Berita

Publika

Pembantaian Tiananmen Di China

SELASA, 04 JUNI 2019 | 12:44 WIB

PADA peringatan 30 tahun peristiwa Tiananmen, media Cina Hong Kong, South China Morning Post (SCMP) menurunkan berita mengenai tragedi pembantaian terhadap para pengunjuk rasa damai di RRC yang terjadi pada 4 Juni 1989.

Pada hari itu, Tentara Pembebasan Rakyat (People Liberation Army - PLA) membantai sekitar 1.000 orang rakyat yang melakukan unjuk rasa damai di lapangan Tiananmen, Beijing.

Unjuk rasa damai dipicu oleh kematian misterius dari Hu Yaobang, seorang tokoh pemimpin gerakan reformasi sistem komunis di RRC.


Para mahasiswa pro demokrasi bergerak. Selama beberapa minggu rakyat  bersama para mahasiswa yang memprotes korupsi dan menginginkan demokrasi di Cina melakukan un juk rasa damai di lapangan Tiananmen.

Pada waktu itu, komunisme di seluruh dunia sedang goyang, menjelang berakhirnya Perang Dingin antara blok Barat (NATO) yang anti komunis dan Blok Timur yang komunis (Pakta Warsawa).

Perang Dingin berakhir tahun 1990, dan diikuti bubarnya imperium komunis Uni Soviet tahun 1991dan bubarnya Pakta Warsawa.

Angin perubahan juga melanda RRC dan mulai menggoyang Partai Komunis Cina (PKC). Pemimpin Cina, Deng Xiaoping baru memulai menerapkan sistem Kapitalisme Monopoli Negara (State Monopoly Capitalism), menggantikan sistem perekonomian komunis yang telah gagal dimana-mana.

Tetapi sistem politiknya tidak berubah, yaitu Diktatur Proletariat yang ketat dangan sistem satu partai, yaitu Partai Komunis Cina.

Perdana Menteri Cina waktu itu, Zhao Ziyang yang bersimpati dengan gerakan perubahan dalam sistem komunis, dicopot dari jabatannya. Kendali pemerintahan dipegang langsung oleh Deng Xiaoping yang menjadi diktator yang kejam demi mempertahankan kekuasaan PKC.

Menjelang peringatan tragedi Tiananmen, pemerintah RRC memblokir Wikipedia, sehingga generasi muda Cina tidak mengetahui mengenai peristiwa tersebut. Google telah menghentikan kerjasama dengan Cina.

SCMP menulis a.l. kesaksian dua orang mantan perwira PLA yang menyampaikan kesedihan mereka atas tragedi yang terjadi 30 tahun lalu.

Seorang purnawirawan perwira PLA yang berdinas di Departemen Politik Tentaramengatakan a.l.:

“Tak peduli apakah satu orang atau 10.000 orang rakyat dibunuh. Itu adalah kesalahan menembak penduduk sipil tak bersenjata. Akan tetapi tentara harus melakukan pekerjaan kotor ini, karena pemerintahan Partai dalam bahaya.”

Sebelum terjadinya peristiwa pembantaian terhadap rakyat pada 4 Juni 1989, nama Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) sangat harum di kalangan rakyat. PLA lahir dari perjuangan rakyat melawan pemerintah Kuomintang yang zalim di bawah Jenderal Chiang Kaishek yang didukung oleh Amerika Serikat dan Inggris.

SCMP menulis, peristiwa tersebut telah meninggalkan luka pada psikis tentara.

Imperium komunis Uni Soviet bertahan selama 70 tahun, kemudian bubar. Mantan presiden Uni Soviet, Mikail Gorbachew menuturkan, bahwa kehancuran Uni Soviet terjadi karena adanya perpecahan di dalam.

Ini masalah yang sering terjadi, yaitu diawali oleh perpecahan dalam pemerintahan itu sendiri. Demikian juga dengan bubarnya negara komunis Jerman Timur, yang hanya bertahan selama 39 tahun.

PKC mulai berkuasa tahun 1949. Tahun ini berusia 70 tahun. Tidak mungkin PKC membungkam untuk selamanya  seluruh rakya cina yang berjumlah hampir 1,5 milyar. Cepat atau lambat peristiwa Tiananmen akan berulang.

History repeats itself!

Hanya masalah waktu, bahwa imperium komunis Cina juga akan runtuh.

Batara Hutagalung

Penulis adalah sejarawan tinggal di Jakarta.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Tokoh Reformasi Amien Rais, Megawati, Sultan HB X dan Gus Dur

Selasa, 12 Mei 2026 | 14:15

KPK Panggil Mantan Kepala BBPJN Stanley Cicero

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:55

Trump Geram Kuba Tak Kunjung Tumbang Meski Dihantam Embargo Minyak AS

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:54

UEA Diduga Diam-Diam Ikut Serang Iran

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:47

Juri Lomba Cerdas Cermat Jangan Antikritik

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:45

Dua Ajudan Bupati Pekalongan Fadia Arafiq Digarap KPK

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:41

Purbaya Dorong Insentif Mobil Listrik di Tengah Ancaman Konflik Iran-AS Berkepanjangan

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:25

Gibran Puji Inovasi Transportasi Gratis Pemprov DKI

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:20

Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar di Kalbar Harus Diulang

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Aktivis Global Sumud Flotilla Alami Penyiksaan Selama Ditahan Israel

Selasa, 12 Mei 2026 | 13:18

Selengkapnya