Berita

Boris Johnson/Net

Dahlan Iskan

Kian Meriah

JUMAT, 26 JULI 2019 | 05:06 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

TRUMP untuk Amerika. Xi Jinping untuk Tiongkok. Boris Johnson untuk siapa?
 
Merekalah pemimpin yang sangat fokus memikirkan nasib negara masing-masing. Tidak peduli: apakah strategi mereka merusak negara lain.
 
Sebenarnya bisa juga ditambahkan: Vladimir Putin untuk Rusia. Modi untuk India. Kim Jong-Un untuk Korea Utara. Mungkin juga Mahathir untuk Malaysia. Dulu.
 

 
Begitu mudah bagi Johnson untuk mengatakan: tidak peduli pakai “deal” atau “no deal” pokoknya 99 hari lagi Inggris sudah keluar dari Eropa.
 
"Mungkin tidak menunggu sampai 99 hari. Kan sudah terlalu lama menunggunya," katanya di hari pertama menjadi Perdana Menteri Inggris Kamis kemarin.
 
Keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa itu memang sudah dua tahun. Rakyat yang memutuskannya, lewat pemilu referendum. Pelaksanaannya molor terus. Terganggu masalah-masalah teknis di lapangan.
 
Misalnya: bagaimana arus barang dan manusia dari Eropa ke Inggris. Khususnya di daratan Irlandia. Daratan selatan adalah negara Irlandia. Daratan utara adalah Inggris Raya. Yang selama ini seperti tidak ada batas. Lalu-lintas bebas. Tanpa pemeriksaan apa-apa.
 
Apakah tiba-tiba akan ada kantor imigrasi di perbatasan itu? Lalu ada pemeriksaan bea cukai?
 
"Kita atasi dengan akal sehat," kata Johnson. Enteng saja. Meski biasanya yang sulit itu justru ketika memasuki detil-detilnya.
 
Inilah yang membuat Johnson mirip Trump. Mudah melontarkan gebrakan. Juga sangat mencintai namanya sendiri. Johnson juga akan terus menjadi bintang di media. Apa pun dampaknya.
 
Johnson juga senang main kata-kata. Senang mengejek orang. Senang menyerang balik. Tipis kulit dan telinganya.
 
Tapi ada jenakanya. Dan lebih intelektual, khas Inggris.
 
Misalnya saat Johnson jadi wali kota London. Yang begitu banyak berbuat. Selama delapan tahun.
 
Waktu itu Trump bilang “London bisa tidak jadi pilihan untuk dikunjungi karena Islam radikalnya”. Trump belum jadi presiden saat mengatakan itu. Capres pun belum.
 
Johnson langsung membalas. "Orang tidak akan mau ke New York. Takut ketemuan Trump di salah satu pojok kotanya."
 
Johnson sendiri lahir di New York. Ayahnya Inggris. Ibunya pelukis terkenal Amerika. Kelahiran bayi Johnson didaftarkan juga di konsulat Inggris. Agar bisa mendapat dua kewarganegaraan.
 
Pinter, nakal, mbeling dan urakan. Itulah masa remaja Johnson. Ia sekolah di SMA yang didirikan raja Inggris di tahun 1440-an. Menjelang akhir masa kejayaan Majapahit. Ia ingin lulus No. 1 tapi hanya berhasil No. 1 untuk kelompok di bawah level terbaik.
 
Johnson sudah ahli debat sejak sekolah. Lalu jadi aktivis mahasiswa. Kemudian jadi wartawan. Pindah-pindah koran. Juga pindah dari istri pertama ke wanita kedua. Akhirnya jadi anggota DPR dari partai konservatif.
 
Kini Johnson perdana menteri.
 
Susunan kabinet barunya didominasi aktivis Brexit, gerakan keluar dari Eropa. Yang membuat sebagian orang Inggris was-was. Jangan-jangan akan terjadi gejolak ekonomi yang keras, hard landing.
 
Dari susunan menterinya ada nama Sajid Javid. Ayahnya imigran dari Pakistan. Jadi sopir bus di Inggris. Saat datang ke Inggris ibunya belum bisa bahasa Inggris sama sekali.
 
Javid kawin dengan aktivis gereja. Tapi tidak ikut menjadi Kristen. Secara terbuka Javid mengatakan “tidak beragama apa pun”.
 
Menteri keuangannya anak muda: Rishi Sunak. Umur 39 tahun. Keturunan India. Anak orang kaya raya. Saat ini pun bapaknya masih konglomerat di India.
 
Sesaat sebelum menjadi perdana menteri Johnson memberikan wawancara khusus untuk TV Hongkong. Isinya agak mengagetkan. Tidak seperti kesan galaknya: ia akan menjalin hubungan lebih erat dengan Tiongkok. Ia sangat memuji program OBOR, One Belt One Road-nya Xi Jinping.
 
"Kami sangat terbuka pada modal mana saja. Termasuk dari Tiongkok. Buktinya Tiongkok lagi membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di Inggris. Dengan teknologi Tiongkok.
 
"Anak perempuan saya sendiri baru kembali dari Tiongkok," katanya. "Di sana dia belajar bahasa Mandarin. Katanya sulit sekali tapi penting," ujar Johnson.
 
Johnson akhirnya naik panggung. Pertunjukan di panggung dunia akan kian meriah. Di mana-mana.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya