Berita

Monumen Kierkegaard di Kopenhagen, Denmark/Net

Jaya Suprana

Jihad Al Nafs Kierkegaard

JUMAT, 03 MEI 2019 | 08:09 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KOPENGHAGEN tersohor dengan arca putri duyung mungil sebagai monumen tribut bagi mahasastrawan, Hans Christian Andersen, putra terbaik Kopenhagen kebanggaan Denmark.

Namun jarang  yang sadar bahwa masih ada putra terbaik Kopenhagen kebanggaan Denmark lainnya yaitu  Soren Aabye Kierkegaard. 

Teologi


Soren Kierkegaard dilahirkan 5 Mei 1813 di Kopenhagen dan meninggal 11 November 1855 juga di Kopenhagen merupakan penulis, teolog, kritikus budaya dan pemikir Denmark yang berpengaruh terhadap teologi Protestan abad ke-19 dan 20.

Kierkegaard mengeritik gereja pada zamannya karena salah mengartikan tujuan termulia manusia menjadi diri sendiri dalam arti etis dan relijius  sebagai sesuatu yang begitu mudah sehingga terkesan sudah terlaksana bahkan belum.

Inti maknanya terletak pada persyaratan tanpa batas dan kesulitan keberadaan agama pada umumnya dan keimanan Nasrani pada khususnya.

Keraguan


Saya tidak menguasai bahasa Denmark untuk mampu membaca karya-karya Kierkegaard dalam bahasa aslinya maka tidak berani mengaku paham pemikiran Kierkegaard. Namun saya pribadi mengagumi keraguan tanpa henti pemikiran Kierkegaard terhadap pemikiran dirinya sendiri.

Para pemikir berbahasa Jerman kerap menyebut keraguan Kierkegaard sebagai Verzweifelung, kebingungan saling tarik-menarik dari satu pemikiran ke lainnya. Semisal kebingungan tentang menikah atau tidak menikah bagi Kierkegaard sama-sama menimbulkan penyesalan.

Keraguan tanpa henti malah membuat pemikiran Kierkegaard makin dinamis produktif dan konstruktif berkembang demi mencari kesempurnaan di atas keyakinan bahwa tidak ada manusia yang sempurna maka serta merta tidak ada pula pemikiran manusia yang sempurna.

Keyakinan atas ketidaksempurnaan manusia juga saya temui pada pemikiran Taoisme, Schopenhauer, Russel, Whitehead, Wittgenstein serta zat dasar kelirumologi.

Polemik

 
Kesungguhan skeptisme tanpa henti terhadap diri sendiri terungkap pada kenyataan Kierkegaard melakukan diskursus polemik filsafat melawan dirinya sendiri dengan menggunakan berbagai pseudonim alias nama samaran.

Gaya Kierkegaard melakukan interograsi intelektual terhadap dirinya sendiri yang dimuat oleh The Federalist Papers berhasil mengembangkan pemikiran yang tidak pernah mandeg di tempat namun terus berkeliaran dalam kebingungan mencari kebenaran dalam filsafat Nasrani pada abad XIX demi mencari jawaban bagi pertanyaan “Kenapa saya menjadi umat Kristen?”

Tulisan-tulisan Kierkegaard secara keseluruhan, entah dengan nama samaran atau asli, fokus pada memberikan kepercayaan pada penilaian mawas diri sendiri bahwa seluruh jiwa raga pada akhirnya akan berakhir sebagai akhir kehidupan manusia.

Pada hakikatnya dinamika pemikiran Kierkegaard yang kritis terhadap diri sendiri merupakan suatu pengejawantahan Jihad Al Nafs yaitu perjuangan menaklukkan diri sendiri.

Eksistensialisme

Sementara Hegel bersikeras meletakkan segala sesuatu di alam semesta di bawah payung Vernunft alias nalar, Kierkegaard mendekati keimanan sebagai suatu paradoks  mempercayai sesuatu yang berada di luar jangkauan nalar.

Bagi Kierkegaard, keimanan tidak memiliki substans tanpa keraguan. Keimanan sejati justru membutuhkan keraguan.

Dalam merangkul gejolak emosional demi menjunjung tinggi kemanusiaan, kebebasan serta hak-hak individual, Kierkegaard melahirkan suatu aliran pemikiran baru yang merekonsiliasikan nalar abstrak dengan pengalaman nyata yaitu eksistensialisme.

Pemikiran Kierkegaard mempengaruhi Nietzsche, Heidegger, Sartre, Camus, Merleau-Ponty, Tillich.

Di sisi lain, pemikiran Soren Kierkegaard tidak populer di kalangan intelektual gereja Denmark mau pun Vatikan.

Sementara Martin Luther di Jerman melakukan reformasi gereja melalui jalur institusional, Soren Kierkegaard di Denmark melakukan reformasi gereja melalui jalur filsafat.


Penulis adalah pembelajar pemikiran para mahapemikir dunia demi lebih memahami pemikiran Nusantara


Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya