Berita

Arthur Schopernhauer/Net

Jaya Suprana

Parerga Und Paralipomena

JUMAT, 26 APRIL 2019 | 06:36 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

SAMBIL menempuh proses rekonvalensia pasca operasi empedu dan menunggu hasil real count  KPU, saya berkesempatan mempelajari beberapa buku, antara lain mahakarya Arthur Schopenhauer “Parerga und Paralipomena”. Dari nama depannya, terkesan Schopenhauer warga Inggris, ternyata Jerman.

Pada tahun 1851, Schopenhauer menerbitkan dua jilid buku berjudul eksotis Yunani “Parerga und Paralipomena” yang apabila dialihkan ke bahasa Indonesia kira-kira bermakna “Lampiran dan Catatan Susulan” dengan subjudul “kleiner philosophischer Schriften“  yang kira-kira bermakna “Naskah-naskah Kecil Filosofis “ .
JILID PERTAMA

Pada dua jilid buku itu, Schopenhauer justru memperoleh kesempatan untuk mengumbar pemikiran-pemikiran kritis multi kompleks, multi dimensional, multi aspek seolah tak kenal batas. Bahkan terkadang terkesan liar “semau gue”. Misalnya pada jilid pertama terdapat ungkapan pemikiran tentang “Fragmente zur Geschichte der Philosophie“ (Pecah-Pecahan Sejarah Filsafat). Lalu di dalam ulasan Ueber die Universitaets-Philosophie, skeptis menerawang upaya pemfakultasan ilmu filsafat di dalam lembaga universitas. Kenakalan Schopengauer di metafisika di perbatasan dengan parapsikologi dan tahayul tampil pada “Versuch ueber Geistersehen und was damit zusammenhaengt“ sebelum bergaya bijak pada “Aphorismen zur Lebensweisheit” .

Pada dua jilid buku itu, Schopenhauer justru memperoleh kesempatan untuk mengumbar pemikiran-pemikiran kritis multi kompleks, multi dimensional, multi aspek seolah tak kenal batas. Bahkan terkadang terkesan liar “semau gue”. Misalnya pada jilid pertama terdapat ungkapan pemikiran tentang “Fragmente zur Geschichte der Philosophie“ (Pecah-Pecahan Sejarah Filsafat). Lalu di dalam ulasan Ueber die Universitaets-Philosophie, skeptis menerawang upaya pemfakultasan ilmu filsafat di dalam lembaga universitas. Kenakalan Schopengauer di metafisika di perbatasan dengan parapsikologi dan tahayul tampil pada “Versuch ueber Geistersehen und was damit zusammenhaengt“ sebelum bergaya bijak pada “Aphorismen zur Lebensweisheit” .

JILID KE DUA

Di dalam jilid kedua “Parerga und Paralipomena”, pemikiran Schopenhauer makin merajalela berkeliaran ke sana ke mari antara lain dalam naskah  “Über den Selbstmord” yang mengesankan bahwa sebenarnya Schopenhauer seorang pesimistis maka tidak terlalu suka hidup tetapi enggan melakukan bunuh diri. Sindiran terhadap ulah kaum yang disebut sebagai cendekiawan menggeliat di dalam “ Ueber Gelehrsamkeit und Gelehrte”  disusul tentang alam tulis-menulis  “Ueber Schriftstellerei und Stil “  serta tentang tradisi membaca buku di dalam “Ueber Lesen und Bücher “.

UEBER DIE WEIBER

Namun yang paling kontroversial pada masa itu adalah naskah Ueber die Weiber di mana secara tanpa malu-malu Schopenhauer menempatkan dirinya sebagai tokoh lelaki yang memandang rendah kaum perempuan. Dari pilihan istilah Weiber ketimbang Frauen sudah terbukti bahwa Schopenhauer sengaja ingin melecehkan kaum perempuan. Mujur bagi Schopenhauer, naskah Ueber die Weiber dipublikasikan pada pertengahan abad XIX di mana kebudayaan Eropa masih membenarkan superioritas kaum lelaki terhadap perempuan.

Andaikata Ueber die Weiber dipublikasikan pada awal abad XXI di mana anggapan superioritas kaum lelaki sudah dianggap kedaluwarsa ditambah teknologi informasi yang memungkinan penebaran informasi tanpa batas, maka dapat dibayangkan bagaimana dahsyat hujatan dihantamkan ke diri Arthur Schopenhauer oleh para pejuang kesetaraan gender apalagi para tokoh feminis. Memang saya kerap sependapat dengan pemikiran Arthur Schopenhauer, antara lain buku saya Pedoman Menuju Tidak Bahagia secara tak disengaja paralel meski berlawanan arah dengan buku Schopenhauer Die Kunst, gluecklich zu sein.  Namun di dalam buku saya  Kelirumologi Genderisme jelas bahwa saya bertolak belakang pendapat dengan Ueber di Weiber-nya sang mahapemikir Jerman yang saya kagumi ini.

(Penulis adalah pembelajar pemikiran para mahapemikir dunia).

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

TNI AU Bersama RCAF Kupas Konsep Keselamatan Penerbang

Rabu, 04 Februari 2026 | 02:04

Jokowi Dianggap Justru Bikin Pengaruh Buruk Bagi PSI

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:45

Besok Jumat Pandji Diperiksa Polisi soal Materi Mens Rea

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:28

Penguatan Bawaslu dan KPU Mendesak untuk Pemilu 2029

Rabu, 04 Februari 2026 | 01:17

Musorprov Ke-XIII KONI DKI Diharapkan Berjalan Tertib dan Lancar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:56

Polisi Tetapkan Empat Tersangka Penganiaya Banser, Termasuk Habib Bahar

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:41

DPR Minta KKP Bantu VMS ke Nelayan Demi Genjot PNBP

Rabu, 04 Februari 2026 | 00:17

Kejagung Harus Usut Tuntas Tipihut Era Siti Nurbaya

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:49

Begini Alur Terbitnya Red Notice Riza Chalid dari Interpol

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:25

Penerapan Notaris Siber Tak Optimal Gegara Terganjal Regulasi

Selasa, 03 Februari 2026 | 23:11

Selengkapnya