Berita

Presiden Joko Widodo/Net

Publika

Kinerja Memble BUMN Di Era Jokowi

KAMIS, 16 MEI 2019 | 13:57 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

BANYAK pihak yang bergerak di sektor swasta mulai berkeluh kesah terhadap pola gerak BUMN di era Presiden Joko Widodo. Mereka umumnya menilai BUMN saat ini "sukses" mematikan swasta dari persaingan bisnis di tanah air.

Bukti yang paling jelas adalah fakta dari GAPENSI (Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia) di awal tahun 2019, yang menyebutkan: sekitar 45 ribu perusahaan konstruksi swasta telah gulung tikar selama era Jokowi.

Belum ada saja suara dari asosiasi yang lain. Tapi sayup-sayup suara-suara keluhan mulai terdengar.


Salah seorang teman yang bergerak di kelistrikan, misalnya, mengkritisi sepak terjang PLN yang saat ini merambah juga bisnis pertambangan, bisnis gas, EPC di solar pv, hingga bisnis rental power bank.

Istilah teman saya tersebut, semua proyek yang ada saat ini seolah mau "dikekap" BUMN, sampai proyek katering pun mau diambil mereka. Selorohnya.

Teman lain bercerita, beberapa BUMN konstruksi misalnya, saat ini sedang membuat anak-anak perusahaan yang hendak mengejar proyek-proyek energi termasuk mencari sumur migas dan mengembangkan pembangkit listrik tenaga sampah.

Teman yang lain lagi bercerita, BUMN-BUMN termasuk Pertamina kini bahkan sedang berusaha masuk ke bisnis financial technology (fintech). Ada info juga bersama BUMN-BUMN tambang sedang berkumpul untuk membuat anak perusahaan pengelolaan sampah B3.

Dari cerita-cerita tersebut, tampak BUMN-BUMN terlampau kreatif, menggusur lahan bisnis swasta, sampai kehilangan fokus pada koor bisnis masing-masing. Sehingga kalah dari negara tetangga.

Misalnya, bila dibandingkan dengan Petronas di Malaysia, Pertamina semakin jauh tertinggal. Janji Jokowi saat kampanye tahun 2014 untuk Pertamina dapat mengejar Petronas, tak akan pernah terwujud hingga berakhir masa jabatannya.

Reuters sampai membuat liputan khusus pada 7 Marer 2019, yang isinya membandingkan kedua perusahaan minyak ini. Tetapi dengan judul yang menyakitkan: "Unlikely Twins and Diferring Fortunes: Malaysia’s Petronas and Indonesia’s Pertamina" (https://www.reuters.com/article/us-petronas-pertamina-insight-idUSKCN1QO0GR).

Kemudian, belum lagi cerita sedih holding BUMN tambang yang dipimpin Inalum dalam akuisisi 51 persen saham Freeport. Ternyata kesepakatan dengan Freeport lebih banyak buntung ketimbang untung. Dengan memaksakan membayar tunai sebelum kontrak berakhir di 2021, Indonesia telah kehilangan potensi ratusan triliun rupiah pemasukan dari pelanggaran lingkungan Freeport, terpaksa ikut patungan dalam pembangunan smelter, kehilangan pemasukan deviden hingga 3 tahun ke depan, tidak dapatkan kuasa operasi, dan hanya mendapatkan sekitar 18 persen economic benefit selama 4 tahun ke depan. Sementara bunga utang global bond sebesar 5-6 persen dalam dolar AS tetap harus kita bayar sejak tahun ini hingga lunas.

Sebagai penutup, kita akan bandingkan kinerja BUMN pada tahun 2014, awal naiknya Jokowi, dengan kinerja saat ini.

Cara menilai kinerja BUMN yang paling objektif adalah dengan menggunakan rasio-rasio yang paling umum, yaitu dengan mengukur return on equity (ROE) dan return on asset (ROA). Yang mengukur seberapa besar keuntungan yang dihasilkan seluruh BUMN dari modal (ekuitas) dan asset yang dimiliki.

Ternyata, ROE BUMN pada tahun 2018 hanya 7,4 persen, jauh di bawah ROE BUMN pada tahun 2014 yang sebesar 14,3 persen. ROA BUMN tahun 2018 2,3 persen, juga jauh di bawah ROA BUMN tahun 2014 yang sebesar 3,4 persen. Terlihat kinerja memble BUMN kita selama 4 tahun penerintahan Jokowi.

Berdasarkan kisah dan fakta di atas, wajar bila BUMN tidak mampu menjadi mesin yang dapat membawa keluar perekonomian Indonesia dari stagnasinya di level pertumbuhan 5 persen.

Penulis adalah peneliti Pergerakan Kedaulatan Rakyat.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Keempat Kalinya Indonesia Jadi Tuan Rumah PENSA 2026

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:25

OMC Bantu Sejukkan Jakarta

Minggu, 25 Oktober 2026 | 00:02

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

TVRI dan PIM Jajaki Kolaborasi Angkat Kiprah Perempuan Indonesia

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:23

KNMP Kota Sorong Buka Peluang Pasar bagi Nelayan Lokal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:00

Modal Asing Kabur Imbas Sentimen MSCI, BI Jamin Likuiditas Rupiah Memadai

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:44

Kapal Asal Malaysia Bawa 1,16 Ton Ketamin, Dasco Tegaskan Jaga Generasi Muda

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 22:16

BSI Himpun Dana Tabungan Haji Rp18 Triliun, Nasabah Gen Z Naik 30 Persen

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:15

Wilayah Berdekatan, Mengapa Jakarta Lebih Panas Saat Bogor Masih Diguyur Hujan?

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 21:03

KemenHAM Tampilkan Peta Pemenuhan Hak Dasar Hingga Tingkat Desa Berbasis Digital

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 18:35

Selengkapnya