Berita

Fahira Idris/Dok

Politik

Analisis Beban Kerja KPPS Harus Jadi Prioritas Gelaran Pemilu

SENIN, 29 APRIL 2019 | 15:10 WIB | LAPORAN:

Gelaran Pemilu 2019 atau pemilu kelima pascareformasi meninggalkan catatan yang menyesakkan dada.

Pasalnya, sudah ratusan jiwa lebih Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang menghembuskan nyawa dan ribuan yang harus tergeletak sakit akibat kelelahan karena menjalankan tugas mulia melayani hak pilih rakyat.

Gelaran pemilu serentak (pemilu presiden dan pemilu legislatif) yang tidak disertai analisis beban kerja KPPS serta manajamen pemilu yang belum ramah terhadap KPPS dianggap menjadi salah satu faktor terjadinya ‘musibah’ ini.


Wakil Ketua Komite I DPD RI Fahira Idris menyampaikan, salah satu cara negara ini bertanggung jawab dan memberi penghormatan serta penghargaan kepada KPPS yang meninggal adalah mengevaluasi total manajemen penyelenggaraan Pemilu 2019.

"Harusnya, saat Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan bahwa pada Pemilu 2019 harus digelar serentak, para pengambil kebijakan di negeri ini terutama para pembuat UU (pemerintah dan DPR) dan penyelenggara pemilu, terutama KPU memikirkan beban kerja yang akan ditanggung KPPS akibat pemilu digabung," kata Fahira.

"Menggelar Pilpres dan Pileg bersamaan pasti menguras fisik dan psikis KPPS. Tidak hanya membuat proses di TPS menjadi lebih lama, tetapi pasti lebih banyak detil yang harus diperhatikan. Dan ini sangat melelahkan," terangnya.

Oleh karena itu, lanjut Fahira, pemilu 2024 dan seterusnya analisis beban KPPS harus jadi prioritas pelaksaanan pemilu.

"Saya berharap pemilu selanjutnya, pilpres dan pileg dipisah saja," tegasnya.

Menurut Fahira, menjadi KPPS tidak hanya menguras tenaga tetapi juga pikiran atau psikis. Jika merujuk UU 7/2017 tentang Pemilu dan berbagai Peraturan KPU, tanggung jawab dan beban yang harus dipukul petugas KPPS begitu detail dan komprehensif serta harus berhadapan langsung dengan pemilih.

Belum lagi begitu banyaknya deretan aturan sanksi hukum bagi petugas KPPS dalam UU Pemilu.

“Sedikit aja ada kekeliruan sanksi hukum menanti. Hal-hal teknis yang bagi kita kecil, misalnya logistik terlambat sampai ke TPS, menjadi beban pikiran besar bagi KPPS. Belum lagi berbagai protes yang mereka harus terima dari pemilih. Mereka itu ujung tombak pemilu kita," pungkas Senator Jakarta ini.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

Mengapa 2026 adalah Momentum Transformasi, Bukan Resesi?

Senin, 13 April 2026 | 00:01

Armada Pertamina Terus Distribusikan Energi di Tengah Tantangan Global

Minggu, 12 April 2026 | 23:40

KSAL Sidak Kesiapan Tempur Markas Petarung Marinir

Minggu, 12 April 2026 | 23:11

OTT: Prestasi Penegakan Hukum atau Alarm Kegagalan Sistem

Minggu, 12 April 2026 | 22:46

Modus Baru Pemerasan Bupati Tulungagung: Dikunci Sejak Awal

Minggu, 12 April 2026 | 22:22

Ketum Perbakin Jakarta: Brimob X-Treme 2026 Ajang Pembibitan Atlet Nasional

Minggu, 12 April 2026 | 22:11

Isu Kudeta Prabowo Dinilai Bagian Konsolidasi Politik

Minggu, 12 April 2026 | 21:47

KPK Duga Adik Bupati Tulungagung Tahu Praktik Pemerasan

Minggu, 12 April 2026 | 21:28

Brimob X-Treme 2026: Dari Depok untuk Panggung Menembak Dunia

Minggu, 12 April 2026 | 21:08

Polisi London Tangkap 523 Demonstran Pro-Palestina

Minggu, 12 April 2026 | 20:06

Selengkapnya