Berita

Jumpa pers Jokowi-Maruf beberapa bulan lalu/Net

Politik

Meski Jokowi Mau, Belum Tentu Partai Pengusung Setuju Oposisi Dirangkul

SENIN, 10 JUNI 2019 | 21:55 WIB | LAPORAN:

Upaya Presiden Joko Widodo untuk merangkul kelompok oposisi pada periode kedua pemerintahannya terganjal oleh restu elite partai pengusung.

Pengamat Komunikasi Politik Universitas Gajah Mada (UGM) Nyarwi Ahmad berpandangan, peluang Jokowi merangkul oposisi cukup terlihat. Hal itu, menurutnya, berdasarkan pada pernyataan Capres 01 itu pasca penetapan KPU 21 Mei lalu.

"Jika Jokowi mengambil langkah tersebut, berarti upaya rekonsiliasi dan de-polarisasi politik Pasca Pilpres 2019 lebih dikedepankan atau menjadi pertimbangan penting," ujar Nyarwi kepada Kantor Berita RMOL, Senin (10/6).


Nyarwi menambahkan, langkah merangkul oposisi itu tidak hanya dilakukan Jokowi kepada Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional (PAN) saja. Kekuatan oposisi lainnya seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerindra juga berpotensi untuk dirangkul oleh pasangan Cawapres Maruf Amin tersebut.

Tawaran yang diberikan Jokowi pun dinilai Nyarwi beragam. Beberapa di antaranya adalah kursi kabinet dan posisi penting di legislatif dalam hal ini DPR dan MPR.

"Tapi itu semua tergantung pada pimpinan partai-partai tersebut, seauh mana mereka menerima tawaran itu," sambungnya.

Di sisi lain, Nyarwi juga menyebut peluang bergabungnya kelompok oposisi pada pemerintahan Jokowi-Maruf nanti juga tergantung restu dari partai pengusung keduanya di Pilpres 2019. Diketahui, Jokowi-Maruf diusung oleh koalisi yang cukup besar, yang melibatkan 10 partai politik seperti PDIP, Golkar, Nasdem, PKB, PPP dan lainnya.

"Pimpinan parpol-parpol pengusung Jokowi dalam Pilpres kemarin juga menjadi faktor penentu, khususnya elite kunci di partai tersebut. Sejauh mana mereka mau menerima 'pendatang baru' tersebut," jelasnya.

"Meski Jokowi memiliki privilege dalam menentukan formasi kabinet, (tapi) suara tokoh-tokoh tersebut sedikit banyak pasti berpengaruh," lanjutnya.

Lebih dalam, Nyarwi menilai saat ini baru PAN dan Demokrat yang menunjukkan ketertarikan untuk bergabung dengan periode kedua pemerintahan Jokowi. Sementara PKS dan Gerindra, peluang untuk bergabung masih sangat kecil.

"Kedua partai ini (PKS dan Gerindra) yang sampai sekarang masih jelas-jelas menunjukkan loyalitasnya pada Prabowo. Selama belum ada pertemuan resmi Prabowo dan Jokowi, tampaknya situasi tersebut tidak banyak berubah," tandas Nyarwi.

Bahkan, PKS dan Gerindra memiliki peluang besar untuk tetap berada di barisan oposisi selama pemerintahan Jokowi-Maruf nanti. Hal ini akan terjadi jika komunikasi politik antara Prabowo dan Jokowi tetap beku bahkan hingga setelah putusan MK diumumkan.

"Situasinya sepertinya agak beda dengan PD dan PAN. Kedua partai ini tampaknya lebih mudah tergoda untuk masuk barian Pemerintahan Jokowi," sambungnya.

Meski begitu, Nyarwi berpandangan suara PKS dan Gerindra akan tetap bising meski secara kalkulasi jumlah kursi keduanya di legislatif sangat kecil jika dibandingkan dengan kursi pendukung Jokowi-Maruf.

"Suara-suara kritis dari elite-elite kedua partai tersebut dan para pendukungnya, tampak masih cukup kuat untuk membuat kebisingan dalam pemerintahan Jokowi di periode mendatang," pungkas Nyarwi.

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya