Berita

Eggi Sudjana/RMOL

Politik

Eggi: Jokowi Penjahat Demokrasi Jika Biarkan Kecurangan Pemilu

JUMAT, 26 APRIL 2019 | 17:58 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

People power yang disuarakan Eggi Sudjana berujung laporan terhadap dirinya ke kepolisian.

Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) itu dilaporkan caleg PDI Perjuangan, Dewi Tanjung ke  Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya atas tuduhan makar. Hari ini, Eggi memenuhi panggilan polisi.

"Dalam kesempatan ini saya ingin lebih tegaskan dulu bahwa statement yang saya berkaitan dengan people power harus dipahami oleh masyarakat luas tidak ada kaitannya dengan makar, tidak ada kaitannya dengan melawan pemerintahan yang sah, enggak ada," tegas Eggy DI Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (26/4).


Eggi menjelaskan, people power dimaksudnya adalah sebuah konsekuensi logis dari tidak adanya respon terhadap kecurangan yang terjadi dalam penyelenggaraan Pemilu 2019.

"Jadi kecurangan ini sudah kita upayakan secara prosedur, datang ke Bawaslu, saya ke Malaysia juga saya temui Dubes, tapi tidak ada respontif yang berharap untuk bisa diselesaikan," ujarnya.

Menurut Eggi, gerakan people power sah mengacu UUD 1945 Pasal 1 Ayat 2 dan 3 yang menyatakan kedaulatan rakyat.

"Bahkan pasal 28 e ayat 3 UUD'45 menyatakan setiap orang berhak berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat. Dan pendapat saya sebagai advokat loh, jangan lupa," katanya.

People power adalah respon atas kecurangan Pemilu 2019 yang masih terus berlangsung hingga hari ini.

"Nggak ada undang undang yang saya langgar, undang undang mana yang saya langgar? Tidak ada," tegasnya.

Menurutnya, gerakan people power hanya bisa dihentikan oleh Jokowi dengan memastikan penyelenggaraan Pemilu 2019 berjalan jurdil.

"Caranya gimnaa, larang KPU jangan begitu kan dia sebagai presiden bukan capres harus berlaku adil untuk rakyat Indonesia. Kalau Jokowi tidak melakukan penghentian kepada cara-cara kotor seperti ini, Jokowi termasuk penjahat demokrasi. Begitu saya kira," tandasnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

UPDATE

DPR Tak Setuju Skema War Tiket Haji Meski Masih Wacana

Minggu, 12 April 2026 | 14:01

PM Carney Tegas Akhiri Ketergantungan Militer Kanada pada AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:52

Pemerintah Tak Perlu Reaktif Respons Usulan JK

Minggu, 12 April 2026 | 13:40

Pembicaraan Damai di Pakistan Gagal Capai Kesepakatan, GREAT Institute: Buah dari Inkonsistensi AS

Minggu, 12 April 2026 | 13:34

Pengawasan Kasus Hukum oleh DPR Bukan Intervensi

Minggu, 12 April 2026 | 13:11

Negosiasi 21 Jam Gagal, Iran Sebut Tuntutan AS Tak Masuk Akal

Minggu, 12 April 2026 | 13:08

Perundingan Damai Iran dan AS Berakhir Tanpa Hasil

Minggu, 12 April 2026 | 12:26

Hasan Nasbi Sebut Pernyataan Saiful Mujani Ajakan Jatuhkan Pemerintah

Minggu, 12 April 2026 | 12:23

Prabowo Harus Singkirkan Menteri Titipan Era Jokowi

Minggu, 12 April 2026 | 12:15

Seluruh Elemen Pemerintahan Jangan Menunda Kepindahan ke IKN

Minggu, 12 April 2026 | 12:01

Selengkapnya