 April 2026 | 23:18

Tagar Kawal Ibam Trending X Jelang Sidang Pledoi

Rabu, 22 April 2026 | 23:00

Dorong Transparansi, YLBHI Diminta Perkuat Akuntabilitas Publik

Rabu, 22 April 2026 | 22:59

Penyelenggaraan IEF 2026 Bantah Narasi Sawit Merusak Lingkungan

Rabu, 22 April 2026 | 22:52

Belanja Ramadan-Lebaran Menguat, Mandiri Kartu Kredit Tumbuh 24,3%

Rabu, 22 April 2026 | 22:32

Terinspirasi Iran, Purbaya Kepikiran Pajaki Kapal yang Lewat Selat Malaka

Rabu, 22 April 2026 | 22:30

Selengkapnya