Berita

Foto: Net

Publika

Masa Depan Dunia: Kemunculan Ekonomi Sentralis, Elit Anti Globalisasi Dan New World Order

RABU, 03 JULI 2019 | 15:13 WIB

IDE globalisasi, keberadaaan lembaga institusi seperti Bank Dunia, IMF dan WTO menjadi tidak relevan dan dianggap ketinggalan zaman.

Dunia memerlukan arah baru, namun bagaimana kah arah baru itu? Kenapa globalisasi dan tatanan global memerlukan perubahan-perubahan mendasar? Bagaimanakah masa depan dunia?

Meramal masa depan dunia sangatlah sulit, namun dengan menganalisa dengan teliti fenomena dunia hari ini maka sang futurologi bisa mengembangkan model dan melakukan proyeksi masa depan akan seperti apa.


Fenomena hari ini kita menyaksikan memanasnya kembali isu perang dagang (trade war) AS-China, tensi politik menegang antara AS-Iran dan serangan terkini Israel ke Suriah, brexit tanpa deal, kemenangan populis di Eropa serta perang Arab Saudi vs Yaman, dan tensi tegang perdagangan negara timur tengah vs Iran menambah catatan penting tentang bagaimana masa depan dunia terbentuk.

Dunia akan menjadi kubu-kubu (multipolar) yang terbagi, namun kubu yang terbagi tersebut memiliki karakteristik yang sama yaitu berkembangnya pertumbuhan ekonomi yang semakin nasionalis dan sentral, masifnya elit negara yang anti globalisasi dengan kubu (polar) yang lain dan ketidakrelevanan tatanan dunia kontemporer (world order) saat ini.

Salah satu pemikir yang memiliki prediksi yang serupa tersebut adalah Michael O’Sullivan, seorang mantan bankir investasi dan ekonom di Universitas Princeton.

Dalam buku terbarunya, yang berjudul The Levelling: What's Next After Globalisation yang terbit 28 Mei 2019. Michael O’Sullivan mengatakan globalization is dead.

Ikhtisari buku The Levelling karya Michael O’Sullivan sebagai berikut:

Liberal demokrasi telah mencapai puncaknya. Michael O’Sullivan (penulis buku The Levelling)  percaya bahwa liberal demokrasi telah membentuk kesejahteraan kepada para penganutnya dibandingkan otoritarianisme yang terbukti gagal menciptakan kesejahteraan. Namun liberal ekonomi mengalami tantangan dengan hadirnya kekuatan ekonomi sentris yang dibuktikan dengan peningkatan eksponensial kesejahteraan China.

Kesimpulannya, penulis menganggap dunia kita hidup berubah dari pan Americana kepada multipolar world (dunia multipolar) dan sayangnya lembaga tatanan internasional (international order) yang ada tidak siap untuk itu. Model ekonomi sental akan lebih banyak diadopsi daripada sebelumnya.

Globalisasi sudah mati. Michael O’Sullivan mengatakan kita harus ucapkan selamat tinggal kepada globaliasi dan menetapkan pikiran baru pada dunia multipolar yang muncul.

Setidaknya ada dua hal yang menyebabkan globalisasi hilang relevansinya.

Pertama, pertumbuhan ekonomi global telah melambat, dan sebagai akibatnya, pertumbuhan terjadi lebih hanya karena rekayasa keuangan "more financialised" yaitu ekonomi tumbuh karena utang dan ekonomi tumbuh karena "aktivitas moneter" di mana, bank sentral memompa uang ke dalam perekonomian dengan membeli aset (quantitative easing), seperti obligasi dan saham (ekuitas) untuk mempertahankan pertumbuhan dan status ekspansi keuangan internasional.

Kedua, efek residu atau lebih tepatnya efek negatif dari globalisasi yang menjadi jelas terlihat yaitu globalisasi menyebabkan ketimpangan laten, dominasi perusahaan multinasional atas sumber daya dan bubarnya rantai pasokan global, yang semuanya itu menjadi isu politik panas saat ini.

Krisis 2008 belum menemukan obat mujarabnya. Michael O’Sullivan berkesimpulan dampak dari tidak ada solusi mujarab dari krisis keuangan 2007/2008 maka hari ini pertumbuhan ekonomi dunia hanya ditopang oleh financing engineering (rekayasa keuangan) dari global investor dan bank sentral.

Dunia akan didominasi oleh tiga kubu besar. Menurut O’Sullivan dunia akan terbagi setidaknya tiga polar yaitu: Amerika, Uni Eropa dan Asia Sentris-Cina.

Mereka akan semakin mengambil pendekatan yang sangat berbeda untuk kebijakan ekonomi, kebebasan, peperangan, teknologi dan masyarakat. Negara-negara menengah seperti Rusia, Inggris, Australia dan Jepang akan berjuang untuk menemukan tempat barunya di dunia. Sementara itu koalisi baru akan muncul, seperti "Liga Hanseatic 2.0" yaitu negara kecil dan maju seperti negara-negara Skandinavia dan Baltik.

Lembaga tatanan dunia seperti IMF, (Dana Moneter Internasional) dan WTO, (organisasi perdagangan dunia) akan mengalami defunction dan tidak relevan.

Pendekatan kehidupan publik dunia akan didominasi dua yaitu pendekatan the levellers dan pendekatan leviathan.

Menurut O’Sullivan, dominasi pendekatan para the levellers dan leviathan akan saling bersaing.  

Pendekatan the levellers adalah pendekatan yang menggambarkan bahwa formula pengambilan keputusan publik diambil dengan sangat transparan dan melibatkan publik yang luas (demkratik).

Eropa dan Amerika mengakui pendekatan tersebut, meski dalam praktek mengalami terus mengalami penurunan. Pendekatan Leviathan adalah Pendekatan dimana proporsi pelibatan publik diseleraskan dengan proporsi keterbukaan ekonominya. Pendekatan tersebut seperti diterapkan di Rusia, Turki dan China.

Tatanan Dunia Baru akan muncul sebagai keseimbangan antara the levellers dan leviathan.

Negara leviathan seperti yang dikembangkan di China, Rusia dan Turki akan mengalami tantangan beberapa tahun ke depan seperti tantangan menjaga stabilitas ekonomi dari meningkatnya pengangguran akibat menurunnya volume perdagangan dan pertumbuhan. Sedangkan negara levellers memiliki tantangan bagaimana menjaga keterbukaan dan kohesi sosial antar ras, ditengah volatilnya dinamika kehidupan politik dan ekonomi.

Kesimpulan:
Masa Depan Dunia Dapat Lebih Baik dari Skenario Perang Global, Itu semua tergantung diri kita sendiri.

Michael O’Sullivan dalam buku tersebut melakukan kritik terhadap para kaum globalis yang melihat dunia ke depan dalam bingkai apokalistik (perang dan end of history) dan pesimistik jika globalisasi berhenti. Skenario benturan peradaban adalah skenario satu-satunya yang mungkin jika globalisasi terhambat.

Menurut O’Sullivan, Dunia bisa saja mengakomodasi negara levellers dan leviathan untuk hidup berdampingan tanpa harus saling memaksa satu sama lain.

Namun pertanyaan pentingnya adalah Maukah elit berkuasa hari ini (kaum Caussians) mengurangi sedikit pengaruh dan kenyamanannya untuk diberikan kepada elit baru (negara lain multi ras) yang muncul dari konsekuensi keberhasilan ekonomi sentalistis terutama di negara berkembang.

Bagaimana memunculkan kesepahaman tersebut di saat ego elit pengambil keputusan didukung oleh kemenangan kaum radikal nasionalis. Tentunya kita sendiri yang bisa menjawab, apakah dunia kita tinggal mau win-win (menang-menang) atau lose-lose (kalah-kalah)?



Hidayat Matnoer
Pengamat Kebijakan Publik dan Moneter

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Tambahan Dana BBM Subsidi Tembus Rp2 Triliun per Hari

Jumat, 10 April 2026 | 02:02

HIPKA Dorong Kepercayaan Pengusaha di Tengah Ketidakpastian Global

Jumat, 10 April 2026 | 01:26

Warga Dunia Khawatir Konflik Iran-Israel Kembali Pecah

Jumat, 10 April 2026 | 01:19

Perlu Hitungan Matang Jaga Ketahanan BBM

Jumat, 10 April 2026 | 01:04

Sandiaga Uno Raih Penghargaan Muzakki Teladan Berdampak

Jumat, 10 April 2026 | 00:31

Prabowo Cerdas Sikapi Wacana Impeachment

Jumat, 10 April 2026 | 00:18

Masa Depan Jakarta Ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 00:05

Gencatan Senjata Iran-Israel Bukan Akhir Konflik, Indonesia Wajib Waspada

Kamis, 09 April 2026 | 23:41

Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba Butuh Pemimpin Baru

Kamis, 09 April 2026 | 23:24

MRT Adalah Game Changer Transformasi Kota Tua Jakarta

Kamis, 09 April 2026 | 23:03

Selengkapnya