Berita

Warganegara asing yang mengungsi di depan kantor UNHCR di Jalan Kebon Sirih, Jakarta./RMOL

Jaya Suprana

Hope Dan Puing

SABTU, 13 JULI 2019 | 06:19 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KANTOR Berita RMOL pada 6 Juli 2019 memberitakan bahwa seorang bayi perempuan bernama Arzo Zahara dilahirkan sebulan lalu di RS Tarakan, Jalan Kiai Caringin, Gambir, Jakarta Pusat. Kini dia dipanggil dengan sapaan Hope. Artinya, harapan.

Hope

Hanya sebentar berada di rumah sakit, Hope bersama ayah, ibu, dan kakak-kakaknya, juga ratusan pengungsi lainnya dari berbagai negara, menempati trotoar di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.


Di depan Masjid Ar Rayyan, Kementerian BUMN, di seberang Gedung Ravindo, tempat Komisi Tinggi untuk Pengungsi PBB (UNHCR) berkantor. Para pengungsi dari berbagai negara berada di trotoar jalan Kebon Sirih sebelum dipindahkan ke lokasi lain oleh Pemprov DKI Jakarta.

Hope menjadi satu-satunya bayi mungil yang mengungsi di jalan itu. Selain dia ada belasan atau mungkin puluhan anak-anak kecil yang ikut mengungsi dan tinggal di trotoar Jalan Kebon Sirih bersama orangtua mereka.

Mereka seakan tidak atau setidaknya belum mengerti kesulitan yang dihadapi orang tua mereka: melarikan diri dari kampung halaman, dari negeri tercinta, untuk menghindari penderitaan akibat konflik kekerasan, perang, dan kelaparan.

Berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik di tanah orang. Tetapi apa daya, di tanah pengungsian mereka hidup terlunta-lunta. Sebagian pengungsi sebelumnya tinggal di penampungan di Cisarua, Bogor.

Sebagian lainnya selama bertahun-tahun tinggal di trotoar di depan Kantor Imigrasi di Kalideres, Jakarta Barat.

Puing

Pengungsi bukan terbatas datang dari suatu negara ke negara lain. Pengungsi juga bisa datang dari dalam kota Jakarta sendiri bukan akibat perang atau kesulitan sosio-ekonomi namun akibat digusur.

Misalnya di atas puing-puing bekas gusuran di Pasar Akuarium, Luar Batang di Jakarta Utara, kami sempat menjumpai para pengungsi yang terpaksa mengungsi akibat penggusuran atas nama pembangunan demi menjadikan Jakarta kota yang layak disebut modern.

Di atas puing-puing bekas gusuran di Pasar Akuarium itu kami berjumpa dengan seorang bayi diberi nama Puing.

Penjelasan ibunda tentang kenapa bayinya diberi nama Puing sederhana saja yaitu karena Puing dilahirkan di atas puing-puing bekas reruntuhan penggusuran Pasar Akuarium.

Derita

Akibat sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi maka orangtua Puing terpaksa membangun gubuk sementara terbuat dari kardus bekas sebagai tempat berteduh sang bayi berdesakan bersama sanak-keluarganya.

Bayi yang dilahirkan di masa pengungsian bukan terbatas hanya di atas puing-puing bekas gusuran Pasar Akuarium, Luar Batang saja namun juga di Kalijodo, Bukit Duri, Sukomulyo, Kulon Progo, Tulang Bawang, Papua dan berbagai pelosok Nusantara.

Bukan cuma bayi dilahirkan namun juga para orang dewasa jatuh sakit bahkan meninggal dunia akibat tidak tahan menanggung derita lahir-batin digusur seperti yang misalnya terjadi di asrama pengungsian para rakyat tergusur di Bukit Duri.

Namun memang hanya mereka yang pernah mengalami derita digusur yang dapat merasakan betapa berat beban penderitaan lahir-batin akibat digusur atas nama pembangunan.

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya