Berita

Masjid di Kota Hangzhou/Net

Dahlan Iskan

Jumat Muda

SABTU, 20 JULI 2019 | 05:02 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

MINGGU besok demo besar-besaran lagi di Hongkong. Demo hari ke-37. Masih topik yang sama: agar RUU ekstradisi dicabut.
 
Saya pun tiba di Tiongkok lagi. Dari Amerika. Tidak mampir Hongkong.
 
Kemarin saya salat Jumat di Kota Hangzhou. Di masjid besar. Dan megah. Yang baru selesai dibangun tiga tahun lalu. Menggantikan masjid lama yang kecil. Yang kalau Jumat mengganggu lalu-lintas. Meluber ke jalan raya.
 

 
Pemerintah Tiongkok membangunkan masjid baru itu. Tiga lantai. Di pusat kota. Dengan arsitektur seperti masjid di Indonesia. Ini agak aneh. Di wilayah Tiongkok Barat pemerintah lagi sewot.

Mengapa masjid-masjid menggunakan arsitektur Arab. Kurang mengedepankan arsitektur lokal. Sampai ada masjid yang harus dibongkar. Dianggap terlalu ke-Arab-araban. Diganti dengan arsitektur lokal.

Seperti masjid tua di Beijing. Atau seperti Masjid Chengho di Surabaya.

Di Hangzhou ini pun saya melihat perkembangan baru: banyak anak muda ke masjid. Seperti juga yang saya lihat di Masjid Ningxia. Atau di Qinghai. Atau di Gansu.
 
Beda dengan 15 atau 20 tahun lalu. Yang masjid hanya diisi orang-orang tua.
 
Sudah lebih sebulan saya selalu salat Jumat dengan orang kulit hitam. Di berbagai belahan Amerika Serikat.

Hanya sekali saya melihat orang kulit putih. Saat salat Jumat di Masjid Fargo, North Dakota. Yang 90 persen jamaahnya orang asal Somalia. Saya dekati yang kulit putih itu. Setelah selesai salat Jumat.
 
"Asli Amerika?" tanya saya.
 
"Bosnia," jawabnya.
 
Beda dengan di Hangzhou ini. Hanya beberapa wajah Arab atau Pakistan yang terlihat. Yang 90 persen orang asli Tiongkok. Umumnya Suku Hui. Yang kebanyakan memakai topi putih itu.

Jam 12.00 saya sudah tiba di masjid. Ternyata Jumatan di Hangzhou baru dimulai pukul 13.30. Itu pun diisi ceramah agama dulu. Dalam bahasa Mandarin. Selama 10 menit.
 
Setelah itu barulah azan. Pengeras suaranya merdu. Hanya untuk di dalam masjid. Akustiknya sempurna.
 
Setelah ceramah itu barulah azan. Lalu masing-masing salat sunah. Ada yang dua rakaat. Ada yang empat. Barulah khotbah. Selama 10 menit. Dalam bahasa Arab dan Mandarin.
 
Saya perkirakan 1.500 orang memenuhi Masjid Hangzhou ini. Saya hitung barisannya: mencapai 20. Tiap baris berisi 80 orang.
 
Pantas kalau masjid lama tidak cukup lagi.
 
Saya lupa membawa paspor. Tertinggal di kantor. Padahal di halaman masjid itu ada pos pemeriksaan. Tas harus masuk scanner. Dan kartu identitas harus diperiksa. Harus bawa KTP (penduduk lokal) atau paspor (orang asing).
 
"Paspor saya ketinggalan di kantor," kata saya.
 
Lalu saya keluarkan SIM yang ada di dompet. Mereka memeriksa SIM itu. Lama sekali. Huruf-hurufnya terlalu kecil.
 
Lalu saya ingat: foto paspor saya ada di HP. Saya buka HP. Saya cari-cari: ketemu.
 
Beres. Mereka tidak harus melihat aslinya. Alat mereka tersambung dengan big data. Begitu nomor paspor diinput, keluarlah paspor saya.
 
Petugas pemeriksanya ada enam orang. Lengkap dengan komputer. Tidak sampai antre. Mereka memasang tenda sementara di halaman masjid.
 
Saya pun bertanya kepada anak muda asal Pakistan. Yang sudah 12 tahun bekerja di Hangzhou.

"Apakah pemeriksaan ini Anda anggap aneh?"
 
"Sama sekali tidak. Malah lebih bagus. Tidak akan terjadi apa-apa. Kita kan orang baik-baik," katanya.
 
Begitu selesai salat Jumat halaman itu sudah bersih. Tidak ada lagi tenda dan alat pemeriksaan itu.
 
Saya juga menemui orang Arab. Yang mengaku sebagai orang Yaman. Dari Kota Hadramaut. Namanya Abdul Aziz. Sudah 7 tahun mondar-mandir ke Tiongkok. Dagang alat-alat listrik. Ia lahir di Mekah. Seumur hidupnya baru sekali ke Yaman.
 
"Ini hanya untuk salat Jumat. Kalau salat lima waktu tidak ada pemeriksaan," katanya.
 
Saya sudah sering ke Hangzhou. Satu jam naik kereta cepat dari Shanghai. Di kota inilah Alibaba berpusat. Pabrik mobil Geely.

Pabrik mobil BYD. Pabrik kamera terbesar di dunia. Asal teh Longqing. Lokasi legenda ular putih. Danau Xihu.
 
Dan Asian Games tahun depan.
 
Tentu saya ingin menginap di Hotel Flyzoo. Milik Alibaba. Yang konon serba komputer itu.
 
Tidak pakai sumpah.

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya