Berita

Donald Trump/Net

Dahlan Iskan

Bea Caravan

SABTU, 08 JUNI 2019 | 05:08 WIB | OLEH: DAHLAN ISKAN

SESEKALI, sebelum melanjutkan Riau 1 saya memuji Trump. Dengan ide barunya: mengenakan bea masuk barang Meksiko. Yang tidak ada hubungannya dengan perang dagang.

Lewat senjata ampuh tweetnya, Trump mengancam Meksiko: kalau tidak bisa mencegah imigran masuk Amerika hukuman dijatuhkan. Barang Meksiko yang dikirim ke Amerika dikenakan bea masuk. Bulan pertama 5 persen. Kalau bulan kedua masih ada imigran dinaikkan lagi 5 persen. Begitu terus. Tiap bulan. Lima bulan lagi, Oktober, menjadi 25 persen.

Kalau bea masuk sudah mencapai 25 persen matilah Meksiko. Yang ekonominya tidak sekuat Tiongkok. Yang ketergantungannya pada Amerika nyaris mutlak. Kalau kena bea masuk 25 persen ekspor Meksiko macet total. Pabrik-pabrik di Meksiko tutup.


Ini memang ide gila. Bagi kebanyakan orang. Atau ide normal. Bagi Trump. Atau bertanyalah pada psikiater: apakah orang gila itu justru menganggap orang waras yang gila?

Trump kelihatannya memang memenuhi syarat saya. Yang sering saya nasihatkan kepada orang waras: jangan melawan tiga jenis orang berikut ini.

Pertama, orang kaya. Ia akan banyak menangnya.

Kedua, orang yang punya kuasa. Ia akan banyak menangnya.

Ketiga, orang gila. Ia akan banyak menangnya.

Bayangkan kalau orang kaya itu juga punya kuasa dan apalagi juga lagi gila. Habislah. Ide yang lebih ruwet dari Riau 1 pun akan bisa ditemukan.

Tidak akan terpikirkan oleh siapa pun. Soal imigrasi dikaitkan dengan bea masuk. Tidak ada di pelajaran ilmu ekonomi. Pun di tingkat doktoral.

Tapi terbukti. Ancaman Trump itu efektif. Meksiko langsung bertekuk lutut. Pejabat tingginya langsung ke Washington. Ngemis kelonggaran.

Tapi Trump tetap Trump. Ia tetap kenakan tarif 5 persen itu. Dan tetap akan terus ia naikkan. Trump tidak perlu orang nangis. Trump ingin lihat kenyataan di lapangan.

Kalau Meksiko sudah berbuat maksimal bea masuk itu akan dicabut. Kembali pada kewarasan: perjanjian free trade seluruh Amerika Utara berlaku lagi. Tanpa bea masuk sama sekali.

Kemarin Meksiko mulai keras kepada imigran. Yang mencoba ke Amerika lewat negerinya. Benar-benar dihadang di perbatasannya. Di selatan. Di garis antara Meksiko dan Guatemala. Dekat kota Tapachula.

Yang bikin pusing Trump memang bukan hanya imigran dari Meksiko. Juga dari Guatemala. Bahkan dari Honduras, selatannya Guatemala.

Secara politik Trump pernah dipermalukan. Saat ribuan orang Honduras konvoi berjalan kaki menuju Amerika. Melewati Guatemala dan Meksiko.

Trump dianggap tidak manusiawi. Menghadang dengan keras. Tidak mau menerima mereka. Sampai mereka terlantar di perbatasan. Banyak yang kekurangan pangan. Atau meninggal.

Trump pun jadi sasaran. Digebuki di mana-mana. Trump memang lagi sensi soal imigran. Lantaran anggaran tembok perbatasannya tidak disetujui DPR-nya.

Konvoi tahun lalu itu memang jadi berita dunia. Sangat dramatik. Ribuan orang jalan kaki sejauh lebih 3000 km. Saat masuk Guatemala mereka diloloskan. Alasannya: kemanusiaan. Dan toh hanya numpang lewat.

Saat memasuki Meksiko juga sama. Kemanusiaan. Dan hanya numpang lewat. Tiap hari mereka berjalan sejauh 30 km. Sebagian ada yang cari nunutan truk. Jarak pendek. Ganti-ganti nunutan. Wanita dan anak-anak.

Guatemala memang miskin. Penduduknya 20 juta. Negara itu kecil. Di leher benua. Seperti hanya selebar kain. Yang menghubungkan Amerika Utara dan Amerika Latin.

Tanahnya pun bergunung-gunung. Gunung berapi pula. Terutama di wilayah baratnya. Yang menghadap ke lautan Pasifik.

Negara sekecil itu punya 30 gunung berapi. Pun sangat tinggi-tinggi. Yang melebihi 3.500 meter ada tujuh. Yang tiga lagi melebihi 4.000 meter.

Pendapatan perkapitanya mirip kita: USD 4.000. Tapi indeks GNI (gross national income)-nya 4,3. Kaya-miskinnya sangat timpang. Andalannya kopi. Kopi Guatemala. Perkebunan. Di mana-mana perkebunan lebih banyak menghasilkan ketimpangan.

Honduras lebih miskin lagi. Pendapatan perkapitanya hanya USD 2.800. Timpangnya juga luar biasa. Kriminalitas tinggi. Preman dan geng merajalela.

Mereka mimpi Amerika.

Penduduk Honduras hanya 10 juta. Tapi yang sudah tinggal di Amerika 3 juta. Lebih separonya pendatang gelap. Mereka inilah yang terus memberi kabar: hidup di Amerika lebih enak. Biar pun harus sembunyi-sembunyi.

Mimpi Amerika terus seperti mimpi surga.

Honduras juga mengandalkan perkebunan: kopi dan tebu. Tapi produksi premannya lebih menonjol.

Negara-negara di bentangan kain Amerika Tengah ini bisa jadi bahan kampanye Hizbut Tahrir: lihatlah mereka. Sudah sejak tahun 1820-an merdeka. Dan sejak itu sudah menggunakan sistem demokrasi. Toh tidak berhasil.

Di sana demokrasinya tua. Sangat tua. Tapi kemiskinannya membuat sembako lebih menarik. Dibanding selembar kartu suara.

Kemiskinan kadang menyenangkan. Di sana. Bagi pedagang suara. Di sana. Yang ingin menghasilkan pemimpin sekelas sembako. Di sana.

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

KPK Periksa Pejabat Pemprov Jatim di Kasus Dana Hibah

Senin, 13 Juli 2026 | 14:40

Panen Raya TNI, Presiden Prabowo: Saya Bahagia Hari Ini

Jumat, 17 Juli 2026 | 22:57

UPDATE

Bazar Kreasi Bhayangkari Nusantara 2026 Digelar di JCC, Dorong UMKM Naik Kelas

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:25

Jaksa Agung Rotasi 29 Jaksa Termasuk Dirdik Jampidsus

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:05

Bawaslu Mulai Susun Indeks Kerawanan Pemilu 2029

Rabu, 22 Juli 2026 | 20:00

Refly Harun Kawal Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:45

Max Blumenthal Soroti Ancaman Kebebasan Pers akibat Kemitraan AS-Israel

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:43

OPM Pimpinan Kopitua Heluka Diduga Dalang Pembunuhan Tiga Warga Sipil di Yahukimo

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:39

Pemuda Jabar Peduli Gelar Santunan untuk Korban Pesta Rakyat Garut

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:36

Gus Yahya Siap Bertarung Lagi Pertahankan Kursi Ketum PBNU

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:32

Pakta Integritas Perempuan Bangsa Wujud Totalitas Besarkan PKB

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:30

Wakapolri Ingatkan Perwira Remaja: Satu Tindakan Menyimpang Rusak Kepercayaan Polri

Rabu, 22 Juli 2026 | 19:21

Selengkapnya