Berita

Ilustrasi Dahlan Iskan/Net

Dahlan Iskan

Nyamuk Nonpolitik

JUMAT, 19 JULI 2019 | 05:28 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SESEKALI bicara soal nyamuk. Nyamuk beneran.
 
Biar pun demo di Hongkong belum juga berhenti. Tiap hari. Sejak entah kapan itu. Bahkan Minggu lusa disiapkan yang terbesar lagi.
 
Juga biar pun Trump masih tetap menarik. Dengan perang dagangnya, perang rasnya, dan perang dengan Irannya.
 

 
Pun biar Pakistan dan India bikin sejarah baru. Di perbatasan mereka.
 
Ups, biar pun dagang sapi lagi seru-serunya di sekitar monas. Sampai saling seruduk dan selentak.
 
Nyamuk tetap juga penting.
 
Terutama di kemarau seperti ini. Atau di musim panas di Amerika dan Eropa.
 
Yang kita bicarakan ini nyamuk Asia. Yang suka menyebarkan malaria (dulu) dan demam berdarah (sekarang).
 
Kini muncul secercah hope. Teorinya sudah saya baca sepuluh tahun lalu.
 
Tapi praktik di lapangannya baru saya baca kemarin: bahwa teori itu betul. Bisa diterapkan: nyamuk bisa dibinasakan. Secara total. Dengan menerapkan teori itu.
 
Uji cobanya dilakukan di dua pulau kecil. Penduduknya 2000 orang. Paling banyak penderita demam berdarahnya.
 
Dua pulau itu di dekat daratan Guangdong. Di selatan Hongkong.
 
Dua tahun lamanya uji coba itu dilakukan. Kini nyamuk di sana hilang sama sekali. Penduduk dua pulau itu sangat senang. Meski awalnya mereka skeptis.

Itulah Pulau Sazhai dan Dadaosha.
 
Sengaja dipilih pulau kecil untuk mengukur keberhasilannya. Letaknya juga agak jauh dari daratan. Agar tidak ada nyamuk baru yang migrasi.
 
Selama dua tahun itu 200 juta nyamuk baru dimasukkan ke kedua pulau tersebut. Semuanya laki-laki, ups, jantan. Yang sudah dikebiri. Dalam arti sudah dimandulkan. Ilmu pengetahuan sudah bisa memproduksi nyamuk baru dalam kondisi mandul.
 
Nyamuk itulah yang jadi pacar nyamuk betina di pulau tersebut. Kepuasan seks si betina terpenuhi. Tapi tidak bisa melahirkan telur yang berisi.
 
Media di Tiongkok menyiarkan berita ini minggu lalu. Yang menjadi salah satu sumber tulisan ini. Sebagai penemuan penting para ilmuwan nyamuk. Dalam usaha memberantas penyakit demam berdarah.
 
Tidak hanya mandul. Produksi nyamuk jantan baru itu juga memperhatikan unsur seksologis. Nyamuk baru itu dibuat lebih gagah. Lebih semok. Agar lebih diincar si benita.
 
Cara membuatnya lebih maskulin adalah: diberi makan gula. Di laboratorium itu disediakan gula. Yang ternyata disukai nyamuk.
 
Itulah sebabnya orang yang menderita gula-darah lebih banyak di gigit nyamuk. Demikian juga orang yang kadar gulanya lebih tinggi dari normal. Misalnya wanita yang lagi hamil. Yang gula dalam darahnya naik.
 
Dengan banyaknya jantan kopong lama-lama telur nyamuk berkurang. Akhirnya tidak ada pejantan baru yang lahir. Saat itulah nyamuk punah.
 
Teori seperti itu sudah lama saya baca. Tapi belum ada yang mencoba memproduksi nyamuk jantan secara besar-besaran. Juga belum ada yang menemukan bagaimana cara membuat nyamuk mandul. Pun belum ada yang mencoba menerapkan secara nyata di satu lokasi. Sampai berhasil.
 
Baru di Tiongkok inilah. Yang ilmuwannya bekerja sama dengan ilmuwan dari Michigan Amerika Serikat.
 
Selama uji coba, kapal yang mendekat ke pulau itu difumigasi. Khawatir ada nyamuk dari luar terbawa oleh kapal.
 
Kemampuan lab di Guangdong itu sendiri sudah jadi bukti. Tinggal menambah jumlah lab serupa. Dan memperbesarnya. Agar mampu melayani uji coba berikutnya: di satu pulau yang lebih besar.
 
Lab di Guangdong itu satu minggu bisa memproduksi 10 juta nyamuk jantan mandul. Diperlukan lima bulan untuk menghasilkan 200 juta nyamuk mandul untuk dua pulau itu.
 
Singapore tentu tertarik untuk menjadi satu-satunya negara bebas nyamuk di dunia. Dengan cara mengadopsi apa yang terjadi di Tiongkok.
 
Saya tahu. Sejak saya masih muda. Singapura sangat getol memberantas nyamuk. Sampai ada gerakan kebersihan besar-besaran di sana. Sekaligus dua anak cukup.
 
Bunyinya: Keep Singapore clean. Wash your hand. Mosquito free. Stop at two.
 
Gerakan itu berhasil untuk kebersihannya. Gagal untuk pemberantasan nyamuknya.
 
Bahkan mulai ditemukan penyakit demam berdarah di Singapura. Yang tentu sangat menghebohkan. Begitu takut orang Singapura pada nyamuk.
 
Tidak terdengar lagi gerakan itu. Yang terdengar justru sindiran lucu. Kata-kata itu dibolak-balik. Lucu sekali.

Menjadi begini bunyinya: Keep mosquito clean. Stop at two, use your hand.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2026 Digelar di JCC, Dorong UMKM Naik Kelas

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:25

Jaksa Agung Rotasi 29 Jaksa Termasuk Dirdik Jampidsus

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05

Bawaslu Mulai Susun Indeks Kerawanan Pemilu 2029

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:00

Refly Harun Kawal Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:45

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:43

OPM Pimpinan Kopitua Heluka Diduga Dalang Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:39

Pemuda Jabar Peduli Gelar Santunan untuk Korban Pesta Rakyat Garut

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:36

Gus Yahya Siap Bertarung Lagi Pertahankan Kursi Ketum PBNU

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:32

Pakta Integritas Perempuan Bangsa Wujud Totalitas Besarkan PKB

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30

Wakapolri Ingatkan Perwira Remaja: Satu Tindakan Menyimpang Rusak Kepercayaan Polri

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:21

Selengkapnya