Berita

Foto/Net

Politik

Telan Banyak Korban, Evaluasi Pemilu 2019!

29 Petugas KPPS & 10 Polisi Meninggal
SENIN, 22 APRIL 2019 | 09:13 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemilu 2019 banyak menelan korban. Sejumlah petu­gas KPPS dan personel Polisi yang sedang bertugas memastikan kelancaran pesta demokrasi, meninggal dunia. Melihat kondisi ini, Komisi II DPR meminta agar teknis pelaksanaan Pemilu dievaluasi.

Para petugas KPPS yang dilaporkan meninggal sebagian besar berasal dari Jawa. Rinciannya, di Jawa Barat di­laporkan ada 12 orang meninggal. Kemudian di Jawa Tengah 8 orang dan di Jawa Timur 9 orang. Sedangkan untuk personel Polisi, dilaporkan ada 10 orang meninggal.

Penyebabnya macam-macam. Ada yang terkena serangan jan­tung, sakit, sampai keguguran setelah bertugas di hari pencoblosan, 17 April kemarin. Yang jelas, kerja mereka sangat mele­lahkan. Di banyak daerah, para petugas bekerja nonstop selama lebih dari sehari semalam untuk menyelesaikan pemungutan sampai penghitungan suara.


Wakil Ketua Komisi II Herman Khaeron mengatakan, sejak awal pihaknya sudah mengingatkan mengenai be­ratnya kerja di TPS. Pihaknya telah meminta KPU menggelar simulasi yang terukur terkait beban waktu pencoblosan dan perhitungan suara. Simulasi itu untuk memastikan waktu kerja relevan dengan beban kerja.

"Sejak awal kami meminta KPU menyelenggarakan simu­lasi yang terukur dan cermat atas beban waktu pencoblosan maupun perhitungan suara. Ini terkait dengan Undang-Undang (UU) Pemilu dan peraturan turunannya yang wajib selesai dalam hari itu juga dan kemu­dian MK menambah 12 jam dengan syarat berturut-turut dan tanpa jeda. Waktu kerja tersedia harus relevan dengan beban kerja," jelas pentolan Partai Demokrat ini.

Komisi II juga telah meminta KPU menyediakan asuransi bagi KPPS. Sebab, beban kerja mereka begitu berat.

"Kami sebenarnya telah mengusulkan adanya insentif atau honor yang memadai dan asuransi bagi penyelenggara Pemilu ad hoc. Karena mereka lah yang bekerja keras mem­persiapkan dan melaksanakan Pemilu," jelas salah satu orang kepercayaan SBY ini.

Dengan banyaknya korban ini, kata dia, teknis pelaksanaan pemungutan suara harus di­evaluasi. Pihaknya juga mewa­canakan merevisi UU Pemilu. Komisi II berpendapat, Pileg dan Pilpres sebaiknya dipisah.

"Mungkin juga ke depan se­baiknya Pemilu Legislatif dipi­sahkan dengan Pemilu Presiden. Bisa saja Pemilu Presiden dapat serentak dengan Pilkada. Kita lihat perkembangan situsi politik ke depan," tutup politisi asal Cirebon ini.

Wakil Ketua Komisi II Mardani Ali Sera berpendapat sama. "Ini darurat. Nyawa ma­nusia tidak seimbang dengan pelaksanaan demokrasi sebesar apa pun. Harus ada evaluasi SOP menyeluruh," ucap pentolan PKS ini.

Dia menduga, jumlah korban sebenarnya lebih banyak. Hanya saja, para korban itu tidak ter­laporkan semua. "Data yang ada belum tentu semua terlaporkan. Kita harus amat menyayangi se­mua pejuang demokrasi," tutur politisi asal Bekasi ini.

Mardani menegaskan, nyawa manusia tak sebanding den­gan pesta demokrasi. Karena itu, penyelenggaraan Pemilu harus dievaluasi. Penyelenggara Pemilu dilakukan dengan ra­mah dan tidak melelahkan. Penyelenggaraan Pemilu tidak boleh menimbulkan korban, apalagi sampai nyawa.

Mengenai revisi UU Pemilu, Mardani mengakui agak berat. Soalnya, aturan Pemilu seren­tak adalah Putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam keta­tanegaraan, putusan MK bersifat final dan mengikat.

Namun begitu, dia yakin ada peluang untuk melakukan re­visi. Bahkan, peluangnya sangat terbuka. "Sangat berpeluang. Walau itu menyangkut keputu­san MK," tutupnya.

KPU juga sudah bersikap mengenai adanya petugas KPPS yang meninggal saat bertugas. KPU berjanji segera mengevaluasi pelaksaan pemungutan dan penghitungan suara. "Ya, nanti kita evaluasi," janji Ketua KPU Arief Budiman, saat diwawan­carai wartawan, di Kantor KPU, Jakarta Pusat, Sabtu lalu.

"Memang pekerjaannya berat, memang pekerjaannya banyak. Maka, ya orang sangat mungkin kelelahan dalam menjalankan tugas," sambungnya.

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

UPDATE

Tambahan Dana BBM Subsidi Tembus Rp2 Triliun per Hari

Jumat, 10 April 2026 | 02:02

HIPKA Dorong Kepercayaan Pengusaha di Tengah Ketidakpastian Global

Jumat, 10 April 2026 | 01:26

Warga Dunia Khawatir Konflik Iran-Israel Kembali Pecah

Jumat, 10 April 2026 | 01:19

Perlu Hitungan Matang Jaga Ketahanan BBM

Jumat, 10 April 2026 | 01:04

Sandiaga Uno Raih Penghargaan Muzakki Teladan Berdampak

Jumat, 10 April 2026 | 00:31

Prabowo Cerdas Sikapi Wacana Impeachment

Jumat, 10 April 2026 | 00:18

Masa Depan Jakarta Ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu

Jumat, 10 April 2026 | 00:05

Gencatan Senjata Iran-Israel Bukan Akhir Konflik, Indonesia Wajib Waspada

Kamis, 09 April 2026 | 23:41

Badan Pelaksana Otoritas Danau Toba Butuh Pemimpin Baru

Kamis, 09 April 2026 | 23:24

MRT Adalah Game Changer Transformasi Kota Tua Jakarta

Kamis, 09 April 2026 | 23:03

Selengkapnya