Berita

Enggartiasto Lukita/Net

Politik

Sumber Suap BSP Dari Menteri Enggar, Ini Menguatkan Dugaan Politik Uang Untuk Pilpres

SENIN, 22 APRIL 2019 | 14:46 WIB | LAPORAN: FAISAL ARISTAMA

. Pengakuan tersangka dugaan suap distribusi pupuk, Bowo Sidik Pangarso (BSP) yang mendapatkan uang Rp 2 miliar dari Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita patut diduga berkaitan dengan partai kolaisi yang bertarung pada Pilpres 2019.

Hal itu diperkuat dengan BSP yang notabene politisi Golkar dan Menteri Enggar merupakan kader Nasdem. Belum lagi, BSP menyebut ada keterlibatan Nusron Wahid selaku Ketua Bapilu (Badan Pemenangan Pemilu) Jawa dan Kalimantan Golkar yang menyiapkan uang Rp 8 miliar telah diamankan KPK untuk serangan fajar Pemilu 2019.

"Mendag Enggar ini kan Partai Nasdem, sementara Bowo Sidik orang Golkar dan juga ngaku disuruh oleh Nusron Wahid. Jadi kita melihat ini ada keterkaitan dengan koalisi, bahkan bukan sekedar partai. Ini dugaan kita adalah keras dipersiapkan untuk Pilpres," kata Jubir BPN Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean kepada redaksi, Senin (22/4).


Menurutnya, dugaan keterkaitan antara Menteri Enggar, BSP dan Nusron Wahid akan sulit dibantah bahwa mereka berada dalam sebuah wadah yang sama yaitu partai koalisi pengusung pasangan Jokowi-Maruf. Terlebih, KPK telah mengungkap ratusan ribu amplop senilai Rp 8 miliar yang akan digunakan untuk Pemilu 2019 didapati setempel cap jempol yang identik dengan paslon 01 Jokowi-Maruf.

"Karena ada rantai penghubung antar partai untuk menyediakan dana ini. Maka, menjadi selaras kemudian amplop-amplop itu ada simbol jempolnya. Berarti dana ini dugaan kita adalah keras dipersiapkan untuk Pilpres," ujar Ferdinand.

Lebih lanjut, politisi Demokrat ini meminta KPK untuk mengusut tuntas dugaan suap Rp 2 miliar dolar Singapura sebagaimana pengakuan BSP didapat dari Menteri Enggar. Selain itu, Bawaslu juga perlu turun tangan karena diduga telah terjadi praktik politik uang pada Pilpres.

"Saya pikir ini perlu pendalaman lebih jauh, tidak boleh hanya dimaknai sebagai suap saja. Tetapi ini harus dilihat juga sebagai politik uang yang terkait dengan Pilpres. Jadi, kita minta Bawaslu dan KPK untuk menindaklanjuti ini secara detail dan seksama karena politik kita tidak boleh menggunakan cara-cara seperti ini," tutup Ferdinand.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Tambahan Dana BBM Subsidi Tembus Rp2 Triliun per Hari

Jumat, 10 April 2026 | 02:02

HIPKA Dorong Kepercayaan Pengusaha di Tengah Ketidakpastian Global

Jumat, 10 April 2026 | 01:26

Warga Dunia Khawatir Konflik Iran-Israel Kembali Pecah

Jumat, 10 April 2026 | 01:19

Perlu Hitungan Matang Jaga Ketahanan BBM

Jumat, 10 April 2026 | 01:04

Sandiaga Uno Raih Penghargaan Muzakki Teladan Berdampak

Jumat, 10 April 2026 | 00:31

Prabowo Cerdas Sikapi Wacana Impeachment

Jumat, 10 April 2026 | 00:18

Masa Depan Jakarta Ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 00:05

Gencatan Senjata Iran-Israel Bukan Akhir Konflik, Indonesia Wajib Waspada

Kamis, 09 April 2026 | 23:41

Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba Butuh Pemimpin Baru

Kamis, 09 April 2026 | 23:24

MRT Adalah Game Changer Transformasi Kota Tua Jakarta

Kamis, 09 April 2026 | 23:03

Selengkapnya