Berita

Peresmian Pembentukan Koopssus TNI/Net

Pertahanan

Koopssus Bisa Timbulkan Terorisme Level Tinggi Jika Kerjanya Tak Pakai Rambu-Rambu

JUMAT, 02 AGUSTUS 2019 | 04:32 WIB

Pembentukan Komando Operasi Khusus (Koopssus) TNI dinilai harus memiliki rambu-rambu dalam menjalankan tugasnya. Sebab jika tidak, Koopssus berpeluang menciptakan aksi terorisme dengan level yang lebih tinggi dari sebelumnya.

“Yang pertama, meskipun (ranah Koopssus) eskalasi aksi terorisme yang berpotensi memunculkan situasi di luar kepolisian, tapi harusnya kehadiran Koopsusgat atau Koopssus berada dalam konteks dan terintegrasi dalam Sistem Peradilan Pidana. Sehingga apapun yang dilakukan oleh Koopssus itu harus berada dalam lingkup,” kata peneliti Setara Institute, Ikhsan Yosarie di Kantor Imparsial, Tebet, Jakarta, Kamis (1/8).

Menurutnya, kesatuan Koopsus harus tetap dinaungi hukum sehingga penggunaan Koopsus tidak disalahgunakan oleh beberapa pihak.


“Koopsus ini tetap harus patuh kepada Pasal 5 Undang-Undang TNI yang mengenalkan bahwa landasan TNI bergerak itu adalah keputusan politik negara. Dengan demikian, keterlibatan dalam pemberantasan terorisme ini tidak permanen dan memiliki batas waktu yang jelas," sambungnya.

Jika tidak demikian, maka ia khawatir tim ini justru akan menimbulkan persoalan baru.

"Apalagi jika di luar kerangka sistem pidana, Koopsus hanya akan memunculkan persoalan baru dalam pemberantasan terorisme, atau persoalan kemanusiaan yang baru,” katanya.

Ikhsan juga menyatakan, dalam mekanisme pekerjaan Koopssus diperlukan tolok ukur agar kekuasaan kinerjanya tidak terlalu luas.

Seperti halnya kejelasan waktu dan kondisi Koopssus dinyatakan harus diturunkan. Dalam hal ini, pemerintah didesak menjelaskan indikator atau prasyarat penurunan Koopssus.

"Indikator-indikator tersebut mencerminkan di luar kapasitas kepolisian untuk menangani kasus tersebut. Karena jika aksi terorisme yang bertransformasi kepada gerakan pendudukan wilayah secara fisik, tentu hal tersebut dapat ditangani kepolisian,” jelasnya.

Di sisi lain, ia mengapresiasi langkah pemerintah yang serius menangani permasalahan terorisme. Namun langkah yang ditempuh juga harus sesuai dengan mekanisme dan hukum yang ada.

“Seharusnya, dengan banyaknya lembaga yang terlibat dalam pemberantasan terorisme membuat masyarakat menjadi semakin aman dan (terorisme) bisa tertanggulangi dengan sebaik mungkin. Jangan sampai kebalikan dengan banyaknya lembaga justru menjadi tidak efektif,” tutupnya.

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

CELIOS Ungkap Ketimpangan Ekonomi Indonesia 2026

Rabu, 22 April 2026 | 14:13

Penambahan Komando Teritorial Berpotensi Seret TNI ke Politik Praktis

Rabu, 22 April 2026 | 14:05

Mega Syariah Bukukan Akuisisi Dana Pihak Ketiga Rp709 Miliar

Rabu, 22 April 2026 | 14:01

Prabowo Bakal Perbanyak Konser K-Pop di Indonesia

Rabu, 22 April 2026 | 13:49

Konsumsi BBM Harus Bijak di Tengah Gejolak Harga

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

Komisi X DPR Sesalkan Dugaan Kecurangan Peserta UTBK Undip

Rabu, 22 April 2026 | 13:48

YLKI Sebut Pajak Tol Salah Sasaran dan Memberatkan Rakyat

Rabu, 22 April 2026 | 13:38

IHSG Sesi I Terkoreksi ke Level 7.544 di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Timur Tengah

Rabu, 22 April 2026 | 13:24

Purbaya Pastikan Nasib Utang Whoosh Sudah Rampung

Rabu, 22 April 2026 | 13:10

Prabowo Jajaki Peluang Kirim WNI Ikut Program Kosmonaut Rusia

Rabu, 22 April 2026 | 12:58

Selengkapnya