Berita

Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Gerindra, Supratman Andi Agtas/Net

Politik

Gerindra Dorong Komisi VI DPR Bentuk Panja Garuda

SELASA, 02 JULI 2019 | 16:12 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Komisi VI DPR didorong membentuk Panitia Kerja (Panja) untuk menyelesaikan persoalan di PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA).

"Panja ini lagi saya minta untuk bicarakan dengan teman-teman Komisi VI," kata Anggota Komisi VI DPR dari Fraksi Gerindra, Supratman Andi Agtas, Selasa (2/7).

Menurutnya, ada sejumlah permasalahan serius yang terjadi di tubuh Garuda, maskapai penerbangan plat merah itu.


Seperti, rangkap jabatan I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra sebagai Dirut PT Garuda Indonesia dan Komisaris Utama PT Sriwijaya Air, kisruh laporan keuangan dan dugaan kartel harga tiket pesawat.

"Saya khawatir penggabungan manajemen dengan Sriwijaya, itu memang dimaksudkan supaya tinggal dua pemain besar. Akibatnya, kartel semakin mudah dilakukan. Itu yang harus kita telusuri," ujar Supratman.

Soal laporan keuangan, itu sudah diputuskan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Menteri Keuangan Sri Mulyani.

"Menkeu sudah suspend terhadap akuntan publik yang melakukan audit itu. Pemberhentian sementara terhadap akuntannya. Itu membuktikan, bahwa memang ada kesalahan manajemen. Kita dukung sebenarnya, apa yang menjadi upaya Garuda dalam rangka mendapatkan pendapatan di luar harga tiket," ucapnya.

"Kita dukung bagaimana inflight entertaiment itu bisa dimanfaatkan secara jelas, bisa dimaksimalkan begitu pula wifi connectivity-nya. Bagus buat layanan penumpang," tambah Supratman.

Persoalannya, menurut Supratman, baru sekitar 160 ribu dolar AS yang disetor oleh mitra Garuda untuk inflight entertainment. Dan yang jadi pertanyaan, dengan angka seperti itu kenapa bisa membuat laporan Garuda untung Rp 14 miliar.

"Ini ada apa? Kontraknya seperti apa? Kenapa piutang itu segera bisa menutupi kerugian maskapai begitu besar. Apa yang dilakukan dirut Garuda saya bisa pahami sebagai sebuah tindakan korporasi dan itu bagus. Cuma masalahnya, apakah benar kontraknya seperti itu? Karena DP-nya kecil sekali hanya 160 ribu dolar AS," tuturnya.

Yang paling dirugikan terhadap kebijakan Garuda dalam memuat laporan keuangan adalah pemegang saham individual. Lalu bagaimana pertanggungjawaban direksi terhadap kepemilikan saham mereka, kalau untuk pemegang saham corporate itu enggak ada masalah.

"Saya tidak tahu persis yang individual berapa persen. Mungkin bisa 10 persen dari total saham yang ditawarkan di bursa efek. Kalau 10 persen kan jumlah besar," ungkap Supratman.

Hal-hal seperti ini nanti yang akan ditelusuri Panja. Dan yang lebih penting lagi, berkaitan dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Indikasinya, KPPU sudah nyatakan bahwa ini kartel, hanya menguntungkan Garuda. Garuda memang untung benar, tapi tidak sebanding dengan keuntungan yang diperoleh grup Lion beserta Sriwijaya.

"Saya enggak tahu perjanjian Garuda-Sriwijaya. Itu Sriwijaya bergabung menjadi member Garuda, fee marketinya berapa sih dari semua harga tiket. Kita belum tahu. Manajemen Garuda harus buka," demikian Supratman.

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

Gugurnya Prajurit Jadi Panggilan Indonesia Tak Lagi Jadi Pemain Cadangan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:20

Aktivis KontraS Ungkap Kondisi Terkini Andrie Yunus di RSCM

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:19

Trump Ngotot akan Tetap Hancurkan Listrik dan Semua Pabrik di Iran

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:17

KPK Kembangkan Kasus Suap Importasi

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:09

Pertamina Bantah Kabar Harga Pertamax Tembus Rp17 Ribu per Liter

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:02

Siang Ini Jakarta Diprediksi Kembali Hujan Ringan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:00

Tiga Prajurit RI Gugur di Lebanon, Menlu Desak DK PBB Rapat Darurat

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:45

Transparansi Terancam: 37 Ribu Pejabat Belum Serahkan LHKPN

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:40

Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Dilimpahkan ke Puspom TNI

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:27

Gibran Didorong Segera Berkantor di IKN Agar Tak Mubazir

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:18

Selengkapnya